KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (
CUAN) berpotensi raih kinerja keuangan yang lebih baik di tahun 2026. Hal tersebut seiring kenaikan harga batubara dan ekspansi bisnis yang dilakukan emiten terafiliasi Prajogo Pangestu tersebut. Sekedar mengingatkan, CUAN mencatatkan kenaikan pendapatan 51,63%
year on year (YoY) menjadi US$ 1,22 miliar pada 2025. Sebagian besar pendapatan CUAN pada 2025 berasal dari penjualan batubara sebesar US$ 423,44 juta. CUAN juga memperoleh kontribusi pendapatan yang besar dari segmen konstruksi dan rekayasa sebesar US$ 358,98 juta dan penambangan sebesar US$ 354,84 juta.
Bersamaan dengan itu, beban pokok pendapatan CUAN naik 54,37% yoy menjadi US$ 1,06 miliar pada 2025. Beban keuangan CUAN juga melesat 96,18% yoy menjadi US$ 96,07 juta pada 2025.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham 9 Emiten Yang Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi Hingga akhir 2025, CUAN membukukan laba neto yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 134,57 juta atau menyusut 16,31% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, kenaikan pendapatan yang diraih CUAN pada 2025 cukup dipengaruhi oleh konsolidasi hasil akuisisi. Sebaliknya, kinerja
bottom line CUAN tertekan seiring tingginya biaya operasional, biaya integrasi, dan lonjakan beban keuangan untuk mendanai aksi ekspansi atau akuisisi yang agresif sepanjang tahun lalu. CUAN tentu berpeluang meningkatkan kembali kinerjanya, baik dari sisi
top line maupun
bottom line, mengingat harga batubara yang tinggi bakal melebarkan margin emiten tersebut pada 2026.
Baca Juga: Siap-Siap! Bobot Saham Indonesia di MSCI Terancam Dipangkas Strategi utama yang perlu dioptimalkan CUAN pada tahun ini adalah integrasi operasional antara aset tambang milik sendiri dengan lini jasa kontraktor pertambangan. “Hal ini untuk menekan
cash cost dan mengoptimalkan volume produksi,” ujar dia, beberapa waktu lalu. Wafi juga mengapresiasi langkah CUAN yang gencar melakukan diversifikasi bisnis, salah satunya ke mineral strategis untuk mengurangi ketergantungan pada batubara termal sekaligus memperbaiki profil Environmental Social Government (ESG). Sebelumnya, PTRO bersama PT Petrosea Tbk (
PTRO) mengajukan binding offer kepada Tolu Minerals Limited pada 16 Maret 2026 terkait rencana pembelian surat utang konversi (
convertible note) senilai US$ 23,75 juta yang dapat dikonversi menjadi kepemilikan saham sekurang-kurangnya 4,99% di Tolu Minerals. Perusahaan ini tercatat di Australian Securities Exchange (ASX) dan mengoperasikan Tambang Emas Tolukuma di Papua Nugini serta memiliki portofolio eksplorasi di kawasan Cincin Emas Pasifik.
CUAN diyakini akan terus melakukan ekspansi di luar segmen batubara. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan CUAN ketika ekspansi yaitu manajemen rasio utang dan kelancaran integrasi operasional aset yang baru diakuisisi agar segera mencetak laba.
Lantas, Wafi merekomendasikan
trading buy saham CUAN dengan target harga di level Rp 1.300 per saham. Secara terpisah, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan
buy on weakness saham CUAN dengan support di level Rp 995 per saham dan resistance di level Rp 1.125 per saham serta target harga di level Rp 1.220—Rp 1.315 per saham. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/4), harga saham CUAN melorot 7,52% ke level Rp 1.045 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News