Empat Emiten Dirikan Anak Usaha Baru, Mana yang Paling Menarik Prospek Sahamnya?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten mulai memperluas portofolio bisnis melalui pendirian anak usaha baru untuk menangkap peluang pertumbuhan di sektor energi baru terbarukan (EBT), pelayaran, mineral, hingga rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik. Meski berpotensi membuka sumber pendapatan baru, kontribusi ekspansi tersebut terhadap kinerja keuangan masih bergantung pada realisasi investasi dan kesiapan operasional masing-masing perusahaan.

PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), PT Soechi Lines Tbk (SOCI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mendirikan anak usaha baru pada Oktober 2026 dengan fokus bisnis yang berbeda.

ARKO mendirikan PT Arkora Mentari Nusantara pada 7 Oktober 2026 melalui entitas anaknya, PT Arkora Tenaga Matahari, dengan kepemilikan tidak langsung sebesar 99%. Pendirian perusahaan tersebut ditujukan untuk mendukung perkembangan bisnis dan mengantisipasi potensi penambahan proyek EBT.


Baca Juga: Darurat Makroekonomi, Rupiah Tembus Rp 18.000 Imbas Rencana MSCI

Sementara itu, SOCI mendirikan PT Samudra Usaha Lestari pada 6 Oktober 2026 untuk mendukung kegiatan usaha di bidang pelayaran. SOCI memiliki 99,99% saham perusahaan tersebut dengan setoran modal sebesar Rp 12,499 miliar dari total modal disetor Rp 12,5 miliar.

ITMG mendirikan PT ITM Mineral Investama pada 7 Oktober 2026 bersama anak usahanya, PT ITM Batubara Utama. ITMG memiliki porsi kepemilikan sebesar 99,99% untuk mendukung pengembangan portofolio bisnis mineral secara terpadu.

Adapun VKTR mendirikan PT Indo Pacific Critical Minerals pada 14 Oktober 2026 dengan kepemilikan 99% atau sebanyak 2.475 saham senilai Rp 247,5 juta. PT Bakrie Metal Industries memiliki sisa 1% saham perusahaan tersebut. Pendirian anak usaha ini ditujukan untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis yang dibutuhkan dalam produksi baterai kendaraan listrik.

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, pendirian anak usaha baru berpotensi memperluas sumber pertumbuhan bisnis keempat emiten tersebut. Namun, dampaknya terhadap kinerja keuangan belum tentu langsung terlihat dalam waktu dekat.

“Kami menilai pendirian anak usaha baru berpotensi memperluas sumber pertumbuhan masing-masing emiten,” ujar Sukarno kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Menurut dia, ARKO berpeluang memperoleh pendapatan berulang dari proyek EBT, sedangkan SOCI dapat meningkatkan kontribusi bisnis melalui penambahan kontrak dan optimalisasi utilisasi armada. Di sisi lain, ITMG berpotensi memperoleh sumber pendapatan baru dari diversifikasi ke sektor mineral, sementara VKTR dapat mengembangkan bisnis melalui integrasi rantai pasok mineral kritis untuk baterai kendaraan listrik.

Meski demikian, realisasi potensi tersebut masih bergantung pada pelaksanaan investasi, perolehan kontrak komersial, dan waktu dimulainya operasional anak usaha.

Baca Juga: IPAC Siapkan Go Private, Tawarkan Buyback Saham Publik Rp 250 per Saham

Sukarno menilai, prospek ekspansi masing-masing emiten cukup menarik, tetapi tingkat kesiapan bisnisnya berbeda. ARKO menghadapi risiko pembiayaan dan keterlambatan proyek, sedangkan SOCI perlu mencermati tarif sewa kapal serta tingkat utilisasi armada.

Adapun ITMG masih membutuhkan kejelasan mengenai aset dan komoditas mineral yang menjadi sasaran pengembangan. Sementara itu, VKTR menghadapi tantangan pendanaan, kesiapan teknologi, dan kepastian pasokan mineral.

