KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten dari lintas sektor ramai melakukan transaksi afiliasi berupa suntikan modal ke anak usaha pada awal Januari 2026. Misalnya, PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) menambah modal ke anak usaha PT Fortuna Medika Jakarta senilai Rp 2,34 miliar dan PT Fortuna Maju Medika lewat senilai Rp 25,33 miliar. Suntikan modal senilai total Rp 27,67 miliar itu dilakukan melalui konversi utang. Kemudian, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) juga menyetorkan modal ke sejumlah anak usaha dengan total senilai Rp 1,2 triliun. PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menyuntikan modal tambahan kepada entitas usahanya yaitu PT Duta Mitra Solusindo sebesar Rp 20 miliar.
PT United Tractors Tbk (UNTR) melaporkan penambahan modal senilai total Rp 554, 28 miliar ke entitas anak usaha. PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) juga menambah modal Rp 180 miliar ke anak usaha. Lalu, PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), PT Indointernet Tbk (EDGE) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) juga melakukan penambahan modal ke anak usaha masing-masing Rp 334,84 miliar, Rp 283 miliar dan Rp 250 miliar. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan aksi suntikan modal ke anak usaha umumnya berdampak positif secara fundamental karena memperkuat struktur permodalan, mempercepat ekspansi, dan meningkatkan fleksibilitas bisnis anak usaha, terutama bila dilakukan melalui konversi utang yang juga memperbaiki leverage konsolidasian. Namun dari sisi pasar saham, sentimennya cenderung netral hingga moderat positif karena investor tetap menunggu bukti bahwa tambahan modal tersebut mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba dan arus kas yang berkelanjutan.
Baca Juga: Anak Usaha BUMA International Grup (DOID) Suntik Modal US$ 46,50 Juta ke BUMA SG Dari daftar tersebut, Abida melihat emiten UNTR dan SMRA relatif paling menarik secara fundamental. Menurutnya, UNTR didukung neraca sangat kuat, diversifikasi bisnis seperti alat berat, tambang, energi, serta arus kas solid. Sementara SMRA diuntungkan oleh siklus pemulihan properti residensial dan recurring income yang membaik dari segmen mal dan township, sehingga suntikan modal berpotensi langsung menopang ekspansi dan kinerja ke depan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai suntikan modal tersebut memiliki peran penting untuk mendukung ekspansi bisnis emiten. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pergerakan harga saham masih perlu dicermati secara lebih hati-hati, mengingat kondisi pasar domestik yang masih sangat volatil. Menurut Nafan, perhatian investor ke depan akan tertuju pada kinerja laporan keuangan penuh tahun buku 2025, termasuk kebijakan dividen yang akan dibagikan. Kedua faktor tersebut dinilai akan menjadi penentu utama apresiasi pergerakan harga saham selanjutnya. Dari sisi fundamental, apabila kinerja emiten terkait pada kuartal III-2025 tercatat solid, maka membuka peluang bagi emiten untuk membukukan kinerja yang lebih positif pada kuartal IV-2025, baik dari sisi pendapatan maupun laba. Di sisi lain, pemberian tambahan modal untuk memperkuat anak usaha ini dinilai sejalan dengan tren penurunan suku bunga acuan yang berpotensi menekan biaya pinjaman (reduction of borrowing cost), sehingga mendukung ekspansi bisnis.
Baca Juga: Matahari Putra Prima (MPPA) Suntik Modal ke Anak Usaha Rp 46,65 Miliar “Situasi ini berdampak positif terhadap daya tahan emiten sekaligus berpotensi mendorong peningkatan kinerja perusahaan ke depan,” pungkas Nafan.
Rekomendasi Saham Abida merekomendasikan buy UNTR dengan target harga Rp 32.000, didukung valuasi yang masih atraktif dan visibilitas laba yang kuat. Sementara untuk SMRA, Abida menyarankan buy dengan target harga Rp 800, seiring prospek pemulihan sektor properti dan potensi pertumbuhan laba dua digit dalam 1 tahu hingga 2 tahun ke depan. Nafan masih merekomendasikan wait and see untuk saham-saham yang melakukan penambahan modal.
Baca Juga: Adi Sarana Armada (ASSA) Suntik Modal Rp 20 Miliar ke Anak Usaha Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News