KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis PT Energi Mega Persada Tbk (
ENRG) dinilai masih positif hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027. Pertumbuhan kinerja keuangan serta pengembangan temuan minyak baru menjadi katalis yang berpotensi menopang kinerja perusahaan ke depan. Hingga September 2026, ENRG membukukan pendapatan sebesar US$ 426,06 juta, tumbuh 18% secara tahunan. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 30,8% menjadi US$ 72,81 juta. Sementara itu, laba usaha naik 44% menjadi US$ 157,57 juta. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menilai pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan menunjukkan adanya perbaikan margin operasional ENRG.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098, Waspadai Jika Sentuh Support di Level 4.980 Jumat (30/10) “Ini menjadi indikasi bahwa perusahaan tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga mampu memperbaiki profitabilitas bisnisnya,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (29/10/2026). Menurut dia, peluang pertumbuhan laba masih terbuka pada kuartal IV 2026, terutama jika produksi dapat dipertahankan atau ditingkatkan dan harga jual minyak serta gas tetap kondusif. Memasuki 2027, pertumbuhan kinerja akan bergantung pada realisasi produksi dan kemampuan perusahaan mengomersialkan temuan migas baru. “Harga minyak dan gas merupakan faktor penting bagi kinerja ENRG karena secara langsung memengaruhi pendapatan dan margin usaha,” jelasnya. Dari sisi operasional, ENRG memiliki tiga temuan minyak dalam 18 bulan terakhir, yakni sekitar 31 juta barel di Blok Malacca Strait, 20 juta barel di Blok Bentu, dan 15 juta barel di Blok South CPP. Produksi dari temuan di Blok Bentu dan Malacca Strait telah dimulai, sedangkan produksi dari temuan di Blok South CPP direncanakan menyusul. Nafan menilai pengembangan temuan tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan organik pada 2027. Namun, investor perlu membedakan estimasi temuan minyak dengan cadangan yang benar-benar bisa diproduksikan secara komersial. “Jadi, katalis utamanya bukan sekadar penemuan cadangan baru, melainkan seberapa cepat temuan tersebut menghasilkan pendapatan dan arus kas nyata,” ujar Nafan. Selain pengembangan lapangan, ekspansi anorganik melalui rencana investasi pada HighPeak Energy di Amerika Serikat juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi ENRG. Investasi tersebut ditargetkan selesai sebelum akhir 2026. Meski demikian, Nafan mengingatkan investor agar mencermati volatilitas harga minyak dan gas, risiko keterlambatan pengembangan lapangan, serta kebutuhan belanja modal. Total liabilitas ENRG per 30 September 2026 tercatat sekitar US$ 1,09 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025.
Baca Juga: Pasar Surat Utang Tertekan, Obligasi Korporasi Lebih Tahan “Karena itu, kemampuan menjaga arus kas, mengendalikan leverage, dan mengalokasikan belanja modal secara disiplin menjadi faktor penting untuk memastikan ekspansi tidak membebani kondisi keuangan perusahaan,” kata Nafan. Senada, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai prospek ENRG masih positif. Pertumbuhan kinerja pada sembilan bulan pertama 2026 mencerminkan perbaikan operasional dan margin, sedangkan peningkatan produksi dari aset eksisting serta monetisasi temuan migas baru berpeluang menopang pertumbuhan pada 2027. “Untuk 2027, pertumbuhan laba berpeluang berlanjut seiring peningkatan produksi dari aset eksisting dan monetisasi temuan migas baru, meskipun realisasinya bergantung pada harga komoditas dan keberhasilan pengembangan proyek,” ujar Sukarno. Menurut dia, katalis ENRG juga mencakup potensi kenaikan harga energi, kontrak gas jangka panjang yang membantu menjaga stabilitas penjualan, serta investasi strategis di HighPeak Energy. Perusahaan menargetkan pertumbuhan produksi jangka menengah rata-rata sekitar 10% per tahun. “Namun, tambahan cadangan belum otomatis menjadi produksi komersial tanpa investasi dan pengembangan lebih lanjut,” jelas Sukarno. Di sisi lain, investor perlu memperhatikan risiko penurunan produksi alamiah, ketidakpastian regulasi, kebutuhan belanja modal, serta potensi risiko pendanaan dan dilusi saham setelah aksi korporasi. Keberhasilan mengonversi temuan menjadi produksi komersial dan disiplin dalam mengalokasikan modal menjadi faktor penting bagi keberlanjutan pertumbuhan. Dari sisi rekomendasi saham, Nafan menyarankan akumulasi beli saham ENRG dengan target harga Rp 1.425 per saham.
Baca Juga: IHSG Jadi Indeks Terburuk di Kawasan, Valuasi Murah Belum Cukup Pikat Asing Sementara itu, Sukarno menyebut target harga ENRG sebelumnya berada di Rp 1.030 per saham setelah disesuaikan dengan aksi rights issue. Namun, untuk strategi jangka pendek, ia menyarankan investor menunggu karena tren penurunan harga saham masih cukup kuat. “Untuk strategi jangka pendek mengingat tren masih kuat turunnya lebih ke wait and see,” pungkas Sukarno. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News