Enggan Beli Minyak Iran, Sinopec Bakal Manfaatkan Cadangan Negara



KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Perusahaan penyulingan minyak milik China, Sinopec, menegaskan tidak berniat membeli minyak Iran, tetapi berupaya mendapatkan izin untuk memanfaatkan cadangan negara.

Senin (23/3/2026), seorang eksekutif Sinope mengungkapkan kepada Reuters bahwa pihaknya belum berencana membeli minyak Iran. Hal itu diungkap beberapa hari setelah Amerika Serikat (AS) mencabut sanksi bagi beberapa pembeli minyak mentah Iran.

Asal tahu saja, perusahaan penyulingan terbesar di dunia ini sangat rentan terhadap penutupan Selat Hormuz karena sebagian besar kebutuhan minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah. 


Dengan kondisi Selat Hormuz dan Timur Tengah yang memanas, Sinopec membeli minyak Saudi dari Yanbu dan mencari sumber dari luar Timur Tengah, kata eksekutif tersebut.

Baca Juga: Upah Pekerja Jepang Naik 5% Lebih, Tembus Rekor Lagi!

Untuk meringankan krisis pasokan global, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengeluarkan pengecualian sanksi 30 hari pada hari Jumat (20/3/2026) untuk minyak Iran yang sudah berada di laut, dengan harapan dapat membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global.

Namun, membeli minyak mentah tersebut rumit karena pertanyaan tentang bagaimana cara membayarnya, mengingat sanksi keuangan terhadap Iran masih berlaku, serta fakta bahwa sebagian besar minyak tersebut berada di atas kapal armada bayangan yang sudah tua.

Di saat yang berbeda, Presiden Sinopec Zhao Dong mengatakan bahwa perusahaan penyulingan tersebut sedang mengevaluasi risiko dan "pada dasarnya tidak akan membeli" minyak Iran. 

Kilang-kilang minyak China sudah membeli sebagian besar minyak Iran, namun hanya pemain swasta yang berpartisipasi dalam perdagangan yang dikenai sanksi.

China memiliki cadangan minyak yang sangat besar dan Sinopec secara proaktif mencari dukungan pemerintah untuk memanfaatkannya, kata eksekutif tersebut. Reuters melaporkan awal bulan ini bahwa Beijing telah menolak permintaan untuk mengakses 13 juta ton.

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz dengan Pasang Ranjau Laut

Kilang tersebut akan mengurangi produksi sebesar 5% bulan ini karena gangguan tersebut, kata Zhao. Reuters juga melaporkan awal bulan ini bahwa pengurangan produksi dapat melebihi 10% pada bulan Maret.