Era Warsh Dimulai, The Fed Tinggalkan Forward Guidance dan Lebih Hawkish



KONTAN.CO.ID - Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh memulai era baru kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dengan mempertahankan suku bunga acuan, sekaligus meluncurkan evaluasi besar-besaran terhadap cara bank sentral mengambil keputusan dan berkomunikasi dengan publik.

Dalam rapat kebijakan pertamanya sejak menjabat bulan lalu, Warsh berhasil menggalang dukungan bulat dari para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.

Baca Juga: Hasil Inggris vs Kroasia 4-2: Harry Kane Samai Rekor Gary Lineker


Namun, sinyal yang muncul dari rapat tersebut menunjukkan arah kebijakan yang lebih hawkish dibandingkan periode sebelumnya.

Proyeksi ekonomi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir 2026 guna mengendalikan inflasi yang masih berada di atas target 2%.

Salah satu perubahan paling mencolok adalah penyederhanaan pernyataan kebijakan The Fed. Dokumen hasil rapat kali ini jauh lebih ringkas dan tidak lagi memuat panduan (forward guidance) mengenai kemungkinan langkah kebijakan berikutnya.

Pendekatan tersebut mengingatkan pada gaya komunikasi era mantan Ketua The Fed Alan Greenspan yang cenderung lebih singkat dan minim petunjuk bagi pasar.

"Saya tidak bisa memberikan panduan mengenai apa yang akan kami lakukan berikutnya. Kabar baiknya, kami akan bertemu lagi dalam enam minggu," kata Warsh dalam konferensi pers pertamanya sebagai Ketua The Fed.

Baca Juga: Pernyataan Hasil FOMC The Fed (17 Juni 2026)

Menurut Warsh, praktik forward guidance tidak lagi cocok digunakan dalam kondisi ekonomi saat ini.

Pernyataan kebijakan terbaru juga mencerminkan pandangan Warsh mengenai kondisi ekonomi AS. The Fed menyoroti kuatnya pertumbuhan produktivitas dan investasi modal sebagai faktor yang dapat menopang perekonomian.

Di sisi lain, inflasi yang masih tinggi disebut sebagian dipengaruhi gangguan pasokan dan kenaikan harga energi, terutama selama konflik Iran yang sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia.

Meski mengadopsi nada yang lebih hawkish, Warsh menilai peningkatan produktivitas dan normalisasi harga energi berpotensi menciptakan ruang bagi penurunan suku bunga dalam jangka panjang.

Ekonom Jefferies Thomas Simons menilai, perubahan dalam pernyataan kebijakan kali ini sangat signifikan.

"Perubahan dalam pernyataan kebijakan sangat mendasar. Jumlah kata berkurang drastis dan sinyal kebijakan menjadi lebih seimbang. Ini merupakan kembalinya gaya komunikasi era Greenspan," ujarnya.

Baca Juga: Para Pemimpin G7 Berjanji Mempererat Koordinasi Risiko dan Peluang Terkait AI

Evaluasi Menyeluruh

Selain mengubah pendekatan komunikasi, Warsh juga mengumumkan pembentukan lima gugus tugas (task force) untuk mengevaluasi berbagai aspek penting kebijakan bank sentral.

Kajian tersebut mencakup pengelolaan neraca The Fed, strategi komunikasi, sumber data ekonomi, pengukuran produktivitas dan ketenagakerjaan, hingga kerangka kerja pengendalian inflasi.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya terbesar untuk mereformasi cara kerja The Fed dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Baca Juga: BMW Bidik India Jadi Pasar MINI dengan Pertumbuhan Tercepat pada 2026

Chief Investment Officer Global Fixed Income BlackRock, Rick Rieder, menilai transisi kepemimpinan kali ini berbeda dibandingkan pergantian ketua The Fed sebelumnya.

"Investor harus terbiasa dengan lebih sedikit sinyal dari The Fed. Jika diiringi peningkatan kualitas data dan analisis, perubahan ini justru bisa menjadi perkembangan yang sehat bagi pasar," katanya.

Meski demikian, pasar keuangan merespons perubahan tersebut dengan hati-hati. Setelah pengumuman kebijakan, saham-saham Wall Street melemah sementara imbal hasil obligasi jangka pendek melonjak.

Pelaku pasar kini mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 meningkat, seiring proyeksi The Fed yang menunjukkan inflasi masih akan berada di level 3,6% pada akhir tahun ini, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 2,7%.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan sedikit melambat. Namun tingkat pengangguran diproyeksikan tetap relatif rendah di kisaran 4,3% pada akhir 2026.

Baca Juga: Data EIA: Persediaan Minyak Mentah dan Bensin AS Turun Pekan Lalu, Distilat Naik

Warsh menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral tetap memastikan inflasi kembali ke target 2%.

"The Committee will deliver price stability," tegasnya.

Meski demikian, ia juga mengingatkan agar pasar tidak terlalu bergantung pada proyeksi suku bunga yang dipublikasikan The Fed karena seluruh kerangka kebijakan saat ini sedang dalam proses evaluasi.

Sejumlah analis menilai pendekatan baru tersebut berpotensi membuat The Fed menjadi institusi yang lebih ramping, tetapi juga lebih sulit ditebak oleh pasar keuangan global.