Emiten Ritel Catat Rapor Hijau di 2025, Cek Prospek & Rekomendasi Sahamnya di 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas emiten sektor ritel berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang tahun 2025. 

Sejumlah perusahaan yang membukukan kinerja positif antara lain PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), serta PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Namun, tidak semua emiten ritel membukukan hasil yang sama. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) justru mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 25,03% secara tahunan menjadi Rp 668,72 miliar pada 2025.


Baca Juga: IHSG Cenderung Sideways pada Rabu (8/4), Ini Rekomendasi Sahamnya

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan kinerja emiten ritel yang tumbuh pada 2025 didorong oleh kombinasi pemulihan konsumsi, strategi ekspansi, dan efisiensi operasional, meskipun daya beli belum sepenuhnya kuat. 

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, daya beli konsumen segmen menengah ke atas masih cukup tangguh dan relatif tahan terhadap tekanan inflasi.

Kondisi ini tercermin pada kinerja emiten seperti MAPI, MAPA dan ERAA.

"Untuk kelompok ritel minimarket seperti AMRT dan MIDI, pertumbuhan kinerja terutama ditopang oleh ekspansi gerai yang agresif serta permintaan yang tetap solid untuk produk kebutuhan pokok," ujar Wafi.

Baca Juga: Cermati Saham Rekomendasi Analis Saat IHSG Terdampak Pelemahan Rupiah dan Perang

Di sisi lain, penurunan kinerja ACES dinilai dipengaruhi oleh normalisasi belanja perlengkapan rumah tangga dan produk gaya hidup setelah lonjakan permintaan pada masa pandemi.

Selain itu, terdapat pula pergeseran prioritas konsumsi masyarakat yang ikut menekan penjualan perseroan.

Prospek Emiten Ritel di Tahun 2026

Untuk prospek jangka pendek khususnya kuartal II-2026, Azis melihat outlook kinerja peritel masih positif namun cenderung selektif.

Dari sisi pendukung, terdapat faktor musiman seperti Lebaran, ekspansi gerai, inovasi produk, serta potensi perbaikan daya beli seiring likuiditas dan stimulus yang mulai terasa. 

"Namun, risiko utama berasal dari geopolitik terutama harga energi, pelemahan rupiah, dan tekanan inflasi yang bisa kembali menekan konsumsi, terutama di segmen discretionary," ucap Azis kepada Kontan, Selasa (7/4/2026).

Baca Juga: IHSG Melemah 0,26% ke 6,971 pada Selasa (7/4), ADMR, ANTM, ADRO Top Losers LQ45

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama juga mengamini dari sisi sentimen, konsumsi masih ditopang efek Lebaran, inflasi yang relatif terkendali, serta ekspansi gerai dan digitalisasi. 

"Tetapi, tekanan daya beli kelas menengah, kenaikan biaya hidup, dan kompetisi harga yang makin ketat membatasi pertumbuhan. Selain itu, high base effect 2025 membuat ruang kenaikan lebih terbatas, dengan risiko pelemahan konsumsi pasca Lebaran," ucap Elandry.

Disisi lain, Wafi bilang sentimen pemberat kinerja emiten ritel ialah depresiasi rupiah yang bisa meningkatkan beban pokok, terutama pada produk impor seperti MAPI, MAPA dan ERAA. Tak hanya itu, inflasi pangan juga dapat menekan daya beli pada masyarakat segmen kelas menengah hingga bawah.