Era Baru Pasar Saham: 3 Raksasa Teknologi Siap Cetak Sejarah IPO Terbesar di Wall St



KONTAN.CO.ID - Pengembang ChatGPT, OpenAI, secara rahasia telah mengajukan dokumen penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) di Amerika Serikat (AS).

Langkah ini menjadikan OpenAI sebagai perusahaan kecerdasan buatan (AI) terbaru yang bersiap melantai di bursa, mengikuti jejak rivalnya, Anthropic.

Dalam pernyataannya pada Senin (8/6/2026), OpenAI tidak mengungkapkan ukuran maupun syarat penawaran saham tersebut. Perusahaan juga menyebut belum menentukan jadwal pasti pelaksanaan IPO.


Baca Juga: Bidik Valuasi setara 5 Kali Lipat APBN RI, OpenAI Resmi Mendaftar IPO di AS

"Masih mungkin memerlukan waktu karena ada beberapa hal yang lebih mudah kami lakukan sebagai perusahaan privat," tulis OpenAI dalam keterangannya.

Sebelumnya, Reuters melaporkan OpenAI membidik valuasi hingga US$ 1 triliun dalam debutnya di pasar saham yang diperkirakan dapat berlangsung paling cepat pada September 2026.

Jika terealisasi, OpenAI akan bergabung dengan dua perusahaan teknologi bervaluasi jumbo lainnya yang tengah menuju pasar modal, yakni SpaceX dan Anthropic.

Ketiganya dinilai menjadi ujian terbesar minat investor terhadap saham teknologi berpertumbuhan tinggi dalam satu dekade terakhir.

SpaceX milik Elon Musk menjadi yang pertama mengajukan IPO dengan target valuasi mencapai US$ 1,75 triliun dan potensi penghimpunan dana sekitar US$ 75 miliar.

Sementara Anthropic, pengembang asisten AI Claude, telah mengajukan IPO secara rahasia pada 1 Juni lalu setelah memperoleh pendanaan baru yang mengangkat valuasinya menjadi US$ 965 miliar.

"OpenAI tampaknya ingin menjaga semua opsi tetap terbuka setelah Anthropic lebih dulu mengajukan IPO usai meraih pendanaan besar," kata Michael Ashley Schulman, Partner Cerity Partners.

Baca Juga: AS Masukkan Alibaba, Baidu, dan BYD ke Daftar Hitam Korporasi Penyokong Militer China

Era Baru Investasi AI

IPO OpenAI dan Anthropic dipandang sebagai tonggak penting dalam transformasi industri teknologi global, di mana kecerdasan buatan kini menjadi tema investasi utama dekade ini.

Awal tahun ini, OpenAI mengumumkan penggalangan dana sebesar US$ 110 miliar dengan valuasi mencapai US$ 840 miliar. Pendanaan tersebut didukung sejumlah investor besar seperti SoftBank, Amazon, dan Nvidia.

Perusahaan juga mengungkapkan bahwa ChatGPT telah memiliki lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan dan lebih dari 50 juta pelanggan berbayar.

Pengajuan IPO ini dilakukan setelah OpenAI menegosiasikan ulang kemitraannya dengan Microsoft, salah satu investor awal terbesar perusahaan.

Kesepakatan tersebut membuka peluang bagi OpenAI untuk menjalin kerja sama baru dengan perusahaan lain, termasuk Amazon dan Google.

Investasi Microsoft yang mencapai US$ 13 miliar sejak 2019 menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan pesat OpenAI sekaligus mendukung ekspansi bisnis komputasi awan Azure.

Pada Maret lalu, OpenAI menyatakan telah menghasilkan pendapatan sekitar US$ 2 miliar per bulan. Laju pertumbuhannya disebut empat kali lebih cepat dibandingkan perusahaan yang mendominasi era internet dan mobile seperti Alphabet maupun Meta pada fase pertumbuhan mereka.

Meski demikian, OpenAI disebut belum memperkirakan dapat membukukan keuntungan hingga tahun 2030.

Persaingan AI Kian Ketat

Meski menjadi pionir dalam ledakan AI generatif, OpenAI kini menghadapi persaingan yang semakin sengit.

Anthropic muncul sebagai salah satu pesaing utama dengan pertumbuhan permintaan yang tinggi terhadap platform Claude AI, terutama dari kalangan pengembang perangkat lunak.

Sejumlah perusahaan juga mulai memanfaatkan model AI terbaru Anthropic untuk mendeteksi kerentanan pada kode program mereka.

Di sisi lain, sejumlah analis memperingatkan bahwa gelombang IPO perusahaan AI berukuran raksasa berpotensi menyerap sebagian besar likuiditas investor dan mengurangi minat terhadap IPO perusahaan yang lebih kecil.

"Apa yang tidak diinginkan OpenAI adalah ketika modal di pasar publik sudah terserap lebih dulu," kata Gil Luria, Managing Director D.A. Davidson.

Menurutnya, selain SpaceX dan Anthropic yang lebih dulu mengantre IPO, perusahaan teknologi besar yang sudah tercatat di bursa juga berpotensi menghimpun dana tambahan dalam jumlah besar melalui penerbitan saham baru.

Sengketa Hukum Berakhir

Jalan OpenAI menuju pasar saham juga semakin terbuka setelah perusahaan memenangkan sengketa hukum yang diajukan Elon Musk.

OpenAI didirikan pada 2015 sebagai organisasi nirlaba yang berfokus pada riset AI. Namun pada 2019, perusahaan membentuk entitas bisnis berorientasi laba untuk mendukung kebutuhan pendanaan yang terus meningkat.

Struktur unik tersebut sempat menjadi sorotan setelah CEO OpenAI, Sam Altman, sempat diberhentikan dan kemudian kembali menjabat pada akhir 2023.

Pada Desember 2024, OpenAI mengumumkan rencana restrukturisasi dengan membentuk perusahaan berbadan hukum public benefit corporation untuk mempermudah penghimpunan modal dalam jumlah besar.

Langkah tersebut memicu gugatan dari Elon Musk yang menuduh OpenAI menyimpang dari misi awalnya sebagai organisasi yang bertujuan memberikan manfaat bagi kemanusiaan.

Namun pada Mei 2026, juri di AS memutuskan OpenAI tidak bersalah. Putusan tersebut dinilai menghilangkan salah satu hambatan hukum terbesar yang sebelumnya membayangi rencana IPO perusahaan AI tersebut.