KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan era bunga tinggi dari Bank Indonesia (BI) dinilai merupakan langkah yang lebih diperlukan demi menempatkan stabilitas ekonomi sebagai prioritas utama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Meski suku bunga sudah dikerek 100 basis poin sepanjang paruh pertama tahun 2026, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan tetap mampu bertahan pada level yang sehat meskipun suku bunga acuan telah dinaikkan. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan perkembangan global dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa aspek stabilitas perlu menjadi fokus utama kebijakan moneter. Baca Juga: APINDO : Dampak Suku Bunga Tinggi Harus Diimbangi Dukungan Fiskal untuk Dunia Usaha "Dengan perkembangan akhir-akhir ini, stabilitas perlu menjadi prioritas," ujar David kepada Kontan, Kamis (18/6). Menurut David, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,75% merupakan langkah yang dapat dipahami untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi ke depan. Meski demikian, ia melihat tekanan inflasi global berpotensi lebih terkendali setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan ketegangan di Timur Tengah. "Kesepakatan AS-Iran memberikan sinyal positif bahwa tidak terjadi skenario ekstrem kenaikan inflasi," katanya. Walaupun risiko inflasi global mulai mereda, David menilai BI sebenarnya masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila diperlukan. Langkah tersebut terutama untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah lingkungan suku bunga global yang masih tinggi. "BI sebenarnya masih ada ruang untuk menaikkan suku bunga dalam rangka menjamin stabilitas dan daya tarik aset rupiah sekaligus menjangkar ekspektasi inflasi ke depan," jelasnya. Kendati demikian, David tidak melihat kenaikan suku bunga akan secara signifikan menghambat fungsi intermediasi perbankan. Ia memperkirakan penyaluran kredit perbankan masih mampu tumbuh dalam kisaran yang solid sepanjang tahun ini. "Pertumbuhan kredit juga diproyeksikan masih baik sekitar 9% hingga 12%," ujar David. David menilai aktivitas pembiayaan masih akan terjaga seiring permintaan kredit dari dunia usaha maupun rumah tangga yang tetap tumbuh. Selain itu, kondisi likuiditas perbankan yang relatif memadai juga dinilai akan mendukung ekspansi kredit. David menilai kombinasi antara stabilitas makroekonomi yang terjaga dan pertumbuhan kredit yang tetap positif menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tantangan global yang masih membayangi. Namun perlu diketahui, prioritas menjaga stabilitas ekonomi tidak datang tanpa biaya. Kenaikan BI Rate menandai berlanjutnya era suku bunga tinggi yang berpotensi mengerek biaya pinjaman di sektor perbankan. Debitur dengan kredit berbunga mengambang (floating rate) menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena kenaikan suku bunga acuan pada akhirnya akan tercermin pada besaran cicilan yang harus dibayar. "Kenaikan biaya pembiayaan usaha pada akhirnya akan memengaruhi modal kerja maupun investasi. Dalam kondisi dunia usaha yang masih menghadapi perlambatan permintaan global, tekanan biaya produksi, dan berbagai komponen high cost economy, ruang ekspansi usaha menjadi semakin terbatas," kata Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia. Baca Juga: Sidak Kemendag Ungkap Harga Minyakita di Pasar Palmerah Masih Normal Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News