Eropa Memanas Ekstrem, 95% Wilayah Catat Suhu di Atas Normal pada 2025



KONTAN.CO.ID - Hampir seluruh wilayah Eropa mengalami suhu di atas rata-rata sepanjang 2025, seiring berbagai rekor iklim baru yang tercipta akibat dampak perubahan iklim yang semakin memburuk.

Melansir Reuters Rabu (29/42026), mengutip laporan tahunan yang dirilis World Meteorological Organization bersama Copernicus Climate Change Service menyebutkan sekitar 95% wilayah Eropa mencatat suhu lebih tinggi dari normal.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Lanjutkan Tren Kenaikan Rabu (29/4) Pagi, Brent Tembus US$111,78


Tidak hanya itu, kebakaran hutan melalap lebih dari 1 juta hektare lahan luas yang bahkan melampaui wilayah Cyprus menjadikannya sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.

Eropa sendiri tercatat sebagai benua dengan pemanasan tercepat di dunia. Dampaknya semakin nyata, mulai dari gelombang panas ekstrem, suhu laut yang memecahkan rekor, hingga kekeringan luas yang menekan sektor pertanian.

Lebih dari separuh wilayah Eropa mengalami kondisi kekeringan pada Mei 2025. Secara keseluruhan, tahun tersebut menjadi salah satu dari tiga tahun terkering dalam hal kelembapan tanah sejak 1992.

Suhu permukaan laut di kawasan Eropa juga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, dengan sekitar 86% wilayah laut mengalami gelombang panas laut yang intens.

Baca Juga: FIFA Perbesar Insentif Tim Piala Dunia 2026, Total Dana Naik 15%

Samantha Burgess dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan.

“Perubahan iklim bukan ancaman masa depan, ini adalah realitas saat ini. Laju perubahan yang terjadi menuntut aksi yang jauh lebih mendesak,” ujarnya.

Kondisi ini juga memicu kekhawatiran terhadap wilayah dingin di Eropa, yang selama ini berperan penting dalam menahan laju pemanasan global melalui fenomena albedo effect yakni kemampuan permukaan es dan salju memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa.

Namun, mencairnya es akibat suhu yang lebih tinggi mengurangi efek tersebut, sekaligus berkontribusi pada kenaikan permukaan laut.

Di kawasan sub-Arktik seperti Norway, Sweden, dan Finland, gelombang panas terpanjang dalam sejarah terjadi pada Juli 2025, berlangsung selama tiga pekan berturut-turut. Bahkan, suhu di dalam Lingkar Arktik sempat menembus 30 derajat Celsius.

Baca Juga: Trump Dikabarkan Pilih “Cekik” Iran Lewat Blokade, Serangan Militer Ditahan

Sementara itu, Iceland mencatat kehilangan gletser terbesar kedua sepanjang sejarah pada 2025.

Laporan ini mempertegas bahwa dampak perubahan iklim di Eropa semakin luas dan intens, sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk tetap konsisten dalam kebijakan pengurangan emisi, di tengah tekanan ekonomi dan industri.