Energi AS Melesat, Jepang Suntik US$ 36 Miliar ke Proyek Raksasa



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Jepang mulai merealisasikan komitmen investasi jumbo senilai US$ 550 miliar ke Amerika Serikat (AS) dengan pencairan tahap awal sebesar US$ 36 miliar untuk proyek minyak, gas, dan mineral kritis. Langkah ini menjadi bagian dari kesepakatan dagang yang diteken dengan Presiden AS Donald Trump.

Trump menyebut proyek tersebut sebagai bukti keberhasilan tarif dalam mendorong investasi. Ia bahkan mengklaim fasilitas gas alam di Ohio sebagai yang terbesar dalam sejarah. Mengutip Bloomberg (18/2), proyek pembangkit berkapasitas 9,2 gigawatt itu diperkirakan menyerap investasi hingga US$ 33 miliar dan dipimpin anak usaha SoftBank, SB Energy. Jika beroperasi penuh, kapasitasnya setara sembilan reaktor nuklir atau memasok listrik bagi 7,4 juta rumah.

Selain itu, Jepang juga akan masuk ke proyek terminal ekspor minyak laut dalam Texas GulfLink senilai US$ 2,1 miliar serta fasilitas berlian sintetis industri di Georgia senilai US$ 600 juta. Seluruh proyek ini diklaim menopang rantai pasok strategis AS di sektor energi, kecerdasan buatan (AI), dan semikonduktor.


Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan, investasi tersebut ditujukan untuk memperkuat keamanan ekonomi kedua negara. Namun, di balik retorika kerja sama, skema ini jelas menjadi bagian dari kompromi tarif. Dalam perjanjian tersebut, AS menetapkan tarif 15% untuk produk Jepang lebih rendah dari ancaman awal 25%, dengan imbalan gelombang investasi besar ke industri strategis AS.

Baca Juga: MTN Caplok IHS, Tebus Menara US$ 6,2 Miliar

Model investasi

Skema pendanaannya pun tidak sepenuhnya berupa suntikan modal tunai. Jepang sebelumnya menyebut hanya 1%–2% dari dana US$ 550 miliar yang akan berbentuk investasi langsung, sisanya berupa pinjaman dan jaminan kredit melalui lembaga seperti Japan Bank for International Cooperation.

Artinya, komitmen investasi ini lebih menyerupai fasilitas pembiayaan jangka panjang ketimbang arus modal segar dalam jumlah penuh. Jepang juga menegaskan proyek yang dipilih bukan investasi berisiko tinggi, melainkan yang memberikan imbal hasil aman.

Di sisi lain, kebutuhan energi AS memang melonjak seiring ekspansi pusat data dan ledakan AI. Proyek pembangkit gas menjadi krusial untuk menopang lonjakan permintaan listrik tersebut. Bagi AS, investasi Jepang memperkuat kapasitas industri dan dominasi energi. Bagi Jepang, ini menjadi tiket menjaga akses pasar ekspor utama di tengah tekanan tarif.

Namun kesepakatan ini juga menyisakan risiko. Jika Jepang tidak mendanai proyek terpilih dalam 45 hari kerja, AS berhak menarik kembali konsesi atau bahkan menaikkan tarif. Dengan kata lain, investasi dan tarif kini terikat erat dalam satu paket kebijakan.

Pengumuman tahap awal ini muncul menjelang pertemuan Takaichi dan Trump di Washington pada 19 Maret mendatang. Momentum politik jelas dijaga. Bagi Trump, ini pembenaran strategi tarifnya. Bagi Jepang, ini harga yang harus dibayar untuk stabilitas perdagangan.

Baca Juga: Carrefour Bidik Profit Besar, Ini Langkah CEO Alexandre Bompard

Selanjutnya: Utang Luar Negeri Naik, Risiko Perlu Diantisipasi

Menarik Dibaca: Ucapan Maaf Ramadan 2026, Ada 30 Pilihan Sempurna Sambut Puasa

TAG: