Emiten Tambang dan Migas Terus Genjot Belanja Eksplorasi, Ini Dampaknya ke Saham



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belanja eksplorasi menjadi salah satu strategi emiten pertambangan dan minyak dan gas bumi (migas) untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus memperpanjang umur tambang dan lapangan migas. Meski dapat menekan arus kas dalam jangka pendek, pengeluaran tersebut berpotensi menambah cadangan, meningkatkan produksi, dan mendukung pertumbuhan laba dalam jangka panjang.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, manfaat belanja eksplorasi bergantung pada keberhasilan penemuan sumber daya, biaya eksplorasi, serta kemampuan perusahaan mengonversi sumber daya menjadi cadangan yang layak secara ekonomis.

“Dalam jangka pendek, pengeluaran ini dapat menekan arus kas, tetapi dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan cadangan, produksi, dan laba,” kata Sukarno kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).


Baca Juga: CDS Indonesia Masih Fluktuatif, Risiko Investasi Masih Dibayangi Sentimen Global

Sejumlah emiten telah mengalokasikan dana untuk kegiatan eksplorasi sepanjang 2026. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), misalnya, menghabiskan US$ 8,5 juta untuk eksplorasi selama Januari hingga September 2026. Sementara itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat biaya eksplorasi Rp 34,9 miliar pada kuartal III 2026.

Di sektor batubara, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mencatat biaya eksplorasi Rp 6,51 miliar, sedangkan PT Indika Energy Tbk (INDY) mengeluarkan Rp 15,57 miliar. Adapun PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatat biaya eksplorasi Rp 7,86 miliar.

Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjalankan kegiatan eksplorasi melalui sejumlah anak usahanya. Di sektor migas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengalokasikan sekitar Rp 38,56 miliar untuk pengeboran sumur pengembangan dan eksplorasi.

Namun, realisasi manfaat eksplorasi tidak selalu berjalan sesuai jadwal. PT Darma Henwa Tbk (DEWA), misalnya, masih menghadapi kendala perizinan dalam kegiatan eksplorasi tembaga di proyek Upper Tengkereng.

Menurut Sukarno, keterlambatan perizinan dapat menggeser jadwal eksplorasi dan memperpanjang waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari proyek. Selain itu, risiko teknis, kebutuhan pendanaan, dan volatilitas harga komoditas juga dapat memengaruhi realisasi manfaat eksplorasi hingga 2027.

“Kami melihat prospek eksplorasi hingga 2027 tetap positif bagi emiten dengan kualitas aset dan prospek komoditas yang mendukung. Namun, realisasi manfaatnya berpotensi tertunda akibat kendala perizinan, risiko teknis, kebutuhan pendanaan, dan volatilitas harga komoditas,” ujarnya.

Baca Juga: Goto Gojek (GOTO) Batalkan Penghapusan 32 Miliar Saham Tresuri, Begini Dampaknya

Dari sejumlah emiten yang melakukan eksplorasi, Sukarno menyoroti ARCI dan BRMS dari sektor emas serta ENRG dari sektor migas. ARCI dan BRMS dinilai menarik untuk dicermati dari potensi pertumbuhan produksi emas, sedangkan ENRG berpeluang memperoleh manfaat dari pengembangan aset migas.

Meski demikian, besarnya belanja eksplorasi belum tentu langsung mencerminkan peningkatan kinerja keuangan. Menurut Sukarno, investor perlu memperhatikan tambahan cadangan yang telah terverifikasi, perkembangan produksi, serta kontribusi proyek terhadap arus kas perusahaan.

“Kami menilai ARCI dan BRMS menarik dari sektor emas, sementara ENRG berpotensi memperoleh manfaat dari pengeboran sumur pengembangan migas,” kata Sukarno.

Untuk emiten batubara, ITMG dinilai dapat dicermati dari sisi kesinambungan operasional dan arus kas. Sementara itu, GEMS dan INDY juga berfokus pada upaya menjaga kesinambungan cadangan dan operasional tambang.

Dari sisi rekomendasi saham, Kiwoom Sekuritas menetapkan rekomendasi untuk ARCI dengan target harga Rp 1.470 per saham. BRMS memiliki target harga Rp 630 per saham, sedangkan ENRG sebesar Rp 1.030 per saham.

Adapun untuk ITMG, Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga Rp 30.600 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News