KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Erajaya Swasembada Tbk (
ERAA) semakin memperkuat pendekatan
environmental, social, and governance (ESG) di tengah ekspansi dan pertumbuhan bisnis yang terus berlanjut. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap praktik bisnis berkelanjutan, aspek ESG kini menjadi salah satu pertimbangan utama bagi investor maupun konsumen dalam menilai perusahaan.
Baca Juga: Transaksi Kripto RI Turun Maret 2026, Dipicu Sentimen Global dan Domestik Publik tidak hanya melihat kinerja keuangan, tetapi juga bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan, tata kelola operasional, serta kontribusi sosialnya. Ekspektasi terhadap transparansi dan praktik bisnis yang bertanggung jawab pun semakin meningkat, khususnya di sektor
consumer-facing, seiring meningkatnya kesadaran pasar terhadap pentingnya keberlanjutan dalam menjaga bisnis jangka panjang. Momentum ini tercermin dari langkah Erajaya yang untuk pertama kalinya merilis sustainability report secara terpisah dari
annual report. Laporan keberlanjutan perdana tersebut dirilis bersamaan dengan laporan keuangan kuartal I-2026 pada 30 April 2026.
Baca Juga: Transaksi Kripto Turun, Ini Katalis yang Bisa Dongkrak Lagi Pasar Dalam laporan itu, Erajaya mencatat ESG Score sebesar 17,03 dengan kategori Low Risk berdasarkan penilaian Sustainalytics IDX ESG Risk Rating yang bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia. Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tren pemisahan
sustainability report menunjukkan adanya perubahan pendekatan perusahaan terhadap ESG. “ESG kini mulai menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar formalitas pelaporan,” ujarnya melalui keterangannya Rabu (6/5/2026). Di sisi kinerja, ERAA mencatat pertumbuhan yang signifikan. Pada kuartal I-2026, penjualan neto mencapai Rp22,4 triliun atau tumbuh 41,12% secara tahunan (YoY).
Laba bersih bahkan melonjak 133,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara total aset meningkat menjadi Rp31,5 triliun.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham ASII, TOWR, dan CPIN, Perdagangan Kamis (7/5) Pertumbuhan ini mencerminkan kontribusi diversifikasi bisnis terhadap kinerja perusahaan. Namun, lonjakan laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan juga menjadi perhatian tersendiri. “Lonjakan laba bersih perlu dicermati. Bisa menjadi sinyal positif jika didorong efisiensi, tetapi juga berisiko jika berasal dari faktor non-berulang,” jelas Hendra.