Emiten Translog Masih Melaju, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten transportasi dan logistik tampak masih melaju kuat di tengah penurunan pasar saham domestik.

Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Transportasi dan Logistik (IDXTRANS) tercatat mengalami penurunan 9,33% sejak awal tahun alias year to date (YTD) per 12 Agustus 2026.

Sebagai perbandingan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 26,29% YTD.


Sejumlah saham emiten translog pun tampak mengalami penguatan dalam sebulan terakhir. Melansir RTI, saham GIAA naik 39,62% dalam sebulan terakhir, meskipun turun 24,49% YTD.

Saham lainnya juga tengah terapresiasi dalam sebulan terakhir. Misalnya, BIRD sahamnya naik 1,56% dalam sebulan dan terkoreksi 4,12% YTD, SMDR naik 7,09% dalam sebulan dan turun 22,96% YTD, dan PT MPX Logistics International Tbk (MPXL) naik 14,19% dalam sebulan dan turun 35,98% YTD.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan, sentimen utama dari penggerak kinerja emiten translog adalah tingginya mobilitas masyarakat, pertumbuhan logistik/e-commerce, dan efisiensi biaya operasional.

Baca Juga: Cek Prospek Emiten Transportasi & Logistik yang Bisa Terdampak Keterbatasan Mobilitas

Emiten pendorong kinerja IDXTRANS adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang didorong pemulihan rute dan restrukturisasi, PT Temas Tbk (TMAS) didorong stabilitas muatan peti kemas, serta PT Blue Bird Tbk (BIRD) dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) didorong pemulihan sewa kendaraan dan taksi. 

“Kenaikan harian tajam mereka sempat berada di kisaran sekitar 2% hingga lebih dari 30% saat momentum reli,” katanya kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie mengatakan, penggerak IDXTRANS didorong oleh pergerakan saham GIAA karena bobot GIAA sendiri cukup besar didalam indeks tersebut.

“GIAA mengalami apresiasi ditengah wacana konsolidasi dengan pelita air, namun hal tersebut masih bersifat spekulasi sehingga masih belum ada keputusan resminya,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, relatif kuatnya IDXTRANS dibandingkan indeks sektoral lain terutama ditopang oleh beberapa saham yang mampu mencatat imbal hasil positif cukup tinggi di tengah mayoritas konstituen yang masih terkoreksi. 

Perlu diperhatikan juga bahwa IDXTRANS menggunakan metode capped free-float adjusted market capitalization, dengan bobot maksimum konstituen 15%. 

“Artinya, bukan hanya persentase kenaikan saham yang penting, tetapi juga kapitalisasi pasar dan free float,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.

PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) menjadi pendorong positif yang paling signifikan, dengan kenaikan sekitar 42,51% YTD. Kenaikan tersebut didukung ekspektasi ekspansi armada, utilisasi kapal yang sudah mencapai sekitar 99%-100%, serta sekitar 80%-85% pendapatan yang berasal dari kontrak jangka panjang.

Baca Juga: Menilik Prospek Saham Emiten Transporasi & Logistik di Tengah Penutupan Selat Hormuz

HATM juga merencanakan private placement hingga 800 juta saham untuk membiayai penambahan minimal tiga kapal, sehingga pasar melihat adanya ruang pertumbuhan kapasitas ke depan. 

“Namun tetap ada risiko dilusi sekitar 8,44%,” katanya.

Sementara PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) naik sekitar 45,79% YTD, tetapi kontribusinya ke indeks lebih kecil dibandingkan HATM karena ukuran free float market cap yang lebih rendah.

Kenaikan TRUK juga dinilai Ekky lebih bersifat spekulatif. BEI telah memasukkan saham tersebut dalam unusual market activity (UMA) dan kemudian melakukan suspensi pada 11 Agustus setelah harga naik sekitar 88%-92% dalam satu bulan. 

“Jadi, untuk melihat penggerak IDXTRANS yang lebih berkualitas, HATM bisa lebih dilihat dibandingkan TRUK,” ungkapnya.

Di sisi lain, TMAS dan BIRD lebih berperan sebagai penahan pelemahan indeks, karena secara YTD hanya terkoreksi sekitar 3,73% dan 4,12%, jauh lebih baik dibandingkan GIAA, SMDR, maupun ASSA yang masih terkoreksi cukup dalam. 

