KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Epidemiolog sekaligus Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Masdalina Pane mengatakan, risiko penyebaran hantavirus di Indonesia sejauh ini masih relatif kecil. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan 23 kasus positif hantavirus sepanjang 2024 hingga 2026. “Kita tidak perlu panik tetapi tetap harus waspada,” ujar Masdalina dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).
Baca Juga: Kemenkes: Hantavirus Belum Berpotensi Jadi Pandemi, Penularan Antarmanusia Jarang Masdalina menjelaskan hantavirus memiliki masa inkubasi yang bervariasi, mulai dari satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus dari tikus atau hewan pengerat lainnya. Itu sebabnya, ia meminta masyarakat segera memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti demam, nyeri badan, sakit kepala, hingga lemas, terutama apabila memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang berisiko terpapar tikus. Menurutnya, langkah pencegahan paling penting saat ini adalah menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), meningkatkan daya tahan tubuh, serta melindungi kelompok rentan agar tidak mudah terinfeksi penyakit. “Terus meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kelompok-kelompok rentan agar mereka bisa terlindungi dari terinfeksi,” katanya. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, terutama ketika sirkulasi penyakit sedang meningkat tinggi. Di sisi lain, Masdalina meminta pemerintah memperkuat sistem surveilans terhadap hantavirus agar potensi penyebaran dapat dideteksi lebih dini. “Pemerintah harus memperkuat sistem
surveillance, terutama untuk hanta virus. Bisa melalui
surveillance sentinel ataupun integrated surveillance,” sambungnya.
Baca Juga: 321 WNA Ditangkap di Jakarta, Diduga Operasikan 75 Situs Judi Online Ia menilai pengawasan hantavirus dapat diintegrasikan dengan sistem surveilans penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya yang selama ini sudah berjalan. Selain penguatan pengawasan, Masdalina juga menyoroti pentingnya komunikasi risiko kepada masyarakat. Ia menilai, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menyampaikan edukasi dan komunikasi risiko penyakit menular secara efektif. “Kita ini selalu bermasalah di komunikasi risiko. Tidak hanya komunikasi publik, tetapi juga komunikasi risiko kepada masyarakat,” tutup Masdalina. Sebelumnya, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan pemerintah mencatat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia selama periode 2024 hingga 2026. “Dari total kasus tersebut, tiga pasien meninggal dunia,” ujar Aji. Dengan jumlah tersebut, tingkat fatalitas kasus atau
case fatality rate (CFR) hantavirus di Indonesia tercatat mencapai 13%.
Baca Juga: Harga Avtur Melonjak, YLKI Ingatkan Maskapai Jangan Langgar Tarif Batas Atas Berdasarkan data Kemenkes, sebanyak 23 kasus positif ditemukan dari total 251 kasus suspek yang telah diperiksa. Tren kasus tercatat mengalami peningkatan pada 2025 dengan total 17 kasus terkonfirmasi. Adapun pada 2024 hanya ditemukan satu kasus, sedangkan pada 2026 hingga saat ini tercatat lima kasus positif hantavirus. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News