Era KPR Bergeser, Pembelian Rumah Secara Tunai Naik Diam-Diam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) selama ini menjadi tulang punggung pembelian rumah di pasar primer. Namun, lanskap itu perlahan berubah. Data terbaru mengindikasikan dominasi KPR mulai tergerus.

Survei Bank Indonesia (BI) memperlihatkan tren yang tak bisa diabaikan, yakni porsi pembelian rumah melalui KPR menyusut dalam beberapa kuartal terakhir. Sebaliknya, transaksi dengan skema tunai dan tunai bertahap justru kian menguat.

Fenomena ini menggelitik. Di satu sisi, KPR identik dengan aksesibilitas—membuka jalan bagi masyarakat memiliki rumah tanpa harus menyediakan dana besar di awal. Namun di sisi lain, meningkatnya pembelian tunai memberi sinyal adanya pergeseran perilaku konsumen.


Survei BI menunjukkan porsi pembelian rumah di pasar primer pada kuartal I-2026 tercatat mencapai 69,87%, turun dari 70,88% pada kuartal sebelumnya dan 74,41% pada triwulan III-2025. 

Sementara porsi pembelian dengan skema pembayaran tunai bertahap meningkat naik dari 19,18% pada kuartal IV lalu menjadi 19,61% pada kuartal pertama tahun ini. Porsi pembayaran tunai penuh naik dari 9,94% menjadi 9,94%. 

Baca Juga: BCA Sediakan Program KPR Subsidi Bunga Tetap 5%

Survei tersebut juga menunjukkan nilai KPR semakin tumbuh lambat. Di triwulan pertama tahun ini hanya tumbuh 4,79% secara tahunan, menyempit dari kuartal IV yang tumbuh 7,05% dan pada kuartal III yang meningkat 9,13% secara tahunan. 

Paramount Land menjadi salah satu pengembang yang mencatat porsi cukup besar untuk penjualan rumah dengan skema tunai dan tunai bertahap. Hal ini sejalan dengan target pasar mereka yang menyasar segmen menengah atas, yang umumnya memiliki kemampuan finansial lebih kuat.

Direktur Paramount Land, Chrissandy Dave, mengungkapkan bahwa marketing sales perusahaan pada kuartal I-2026 mencapai Rp 1,13 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar 30%–40% berasal dari penjualan rumah, sementara sisanya disumbang oleh produk komersial.

Menariknya, dari penjualan rumah tersebut, sekitar 30%–40% dilakukan melalui skema tunai bertahap. Menurut Chrissandy, skema ini banyak diminati karena prosesnya lebih praktis dan tidak perlu melalui BI checking seperti KPR.

Dari sisi biaya, ia menegaskan bahwa skema tunai bertahap sebenarnya tidak jauh berbeda dengan KPR. Artinya, pilihan konsumen bukan didorong oleh faktor harga yang lebih murah, melainkan kemudahan dan kecepatan proses. “Skema ini dipilih bukan karena lebih murah, tapi karena lebih sederhana dan lebih cepat dibandingkan KPR,” jelasnya.

KPR tumbuh terbatas

Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai pemegang pangsa pasar KPR terbesar di Tanah Air hanya mencatat portofolio KPR tumbuh 6,84% secara tahunan jadi Rp 306,12 triliun per Maret 2026. Bank Central Asia (BCA) sebagai pemegang market share terbesar kedua tumbuh lebih tipis, sebesar 5,25% secara tahunan jadi Rp 142,4 triliun. 

Dalam tiga bulan pertama tahun ini, BTN hanya menyalurkan KPR Rp 8,26 triliun, turun 33,5% secara tahunan. Adapun BCA hanya mencatatkan new booking KPR sebesar Rp 8,5 triliun, masih tumbuh 6,25% secara tahunan. 

Adapun KPR Bank Mandiri hanya naik 5,78% secara tahunan, CIMB Niaga tercatat stagnan dan KPR Bank Permata kontraksi 7,3%. Sementara penyaluran KPR Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) lebih lebih baik, masing-masing tumbuh 9,32% dan 11,06%.

Baca Juga: Ini Bank yang Cetak Pertumbuhan KPR Tertinggi Hingga Kuartal I-2026

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, kredit properti masih tertahan akibat daya beli masyarakat yang belum meningkat signifikan, pertumbuhan ekonomi yang terbatas di kisaran 5%–5,4%, serta bunga masih tinggi. 

Myrdal memproyeksikan kredit properti tetap bisa tumbuh 8% pada tahun ini, sejalan dengan kredit domestik yang mendekati dua digit. "Tapi, pertumbuhannya masih dibayangi risiko global seperti fluktuasi komoditas dan ketidakpastian ekonomi," kata dia, Kamis (30/4).

Dari sisi kualitas, NPL KPR masih terjaga di sekitar 3,1%, namun bank diminta tetap memperkuat manajemen risiko dan seleksi kredit. Untuk mendorong pertumbuhan, Myrdal bilang, perbankan perlu memperkuat kerjasama dengan pengembang, memanfaatkan insentif pemerintah, serta memperluas digitalisasi dan pembiayaan ke segmen rumah menengah bawah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News