Era Digital Media (AWAN) Resmi Melantai di Bursa, Ini Fokus Bisnisnya ke Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cepatnya digitalisasi mendorong banyak perusahaan digital mencari pendanaan eksternal. Yang terbaru, PT Era Digital Media Tbk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/4). Emiten ini menggunakan kode saham AWAN.

Sejak melantai di BEI, harga saham AWAN nyaman berada di zona hijau. Hingga penutupan perdagangan, Jumat (28/4) harga saham AWAN naik 24,59% ke level Rp 304.

Padahal, pada penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO), AWAN melepas 75 juta saham dengan harga yang dipatok sebesar Rp 100 – Rp 110 per lembar saham.


Baca Juga: Sepanjang Tahun Ini, Era Digital Media (AWAN) Targetkan Pertumbuhan Laba 100%

Dari hasil bookbuilding, terbentuk harga penawaran umum final sebesar Rp 100 per saham sehingga dana IPO yang akan diperoleh sebesar Rp 75 miliar.

Direktur PT Era Digital Media Tbk Shaane Harjani mengatakan, IPO ini  merupakan babak baru dalam sejarah perjalanan perusahaan dan Eranyacloud.

"Dengan resmi melantai di BEI, kami semakin dekat menuju visi kami yaitu Menjadi perusahaan teknologi yang terus berinovasi dalam mengembangkan produk maupun jasa dengan pelayanan terbaik di Indonesia," ujarnya pekan lalu.

Shaane menjelaskan, dari 80% dana IPO yang disalurkan kepada anak usahanya, Eranyacloud yang bergerak dalam bisnis komputasi awan.

Sebanyak 70% akan digunakan untuk pembelian 189 server yang akan dipergunakan untuk penambahan kapasitas server. Sebabnya, per Januari 2022 penggunaan kapasitas server sudah mencapai 70% dari total kapasitas.

"Target klien seiring penambahan server ditambah visi yang besar usai IPO harapannya bisa 2 kali lipat untuk klien base," sebutnya.

Selain itu juga akan digunakan sebagai pengembangan beberapa produk baru yang rencananya akan launching di tahun 2023, antara lain Eranyacloud Dashboard, Simple Storage Service (S3 Storage), Content Delivery Network (CDN) dan GPU Server (Graphics Processing Unit).

Sisanya, akan digunakan untuk modal kerja Eranyacloud meliputi gaji & kesejahteraan karyawan, sewa kantor, harga pokok penjualan (HPP), kegiatan pemasaran, sertifikasi perusahaan dan pengembangan karyawan untuk mendukung pemasaran, pengembangan produk dan operasional Eranyacloud.

Shaane menjelaskan, fokus perusahaan mengembangkan anaknya lantaran prospek yang menjanjikan melihat pada progres pertumbuhan bisnis komputasi awan. Sebab, pada 2021 pendapatan Eranyacloud melambung hingga 350%.

Pada 2022, kontribusi dari bisnis cloud juga positif. AWAN mencatatkan pendapatan konsolidasi yang belum diaudit sebesar Rp 29,89 miliar, atau tumbuh 4,91% dari tahun 2021 sebesar Rp 28,49 miliar.

Baca Juga: Resmi IPO, Begini Rencana Penggunaan Dana Era Digital Media (AWAN)

Kenaikan tersebut disebabkan oleh kenaikan pendapatan pada penyimpanan dan pengolahan data/cloud Rp 6,31 miliar atau sebesar 371,7%.

Kontribusi terbesar kenaikan pada periode 31 Desember 2022 atas pendapatan usaha berasal dari penambahan pelanggan sebesar 23 menjadi 49 pelanggan cloud.

Sebagai informasi, AWAN saat ini memiliki dua sumber pendapatan. Pertama jasa konten SMS premium yang dijalankan Era Digital Media dan kedua segmen komputasi awan yang dijalankan Eranyacloud.

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pun tumbuh menjadi Rp 11,68 miliar. Angka itu naik 25,45% dari sebelumnya sebesar Rp 9,31 miliar.

Untuk tahun ini, Shaane menargetkan pertumbuhan pendapatan Eranyacloud hingga 300% sementara laba bersih dipatok tumbuh 100%. Secara konsolidasi, ditargetkan pendapatan AWAN sebesar 10%-20% dan laba bersih mencapai 100%.

Optimisme kenaikan laba bersih signifikan itu karena perseroan tidak harus membakar uang untuk mengembangkan Eranyacloud. "Progres di kuartal IV 2022 sudah mulai stabil antara pendapatan cloud dengan pengeluaran sehingga tidak perlu efisiensi," katanya.

Maklum, Eranyacloud baru mulai beroperasi pada 2020.

Per akhir kuartal I 2023, AWAN telah memiliki 60 klien yang menggunakan jasa Eranyacloud. Pada tiga bulan pertama tahun ini disebut ada penambahan 10 klien baru. Shanne menyebutkan saat ini kliennya masih dominan dari dalam negeri.

"Fokus kami memang ingin ke klien perusahaan lokal, belum ada rencana memperbesar klien foreign company (perusahaan asing)," katanya.

Meski begitu ia juga memiliki klien perusahaan asing, yakni Danone. Secara keseluruhan komposisi klien 90% lokal dan 10% perusahaan asing.

Sementara dari sisi progres kinerja, ia menyebutkan pendapatan dari segmen komputasi awan telah tumbuh 2 kali lipat di kuartal I 2023 dibandingkan kuartal I 2022. Maklum, sistem pembayaran komputasi awan sifatnya kontrak per tahun dengan pembayaran dilakukan per bulan.

"Monthly recurring dari kuartal I tahun lalu ke kuartal I 2023 itu naik 2 kali lipat," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi