Enggarini Sahudi, Pelopor Kerajinan Manik-Manik Kota Malang



enggraini1TERLAHIR di keluarga yang berjiwa seni membuat Enggarini Sahudi sangat menyukai aneka kerajinan sejak kecil. Wanita kelahiran Tulungagung, 17 Agustus 1954, ini belajar banyak keterampilan dari sang nenek yang merupakan perajin batik. Ketika remaja, Enggarini juga mempelajari keterampilan merangkai manik-manik dari sang ibu. Hal itu lantas menjadi hobi pengisi waktu luangnya. "Waktu itu, manik-manik sudah bisa saya bikin jadi sanggul, bunga dan sebagainya. Padahal banyak orang merangkai manik hanya untuk kalung saja," kisah Enggarini. Hobi ini berlanjut sampai Enggarini dewasa. Bahkan, ketika Enggarini menikah dengan Sahudi, seorang perwira polisi, anak ketujuh dari sepuluh bersaudara ini menularkan hobinya kepada istri perwira polisi yang lain. "Di setiap kesempatan, saya selalu mengajarkan ketrampilan membuat manik-manik untuk meningkatkan pendidikan ibu-ibu istri anggota polisi," ujarnya. Keharusan mengikuti sang suami yang selalu berpindah-pindah tugas tak membuat Enggarini meninggalkan hobinya. Malah, di tempat tugas suaminya, Enggarini selalu menyebarkan ketrampilan merangkai manik-manik tersebut. Sejatinya, Enggarini juga mempersiapkan aneka kursus untuk mengisi masa pensiun suaminya. "Saya pikir, di rumah ngapain ya kalau sudah pensiun. Daripada sepi saya buka usaha saja," ujarnya. Ia antara lain sempat mempelajari manajemen katering, kursus salon dan kecantikan, rias pengantin serta kursus tata rias dan rambut. Bahkan, ia memperoleh sertifikat dari kursus itu. Tapi, "Semua sertifikat malah tidak terpakai, yang terpakai manik-manik," lanjut wanita yang ramah ini. Saat sang suami akhirnya pensiun pada 2000, Enggarini mulai mewujudkan mimpinya. Ia membuka usaha salon sekaligus tempat kursus keterampilan mengolah manik-manik. "Modalnya Rp 200 juta dari kocek pribadi," kenang nenek lima cucu ini. Uang itu ia gunakan untuk membeli pelengkapan salon serta manik-manik. Kebetulan, saat itu Enggarini memang kerap menerima permintaan mengajar mengolah manik-manik. Ia pun sempat menjual kreasinya. Penjualannya lumayan. Bahkan,manik-manik Enggarini cepat dikenal berkat pemasaran dari mulut ke mulut. Usaha salon Enggarini sendiri ternyata kurang berkembang. Sebaliknya, usaha manik-manik makin sukses. "Maka tahun 2001 saya buka toko manik-manik Erisha, yang merupakan singkatan dari Enggarini dan Sahudi," tuturnya. Dari bisnis manik-manik ini, Enggarini bisa mendulang omzet Rp 30 juta per bulan. Wanita berusia 55 tahun ini juga telah mencetak ribuan murid yang kini menjadi pengusaha manik mandiri. Dari kegiatan sosial menjadi bisnis Semula, Enggarini ingin kegiatan kursus pembuatan kerajinan manik-manik yang ia adakan hanya menjadi kegiatan sosial pengisi waktu luang saja. Namun belakangan, hobi ini berkembang menjadi sebuah bisnis yang menggiurkan. Betapa tidak, diawali sejak 2000, kini murid-murid Enggarini sudah berjumlah ribuan. Banyak dari murid-muridnya kini sudah mandiri dan membentuk kelompok usaha kerajinan manik-manik sendiri. Di kota Malang sendiri, sudah berdiri dua toko manik-manik yang serupa dengan toko Erisha milik Enggarini. Saat ini, dalam sehari, ada ratusan orang yang belajar merangkai manik-manik di toko sekaligus kediaman Enggarini di jalan Sulfat Agung, Malang. Tak jarang beberapa di antara para peserta datang dari luar kota. "Biasanya mereka khusus datang untuk belajar manik-manik, bahkan sampai menginap di hotel segala," ujarnya. Walaupun sudah banyak memiliki murid yang mandiri dan membuka jalur penjualan tersendiri, toh Enggarini tak merasa tersaingi. Apalagi, pesanan suvenir pernikahan masih terus berdatangan ke tokonya. Dalam sebulan, ada lebih dari 10 pesanan suvenir pernikahan atau suvenir lain yang ia kerjakan. Padahal untuk memenuhi satu pesanan saja, ia mesti memproduksi ribuan unit suvenir. Karenanya, ia sering meminta bantuan para muridnya untuk mengerjakan pesanan-pesanan tersebut. "Kalau jumlah suvenir masih di bawah 100 saya masih bisa kerjakan sendiri, tapi kalau di atas itu, saya malah mengajak murid dan pihak pemesan untuk ikut membantu," timpal nenek lima cucu ini sembari tergelak. Suvenir pernikahan yang diminati di antaranya adalah gantungan ponsel, gantungan kunci, atau aneka suvenir mini lainnya. Harganya mulai Rp 5.000 sampai Rp 7.500 per unit. Dari harga tersebut,  Enggarini bisa mendapatkan keuntungan antara Rp 1.500 sampai Rp 2.500 per unit. Untuk suvenir pernikahan, rata-rata pemesan memesan antara 500 unit sampai di atas 1.000 unit. Sementara untuk suvenir oleh-oleh, misalnya keranjang permen, lampu hias, anting, kalung, dan gelang harganya bisa sampai di atas Rp 150.000 per unit. Dari harga tersebut, Enggarini masih bisa memetik margin laba sekitar 40%. "Harganya mahal karena bahan bakunya juga mahal dan pengerjaannya bisa memakan waktu empat hari," tukas istri pensiunan perwira polisi ini. Wanita kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 55 tahun silam ini mengaku membeli bahan baku manik-manik dari Jakarta dan Surabaya. Dalam sebulan, paling tidak ada tiga atau empat kali pengiriman bahan baku yang mesti ia tebus. Setiap kali pengiriman, Enggarini harus menebus mani-manik senilai Rp 8 juta sampai Rp 10 juta. Bahkan, total nilai bahan baku yang ia pesan pernah mencapai sekitar Rp 25 juta. Penyebabnya, waktu itu banyak muridnya atau pemesan suvenirnya memesan kerajinan berbahan dasar kristal Swarovski. "Saat ini, kristal Swarovski dan Monte Akrilik memang menjadi bahan-bahan yang sedang digemari," ujar Enggraini. Maunya pendidik, bukan pebisnis Sebagai puteri dari seorang pegawai negeri sipil, tak pernah terlintas dalam pikiran Enggarini Sahudi untuk berbisnis. Ibu tiga anak ini bahkan mengaku lebih cocok menjadi pendidik ketimbang pebisnis. Walaupun begitu, keterampilannya membuat manik-manik ternyata telah banyak mengentaskan pengangguran di kalangan ibu-ibu. "Saya puas bisa membantu orang, cita-cita saya hanya agar wanita itu tidak disepelekan kaum laki-laki," ujar istri pensiunan perwira polisi ini. Ada satu peristiwa yang membuat Enggarini sangat terharu. Suatu saat, ada seseorang datang ke tempatnya untuk belajar membuat manik-manik tanpa membawa uang sepeser pun. "Ia bilang ingin mengubah nasib dengan menjual manik-manik karena dirinya miskin," kenangnya. Kini, sang murid sudah mempunyai kios di sebuah mal di Surabaya. Dedikasi Enggarini memang patut diacungkan jempol. Tak jarang ketika diundang ke suatu daerah untuk memberikan pelatihan, Enggarini menggunakan uang pribadinya untuk biaya perjalanan. "Walaupun sampai ke pelosok desa dengan uang pribadi, saya puas bisa mengajarkan keterampilan untuk mendayagunakan kaum ibu, dan menambah penghasilan keluarga," ujarnya. Berkat usahanya menggugah para ibu untuk menjadi mandiri, Enggarini mendapat penghargaan sebagai salah satu finalis Danamon Award tahun 2006 silam. Ia berhasil menyisihkan ribuan calon finalis lainnya dari Indonesia. "Saya sendiri sampai kaget, karena memang tidak disangka-sangka," timpal nenek lima cucu ini. Keberhasilan Enggarini tersebut tentu saja semakin mencuatkan namanya. Makin banyak saja orang yang ingin belajar membuat manik-manik dari dirinya. Dalam sehari, peserta kursusnya bahkan bisa mencapai ratusan orang. "Melihat prestasi saya, sejak saat itu banyak tamu-tamu penting yang di ajak ke toko saya oleh Pemerintah Kota Malang," katanya. Sekitar tahun 2007, Walikota Malang menjadikan kerajinan manik-manik sebagai salah satu ikon oleh-oleh dari Kota Malang. "Biasanya, tamu-tamu dari Dinas Kota kalau datang kemari selalu meninjau toko saya dan memesan oleh-oleh suvenir. Terkadang satu rombongan bahkan sampai 25 orang, seperti kunjungan dari Pemda Bangka baru-baru ini," kata Enggarini. Walaupun kesuksesan telah ada digenggamannya, namun Enggarini masih mempunyai keinginan yang belum kesampaian. Selain keterampilan membuat manik-manik, ia ingin mengajarkan keterampilan merajut bagi para murid-muridnya. "Kebetulan di antara 10 bersaudara, kakak-kakak dan adik-adik saya punya bakat seni masing-masing. Nah, keterampilan merajut ini saya peroleh dari adik saya," ujar Enggarini.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News