KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor kesehatan, khususnya emiten rumah sakit, diperkirakan masih mampu mencatat pertumbuhan yang konsisten meski dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari tekanan klaim BPJS hingga kenaikan biaya alat dan bahan medis akibat pelemahan rupiah serta ketegangan geopolitik global. Analis Bahana Sekuritas, Arvin Lienardi mengatakan sektor kesehatan relatif minim terdampak perubahan regulasi pemerintah sehingga menawarkan prospek pertumbuhan yang lebih stabil dibandingkan sektor lainnya. Di sisi lain, Arvin mengatakan pelaku pasar masih mencermati perkembangan sejumlah kebijakan kesehatan pemerintah, termasuk implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dan skema Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG) yang diproyeksikan menggantikan sistem pembayaran INA-CBG.
Baca Juga: Solusi Bangun Indonesia Operasikan Fasilitas Ekspor di Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen Arvin memperkirakan implementasi KRIS dan iDRG baru akan berjalan pada 2027 seiring pemerintah yang masih memfinalisasi struktur tarif baru bagi layanan kesehatan. Namun, dampak kebijakan tersebut terhadap emiten rumah sakit swasta relatif terbatas karena pertumbuhan sektor saat ini semakin ditopang oleh pasien non-BPJS dan layanan dengan kompleksitas yang lebih tinggi seperti pengembangan Pusat Layanan Unggulan atau Center of Excellence (CoE). Selain itu, kondisi industri asuransi swasta yang semakin sehat juga menjadi katalis positif bagi pertumbuhan pasien non-BPJS. Rasio klaim perusahaan asuransi utama tercatat membaik menjadi sekitar 74% dari sebelumnya 76% pada 2025. Meski demikian, sektor rumah sakit masih menghadapi tekanan dari klaim BPJS Kesehatan yang berpotensi memengaruhi kinerja operasional. "Risiko sektor utama berasal dari meningkatnya biaya barang habis pakai medis termasuk obat-obatan, jarum suntik, dan gas medis yang didorong oleh depresiasi rupiah dan ketegangan Timur Tengah yang sedang berlangsung," tulis Arvin dalam risetnya tertanggal 5 Juni 2026. Menurut Arvin, sebagian besar rumah sakit sejauh ini masih mampu meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada pasien. Namun, apabila inflasi biaya berlanjut dan tidak lagi dapat dialihkan kepada pasien, margin keuntungan berpotensi tertekan. Untuk meredam dampaknya, sejumlah penyedia layanan kesehatan mulai mencari alternatif pemasok dengan harga yang lebih kompetitif. Risiko tersebut juga berpotensi berkurang apabila ketegangan geopolitik mereda sehingga biaya input kembali stabil. Di tengah tantangan tersebut, Arvin menjadikan Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) sebagai pilihan utama. Pada kuartal I-2026, MIKA membukukan pendapatan Rp 1,36 triliun atau tumbuh 6,63% secara tahunan. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 4,77% menjadi Rp 325,8 miliar. Arvin menilai pertumbuhan MIKA didorong oleh peningkatan jumlah pasien swasta, bertambahnya kasus perawatan kompleks, serta pengembangan Center of Excellence di jaringan rumah sakitnya, terutama di Jabodetabek dan Surabaya. Selain itu, pembukaan rumah sakit baru dengan layanan tingkat lanjut di BSD dan Malang diperkirakan menjadi katalis tambahan bagi pertumbuhan kinerja perseroan. Pilihan berikutnya adalah Siloam International Hospitals Tbk (SILO). Pada kuartal I-2026, SILO membukukan pendapatan Rp 2,55 triliun atau meningkat 8,4% secara tahunan. Laba bersih SILO juga tumbuh 14,8% menjadi Rp 293,6 miliar. Menurut Arvin, strategi ekspansi SILO mulai menunjukkan hasil yang tercermin pada kinerja kuartal IV-2025 dan kuartal I-2026. Ke depan, pertumbuhan volume pasien akan ditopang oleh pengembangan rumah sakit yang baru dibuka di Surabaya dan Semarang Srondol. SILO juga berencana menambah peralatan medis canggih berupa CT-LINAC yang diklaim menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas penetrasi layanan sekaligus memperkuat posisi SILO di berbagai kategori layanan kesehatan. Sementara itu, Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) menempati posisi ketiga dalam daftar emiten rumah sakit unggulan versi Bahana. Pada kuartal I-2026, HEAL mencatat pendapatan Rp 1,78 triliun atau tumbuh 5,4% secara tahunan. Namun, laba bersih turun menjadi Rp 101,3 miliar dari Rp 124,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Arvin menilai kinerja HEAL masih dibayangi ketidakpastian terkait transformasi BPJS Kesehatan yang berpotensi memengaruhi profitabilitas segmen BPJS. Namun, HEAL terus memperluas layanan pasien swasta melalui pengembangan CoE baru dan memanfaatkan potensi rujukan dari ekosistem Astra dan Djarum. Arvin juga melihat peluang peningkatan kepemilikan saham oleh Astra yang saat ini menguasai sekitar 20% saham HEAL sejalan dengan fokus strategis grup tersebut pada sektor kesehatan.
Arvin merekomendasikan buy untuk MIKA dengan target harga Rp 2.400 per saham. Sementara itu, SILO direkomendasikan buy dengan target harga Rp 3.100 per saham dan HEAL dengan target harga Rp 1.380 per saham. Untuk jangka menengah, investor perlu mencermati perkembangan ekspansi emiten rumah sakit serta arah transformasi BPJS Kesehatan yang diperkirakan akan menjadi salah satu faktor penentu kinerja sektor kesehatan pada 2027.
Baca Juga: BI Kerek Bunga, Harga Pertamax Naik & Program MBG Diubah, Daftar Pilihan Saham Diubah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News