KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah mata uang Asia masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun berjalan 2026. Berdasarkan data Bloomberg, setidaknya ada 4 mata uang Asia yang terkoreksi 5% secara year to date (YtD). Kamis (17/9/2026) pukul 17.30 WIB, mata uang dengan pelemahan terdalam dicetak rupee India yang melemah 6,3% secara YTD. Disusul, rupiah dan peso Filipina yang sama-sama ambles 6% sepanjang tahun berjalan 2026 ini. Selanjutnya ada baht Thailand yang melemah 5,58% secara YTD. Tekanan terhadap empat mata uang tersebut semakin bertambah setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Baca Juga: KLBF Hingga MBMA Gelar Buyback, Mana Sahamnya yang Bisa Dilirik? Kondisi itu turut tercermin dari pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang kembali berada di atas level 100. Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed dapat memperlebar selisih imbal hasil aset berbasis dolar AS dan aset emerging market sehingga berpotensi mendorong investor mengalihkan dana ke aset dolar AS. "Jika The Fed menaikkan suku bunga, yield spread antara aset dolar AS dan aset emerging market semakin lebar. Ini bisa memicu capital outflow dan menekan likuiditas valas regional Asia," kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (17/9/2026). Selain faktor eksternal, tekanan terhadap masing-masing mata uang juga dipengaruhi kondisi fundamental domestik. Untuk peso Filipina, kebutuhan impor pangan dan energi serta defisit transaksi berjalan menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Rupee India turut sensitif terhadap kebutuhan impor minyak. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk membayar impor sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupee. Faktor harga energi juga menjadi perhatian bagi baht Thailand. Sementara itu, untuk rupiah, Wahyu mencermati potensi arus keluar investor asing dari surat utang pemerintah ketika imbal hasil US Treasury menjadi lebih menarik.
Baca Juga: Reli Harga Minyak Mulai Tertahan, Risiko Gangguan Pasokan Masih Mengintai Dari sisi teknikal, Wahyu mengatakan, rupiah saat ini berada di sekitar Rp 17.743 setelah sebelumnya membentuk level tertinggi 52 pekan di posisi Rp 18.197. Pergerakan tersebut menunjukkan fase koreksi teknikal dan membuka ruang konsolidasi menjelang akhir tahun. Untuk rupiah, level resistance berada di Rp 17.950 per dolar AS dan Rp 18.200 per dolar AS. Sementara support berada di Rp 17.500 per dolar AS dan Rp 17.200 per dolar AS. "Struktur grafik menunjukkan fase koreksi teknikal setelah membentuk peak di kisaran Rp 18.197 per dolar AS. Aksi intervensi dan stabilisasi menjaga momentum
bullish tertahan, membuka ruang konsolidasi sehat menjelang akhir tahun," ujar Wahyu. Adapun USD/INR berada di sekitar 95,988 dan masih bergerak dalam tren
bullish di dekat batas atas rentang 52 pekan. Level resistance yang perlu diperhatikan berada di 96.200 dan 97.000, sedangkan support berada di 95.000 dan 94.000. Untuk USD/THB yang berada di sekitar 33,345, pergerakan cenderung berada dalam pola konsolidasi. Resistance berada di 33,60 dan 33,90, sementara support berada di 32,90 dan 32,20. Siklus musiman pariwisata menjelang akhir tahun dapat menjadi salah satu faktor yang memberi bantalan bagi baht dan membatasi ruang penguatan dolar AS.
Baca Juga: Suku Bunga The Fed Tekan Pergerakan Rupiah, Cek Proyeksi Kurs di Jumat (18/9) Sementara itu, USD/PHP berada di sekitar 62,745 dan bergerak dekat level tertinggi 52 pekan di 62,945. Resistance berada di 62,95 dan 63,50, sedangkan support berada di 62,00 dan 61,20. Dengan perkembangan tersebut, level teknikal keempat pasangan mata uang tersebut menjadi salah satu acuan yang perlu diperhatikan hingga akhir tahun, di tengah dinamika kebijakan The Fed, yield US Treasury, arus modal dan kondisi fundamental masing-masing negara. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News