KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi penyuntikan modal ke anak usaha menjadi salah satu langkah yang ditempuh sejumlah emiten untuk memperkuat fondasi bisnis sekaligus membuka ruang pertumbuhan baru. Namun, efektivitas aksi korporasi tersebut tetap bergantung pada kemampuan anak usaha mengubah tambahan dana menjadi pendapatan dan arus kas. Terbaru, emiten BUMN di sektor pengelola jalan tol, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menyuntikkan modal ke anak usaha, PT Jasamarga Jalanlang Cikampek (JJC) sebesar Rp 6,54 triliun. Penambahan modal tersebut dilakukan melalui skema shareholder loan. Kemudian, emiten di sektor konsumer Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) menginjeksi tambahan dana terhadap dua anak usaha dengan total Rp 325 miliar. Langkah tersebut dilakukan untuk menambah kapasitas fasilitas produksi sekaligus memperkuat modal kerja perusahaan.
Emiten lainnya juga melakukan aksi serupa, mulai dari PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) dan PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV). Masing-masing emiten tersebut tercatat menambah modal ke anak usaha senilai US$ 4,7 juta, Rp 40,7 miliar dan Rp 98 miliar.
Baca Juga: UU Reforma Agraria Disahkan, Land Bank Emiten Properti Terancam? Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan dampak dari penambahan modal tersebut sangat bergantung pada tujuan penggunaan dana dan kemampuan anak usaha menghasilkan return. Untuk JSMR, shareholder loan Rp 6,54 triliun kepada JJC digunakan terutama untuk kebutuhan refinancing dan operasional, sehingga dampak langsungnya lebih ke optimalisasi struktur pendanaan daripada tambahan laba dalam jangka pendek. Sementara pada CMRY, tambahan Rp 325 miliar lebih ekspansif karena Rp 200 miliar digunakan untuk peningkatan kapasitas produksi Macroprima dan Rp 125 miliar untuk ekspansi pusat distribusi serta modal kerja Macrosentra. "Ini berpotensi memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan dalam jangka menengah," kata Alrich kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menyampaikan secara umum injeksi modal ke anak usaha bisa positif jika digunakan untuk ekspansi produktif, seperti menambah kapasitas, distribusi, atau mempercepat proyek. "Dampaknya mungkin tidak langsung ke laba induk, tetapi peningkatan kinerja anak usaha nantinya akan terkonsolidasi ke grup. Jadi yang penting bukan hanya besarnya dana, tetapi seberapa cepat menghasilkan tambahan pendapatan dan cash flow," ucap Elandry.
Baca Juga: Rupiah Lesu, Ini Dampaknya ke Emiten yang Punya Utang Dolar AS Awas Ada Risiko
Di sisi lain, Alrich mengingatkan aksi korporasi seperti itu berpotensi menimbulkan risiko. Risiko utamanya adalah capital allocation risk, yaitu ketika dana induk terus dialirkan ke anak usaha tetapi return yang dihasilkan tidak sebanding dengan modal yang ditanamkan. Untuk shareholder loan seperti JSMR, perlu dilihat kemampuan anak usaha membayar kembali pinjaman dan biaya pendanaannya. Sedangkan untuk penambahan modal, investor perlu melihat apakah ekspansi benar-benar menghasilkan pertumbuhan revenue, EBITDA dan free cash flow. Maka, Alrich berpendapat indikator pentingnya bukan sekadar berapa besar dana yang disuntikkan, tetapi berapa besar incremental return yang dihasilkan dari dana tersebut. Sementara itu, Elandry menambahkan bahwa risiko akan muncul jika ekspansi yang dilakukan tidak menghasilkan return sesuai ekspektasi. Untuk skema shareholder loan seperti JSMR, ia menyarankan agar investor mencermati tingkat leverage, beban bunga, serta arus kas perusahaan induk. Di samping itu, ia mengingatkan bahwa penggunaan kas internal juga memiliki opportunity cost, mengingat dana tersebut sejatinya bisa dialokasikan untuk pembagian dividen, aksi buyback, atau kebutuhan korporasi lainnya.
CMRY dan JSMR Jadi Pilihan
Dari beberapa nama tersebut, Elandry lebih mencermati CMRY dan JSMR. Pasalnya, CMRY menarik karena tambahan modal langsung menyasar kapasitas produksi dan distribusi sehingga efek ke pertumbuhan penjualan relatif lebih jelas. JSMR menarik dari recurring income bisnis jalan tol dan optimalisasi aset, meski leverage dan biaya bunga tetap perlu dicermati. SMDR dan DOID lebih sensitif terhadap siklus industri dan kondisi global. Adapun Alrich mengungkapkan CMRY menarik dari sisi growth story, karena suntikan modal diarahkan ke penambahan kapasitas produksi dan distribusi. Fundamental induknya juga relatif kuat, sehingga berpotensi memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan kinerja grup. JSMR menarik dari sisi cash flow dan recurring income, karena bisnis jalan tol memiliki karakter pendapatan yang relatif berulang. Katalis berikutnya adalah pertumbuhan trafik, penyesuaian tarif dan ekspansi portofolio jalan tol.
Baca Juga: Rights Issue Marak, Emiten Bidik Dana Segar untuk Ekspansi dan Akuisisi Sebagai alternatif lain, SMDR juga menarik untuk dipantau karena suntikan modal relatif kecil dibandingkan skala bisnis dan diarahkan untuk memperkuat bisnis properti serta pelayaran. Selain itu, SMDR masih memiliki ruang ekspansi armada, di mana per September perseroan telah menghimpun Rp1,75 triliun dari target Rp2 triliun sukuk berkelanjutan. Sementara DOID lebih bersifat growth investment karena dana US$4,7 juta diarahkan ke Grup Moura Materials di Australia. Namun karena nilai transaksi tersebut mencapai 188,22% dari ekuitas per 30 Juni 2026, Alrich melihat risikonya juga perlu dicermati lebih ketat dari sisi capital allocation dan leverage.
Rekomendasi Saham
Alrich merekomendasikan untuk mencermati CMRY dan JSMR dengan masing-masing target harga Rp 4.850 dan Rp 3.040. Di samping itu, Elandry menyarankan untuk investor melihat CMRY dengan target Rp5.500–Rp6.000, ditopang ekspansi kapasitas dan distribusi. Sementara, JSMR target harga di level Rp3.800–Rp4.000, dengan katalis pertumbuhan traffic, penyesuaian tarif dan optimalisasi aset tol. Sementara SMDR lebih cocok untuk trading selektif, serta DOID masih perlu dicermati dari sisi siklus komoditas dan return dari ekspansinya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News