“GIAA memang sempat naik sangat tinggi dalam beberapa perdagangan terakhir, tetapi secara YTD masih negatif, sehingga lebih tepat disebut sebagai penggerak indeks secara harian, bukan pendorong kinerja YTD,” tuturnya.

Hingga akhir tahun 2026, prospek emiten translog akan terdorong oleh puncak musim liburan (Lebaran/Nataru) dan ekspansi armada ramah lingkungan. Sementara, sentimen pemberat berasal dari volatilitas harga bahan bakar (BBM/Avtur) dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: IPCC Fokus Kembangkan Ekosistem Logistik Terintegrasi pada 2026

David melihat secara fundamental, BIRD akan menjadi jawara di tahun 2026 dengan neraca keuangan paling sehat dan rajin membagikan dividen. Sementara dari pergerakan saham, ASSA dan GIAA akan menjadi jawara hingga akhir tahun lantaran responsif terhadap tren pasar.

“Investor bisa mencermati saham ASSA yang didukung bisnis sewa mobil korporasi dan logistik yang terus tumbuh,” ungkapnya.

Adrian bilang, sentiment positif untuk emiten konstituen IDXTRANS lebih didorong pemulihan mobilitas dan pariwisata domestik, normalisasi travel korporasi, perbaikan rantai pasok, dan ekspansi armada. 

“Sentimen negatifnya adalah sensitivitas terhadap harga energi, tantangan struktur utang, serta ketatnya persaingan logistik,” katanya.

Adrian pun menyarankan investor mencermati BIRD dengan target harga di Rp 1.750 per saham, jika berhasil breakout di Rp 1.650 per saham.

Ekky melihat, prospek IDXTRANS masih cukup positif tetapi tetap selektif. Katalis utamanya juga berasal dari stimulus pemerintah untuk sektor transportasi. Pemerintah menyiapkan diskon transportasi darat dan laut sekitar 30%, pembebasan biaya layanan pelabuhan, serta PPN DTP 100% untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi pada periode tertentu. 

Baca Juga: Samudera Indonesia (SMDR) Investasi Rp 460 Miliar, Bangun Dua Kapal Chemical Tanker

“Stimulus tersebut berpotensi menjaga trafik penumpang sekaligus aktivitas transportasi hingga akhir tahun,” tuturnya.

Untuk segmen logistik dan pelayaran, prospeknya juga masih menarik seiring aktivitas perdagangan domestik, kebutuhan distribusi, serta peluang dari freight rate. 

Namun risikonya tetap berasal dari harga minyak dan bunker fuel yang tinggi, pelemahan rupiah, perlambatan perdagangan global, serta gangguan geopolitik. 

PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) misalnya, masih mencatat pertumbuhan pendapatan semester I sebesar 12,2% YoY, tetapi laba bersih turun 20,5% YoY akibat tekanan biaya. 

“Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan volume belum tentu langsung diikuti pertumbuhan margin,” katanya.

Menurut Ekky, TMAS bisa menjadi jawara fundamental emiten translog hingga akhir tahun 2026. Semester I 2026, pendapatan TMAS tumbuh 29,32% YoY menjadi Rp2,68 triliun dan laba bersih melonjak 54,28% YoY menjadi Rp441,57 miliar. 

Perseroan juga menargetkan pendapatan 2026 sebesar Rp5,53 triliun atau tumbuh lebih dari 27%, sehingga pertumbuhannya masih cukup kuat.

Untuk jawara saham secara return YTD, TRUK menjadi salah satu emitennya. Namun, karena kenaikannya sudah sangat spekulatif dan terkena suspensi, saham ini sebaiknya tidak menjadi pilihan investasi utama. 

“Jika mempertimbangkan kombinasi momentum saham dan kualitas bisnis, HATM bisa dilirik. Sedangkan dari sisi fundamental murni tetap TMAS,” tuturnya.

Ekky pun merekomendasikan beli untuk TMAS, BIRD, dan SMDR dengan target harga masing-masing Rp 160 per saham, Rp 2.200 per saham, dan Rp 450 per saham.

Baca Juga: RMKE Gandeng Pendopo Energi Batubara Kembangkan Logistik Tambang di Sumsel

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News