Enam Kapal Tanker Minyak Iran Dipaksa Kembali di Tengah Blokade AS di Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - LONDON. Enam kapal tanker yang membawa minyak Iran dilaporkan terpaksa kembali ke pelabuhan Iran dalam beberapa hari terakhir akibat blokade Amerika Serikat, menurut data pelacakan kapal.

Peristiwa ini menunjukkan dampak meningkatnya perang Iran terhadap arus pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting ekspor minyak global.

Sebelum konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar 125 hingga 140 kapal biasanya melintas setiap hari di Selat Hormuz. Namun, dalam 24 jam terakhir hanya tujuh kapal yang tercatat melintas, dan tidak ada yang membawa minyak untuk pasar global, berdasarkan data Kpler dan analisis satelit SynMax.


Baca Juga: Putin Janjikan Perdamaian untuk Iran di Tengah Konflik Memanas

Selat Hormuz yang berada di kawasan Selat Hormuz biasanya menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Menurut data pelacakan, enam tanker yang dipaksa kembali tersebut membawa sekitar 10,5 juta barel minyak Iran. Sementara itu, dua tanker lain dengan total sekitar 4 juta barel minyak berhasil melewati blokade dan melanjutkan perjalanan menuju Asia pada 24 April.

Amerika Serikat sebelumnya mengumumkan pada 13 April bahwa mereka akan memblokade kapal-kapal yang terkait dengan Iran. Militer AS menyebut telah mengalihkan 37 kapal sejak kebijakan itu diberlakukan. Di sisi lain, Iran juga menerapkan pembatasan terhadap pelayaran di wilayah tersebut.

Perusahaan pelayaran Clarksons menyebut dalam catatannya bahwa Iran telah menahan dan menyerang kapal yang tidak mematuhi aturan transitnya, sementara AS terus menegakkan blokade terhadap kapal yang dianggap terkait Iran.

Analisis juga menunjukkan beberapa kapal Iran kosong terlihat kembali dari arah Asia dan terdeteksi di sekitar perairan Pakistan. Namun, belum jelas apakah muatan minyak tersebut akan berhasil mencapai pembeli atau kembali disita dalam perjalanan.

Sumber industri memperkirakan kapal-kapal yang terkait Iran bahkan telah dicegat hingga sejauh Selat Malaka, sehingga nasib kargo minyak masih belum pasti.

Ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut dilaporkan masih terjebak di kawasan Teluk. Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) International Maritime Organization, Arsenio Dominguez, memperingatkan bahwa kondisi ini menimbulkan risiko besar.

Baca Juga: Harga Emas Melemah, Pasar Menanti Sinyal Hasil Pertemuan Bank Sentral

“Para pelaut menghadapi risiko signifikan dan tekanan psikologis yang berat. Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar risiko kecelakaan serius, termasuk potensi bencana lingkungan,” ujarnya dalam sebuah pertemuan komite pada Senin (27/4/2026).