Emmanuel Macron Murka! Satu Tentara Prancis Meninggal, 3 Teruluka di Konflik Lebanon



KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Kawasan Lebanon Selatan kini berada dalam titik didih konflik. Seorang tentara Prancis bernama Sersan-Chef Florian Montorio, anggota Resimen Insinyur Parasut ke-17 dari Montauban, meninggal dalam tugas pada hari Sabtu 18/4). 

Montorio tewas dalam serangan, terhadap pasukan UNIFIL, sementara tiga rekan lainnya terluka parah dan telah dievakuasi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan tegas mengarahkan telunjuk tanggung jawab kepada Hizbullah. 


Baca Juga: Tentara Prancis Tewas: Siapa Pelaku Penembakan di Lebanon Selatan?

"Semuanya mengarah pada tanggung jawab Hizbullah atas serangan ini. Prancis menuntut otoritas Lebanon segera menangkap para pelaku," tegas Macron dalam pernyataan resminya di akun X pada 18 April. 

Ia menegaskan kembali komitmen Prancis bagi perdamaian, sembari menyatakan bahwa bangsa Prancis menundukkan kepala dengan rasa hormat bagi keluarga korban dan seluruh personel militer yang bertugas.

Meninggalnya tentara penjaga perdamaian PBB di Lebanon asal Prancis ini, menambah panjang daftar kelam UNIFIL sepanjang April 2026. 

Sebelumnya, Indonesia telah lebih dulu berduka. Sebanyak tiga prajurit TNI gugur dalam serangkaian serangan militer Israel di wilayah yang sama pada awal April (29-30 Maret dan awal April). 

Tidak hanya meninggal dunia, beberapa personel lainnya yang mengalami luka berat. Pemerintah Indonesia pun telah melayangkan kecaman keras terhadap pola serangan berulang oleh Tentara Israel, yang membahayakan nyawa penjaga perdamaian.

Tonton: Presiden Macron Tolak Ajakan Trump untuk Gabung Menyerang Iran di Selat Hormuz

Putus Kerjasama

Di sisi lain, blok Eropa menghadapi retakan diplomatik yang kian lebar. Italia, di bawah komando Perdana Menteri Giorgia Meloni, mengambil langkah drastis menyikapi konflik berkepanjangan di Lebanon Selatan. 

Menyusul serangkaian insiden serangan terhadap konvoi tentara penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon yang melibatkan militer Israel, PM Meloni resmi menangguhkan perpanjangan otomatis, perjanjian kerja sama pertahanan dengan Israel yang telah terjalin sejak 2005.

Langkah berani Meloni ini memicu efek domino hubungan diplomatik. Pemerintah Italia menuduh pasukan Israel sengaja menembakkan senjata ke arah konvoi pasukan UNIFIL Italia, sebuah tindakan yang dinilai Roma tidak dapat diterima. 

Baca Juga: Macron Perbarui Doktrin Nuklir Prancis, Eropa Mulai Ragu Payung AS

Meskipun Israel mengecilkan dampak pembatalan tersebut dan menyebutnya kerjasama dengan Italia sebagai nota kesepahaman lama tanpa substansi, gejolak ini menandai keretakan signifikan pada aliansi keamanan tradisional di Timur Tengah.

Situasi di lapangan kini menempatkan posisi UNIFIL di ujung tanduk, terjepit di antara eskalasi militer Hizbullah dan tindakan ofensif Israel, yang kini memaksa negara-negara sekutu seperti Prancis dan Italia untuk meninjau ulang keterlibatan militer mereka di wilayah konflik tersebut. 

Breaking News! 49 Negara Eropa Bersatu Hadapi Inflasi Akibat Konflik Selat Hormuz
© 2026 Konten oleh Kontan