“Karena itu, realisasi capex dan kontrak menjadi indikator utama yang perlu dipantau,” kata Sukarno.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menilai, pendirian anak usaha baru berpotensi menjadi katalis pertumbuhan pendapatan dan laba keempat emiten, terutama dalam jangka menengah hingga panjang.

“Namun, kontribusi terhadap kinerja keuangan tidak akan langsung terlihat karena bergantung pada realisasi investasi, kesiapan operasional, perolehan kontrak, serta kemampuan masing-masing perusahaan mengembangkan bisnisnya secara komersial,” ujar Nafan.

Menurut Nafan, ARKO berpotensi diuntungkan oleh agenda transisi energi dan kebutuhan penambahan kapasitas pembangkit EBT. Namun, perusahaan perlu mengantisipasi kendala perizinan, pembiayaan, kepastian kontrak penjualan listrik, hingga risiko keterlambatan konstruksi.

SOCI dapat memanfaatkan kebutuhan jasa pelayaran dan pengangkutan energi. Kendati demikian, fluktuasi tarif sewa kapal, biaya operasional, serta kebutuhan belanja modal untuk pengembangan armada menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Bagi ITMG, diversifikasi ke sektor mineral berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan membuka sumber pendapatan baru. Namun, pengembangan bisnis tersebut membutuhkan investasi memadai serta pengelolaan risiko eksplorasi, perizinan, dan volatilitas harga komoditas.

Baca Juga: Rupiah Jebol Rp 18.000, Ancaman Outflow US$13 Miliar dari MSCI Membayangi

Sementara itu, VKTR berpeluang memperoleh manfaat dari pertumbuhan industri baterai dan kendaraan listrik. Keberhasilan ekspansi ini akan bergantung pada kepastian pasokan bahan baku, kesiapan teknologi dan infrastruktur, kemitraan strategis, serta permintaan dari industri hilir.

Dari sisi potensi nilai tambah, Sukarno melihat VKTR memiliki peluang transformasi bisnis yang luas melalui integrasi rantai pasok mineral kritis. ARKO juga menarik karena berpotensi menghasilkan pendapatan berulang dari pembangkit EBT, sedangkan SOCI berpeluang memperoleh manfaat lebih dekat dari penguatan bisnis inti pelayaran. Adapun ITMG menawarkan peluang diversifikasi untuk jangka panjang.

Senada, Nafan menilai VKTR memiliki potensi pertumbuhan struktural apabila pengembangan PT Indo Pacific Critical Minerals mampu menciptakan sinergi nyata dengan bisnis kendaraan listrik yang dijalankan perusahaan.

Menurut dia, ITMG juga memiliki peluang strategis melalui diversifikasi portofolio mineral, terutama jika mampu memanfaatkan kapasitas pendanaan, pengalaman operasional, dan jaringan bisnis untuk mengembangkan aset produktif.

Nafan menambahkan, investor perlu mencermati pengumuman nilai investasi, kemitraan strategis, perolehan kontrak, kemajuan pembangunan, serta dimulainya operasional anak usaha sebagai katalis ekspansi. Sebaliknya, keterlambatan proyek, pembengkakan biaya, perubahan regulasi, dan realisasi permintaan yang tidak sesuai ekspektasi dapat menghambat pencapaian target bisnis.

Dengan mempertimbangkan peluang dan risiko tersebut, Sukarno menyarankan investor untuk menerapkan strategi wait and see terhadap saham ARKO, SOCI, dan VKTR. Sementara itu, untuk saham ITMG, ia merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 27.000 per saham.

Adapun Nafan merekomendasikan wait and see untuk keempat saham tersebut. Investor dinilai perlu menunggu bukti realisasi investasi dan kontribusi anak usaha terhadap kinerja keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: IHSG Anjlok 11,4%, Usulan Penurunan Status MSCI Picu Risiko Dana Asing Keluar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: