Eropa Pertimbangkan Pelepasan Cadangan Solar Menyusul Tekanan dari AS



KONTAN.CO.ID – BRUSSELS. Negara-negara Uni Eropa (UE) tengah membahas opsi untuk menggelontorkan cadangan diesel darurat guna meredam lonjakan harga bahan bakar yang terjadi di tengah gangguan pasokan energi global akibat perang Iran.

Pembahasan tersebut mencuat setelah Prancis mengusulkan agar negara-negara Eropa melepaskan sekitar 50 juta barel stok diesel dari cadangan darurat. Pada saat yang sama, negara-negara anggota Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) diusulkan melepas 50 juta barel minyak mentah ke pasar.

Tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa usulan Prancis dibahas dalam konferensi melalui sambungan telepon yang melibatkan pemerintah negara-negara Uni Eropa pada Jumat (2/10/2026).


Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya internasional untuk merespons tekanan terhadap pasar energi global yang mengalami gangguan pasokan dan kenaikan harga bahan bakar. IEA sebelumnya telah mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak darurat sebesar 400 juta barel sebagai respons terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Prancis Pimpin Pembahasan

Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan memimpin konferensi video dengan para pemimpin negara-negara G7 pada Jumat pukul 14.30 waktu Paris. Pertemuan tersebut akan membahas kondisi energi global.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 2%, Pasar Antisipasi Pelepasan Stok BBM dan Crude

Menurut dua sumber Reuters, sebagian stok diesel Eropa akan dilepaskan dalam periode 20 hari. Langkah tersebut merupakan respons terhadap permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar negara-negara segera menggunakan cadangan bahan bakar mereka untuk membantu menurunkan harga energi.

Tekanan terhadap negara-negara Eropa meningkat seiring pertimbangan pemerintah Amerika Serikat untuk melarang ekspor diesel dari AS. Kebijakan tersebut dipertimbangkan sebagai salah satu cara untuk menekan harga bahan bakar domestik menjelang pemilihan sela Kongres AS pada 3 November.

Namun, Uni Eropa harus mempertimbangkan kebutuhan untuk menurunkan biaya bahan bakar sekaligus menjaga cadangan darurat. Cadangan tersebut diperlukan sebagai perlindungan apabila pasokan dari negara-negara produsen di kawasan Teluk kembali terganggu akibat perang Iran.

Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi Prancis belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Istana Elysee mengatakan Macron telah berbicara dengan Trump pada Kamis malam. Dalam pembicaraan tersebut, Macron menekankan pentingnya kerja sama untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar serta memastikan ketersediaan produk olahan minyak di pasar global.

AS Dorong Eropa Lepas Cadangan Diesel

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa pemerintahan Trump meminta Jerman dan Prancis untuk mengurangi cadangan diesel darurat mereka. Permintaan tersebut disertai ancaman kemungkinan pemberlakuan larangan ekspor diesel dari AS.

Dua sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Amerika Serikat bahkan meminta negara-negara besar Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, melepaskan hingga 100 juta barel diesel dalam waktu 20 hari.

Dalam pembahasan pada Jumat, negara-negara Uni Eropa mempertimbangkan untuk menjadikan komitmen AS agar tidak memberlakukan larangan ekspor diesel secara sepihak sebagai salah satu syarat kesepakatan pelepasan cadangan diesel.

Dengan demikian, pembahasan pelepasan cadangan tidak hanya berkaitan dengan stabilisasi harga bahan bakar, tetapi juga dengan jaminan keberlanjutan arus perdagangan produk minyak olahan di pasar global.

Baca Juga: Iran Siapkan Serangan Balasan Lebih Besar Jika AS Kembali Menyerang

Pasokan Diesel Global Tertekan

Pasokan diesel dunia saat ini menghadapi tekanan dari sejumlah faktor. Selain perang Iran, Rusia memberlakukan larangan ekspor diesel setelah sejumlah kilangnya mengalami kerusakan akibat serangan Ukraina.

Di sisi lain, kilang minyak China juga menghentikan ekspor bahan bakar pada Oktober untuk memperkuat stok domestik. Kondisi tersebut semakin memperketat pasokan produk minyak olahan di pasar internasional.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa China menghentikan ekspor produk bahan bakar ke sejumlah tujuan di luar Hong Kong dan Makau pada Oktober. Kebijakan tersebut telah menekan pasokan bahan bakar di Asia dan turut memengaruhi sejumlah negara pengimpor utama.

Eropa sendiri dalam beberapa tahun terakhir semakin bergantung pada impor diesel dari Amerika Serikat. Sebelumnya, kawasan tersebut lebih banyak mengandalkan pasokan dari Rusia dan negara-negara Timur Tengah.

Setara 17% Cadangan Diesel Darurat UE

Usulan pelepasan 50 juta barel diesel tersebut setara dengan sekitar 17% dari total cadangan darurat diesel dan gasoil Uni Eropa berdasarkan data Eurostat hingga Mei 2025.

Volume tersebut juga setara dengan sekitar 3% konsumsi diesel tahunan Uni Eropa.

Besarnya porsi cadangan yang akan dilepaskan membuat negara-negara Eropa harus mempertimbangkan kembali tingkat keamanan stok energi mereka. Pelepasan cadangan dapat membantu menambah pasokan dalam jangka pendek, tetapi sekaligus mengurangi bantalan yang tersedia jika terjadi gangguan pasokan baru.

IEA sebelumnya mencatat bahwa negara-negara anggotanya memiliki lebih dari 1,2 miliar barel stok minyak darurat pemerintah serta sekitar 600 juta barel stok industri yang berada di bawah kewajiban pemerintah.

Baca Juga: Pasar Kerja AS Tetap Solid, Klaim Pengangguran Turun Jadi 197.000

IEA Sudah Lepas Cadangan 400 Juta Barel

Pada 11 Maret 2026, sebanyak 32 negara anggota IEA sepakat menyediakan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat untuk pasar global. IEA menyebut langkah tersebut sebagai pelepasan cadangan terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.

Pelepasan tersebut mencakup minyak mentah dan produk minyak olahan. Untuk kawasan Eropa, kontribusi cadangan terutama berasal dari produk minyak olahan.

IEA mengatakan keputusan tersebut diambil untuk merespons gangguan besar terhadap pasar minyak akibat konflik di Timur Tengah. Gangguan tersebut juga berdampak pada jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.