ERP Indonesia Perluas Pasar Solusi IT Inventory untuk Industri Manufaktur



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Eka Reka Palakerti Indonesia (ERP Indonesia) melihat kebutuhan digitalisasi di kawasan berikat terus meningkat seiring perubahan sistem pengawasan kepabeanan yang semakin terintegrasi. 

Untuk menangkap peluang tersebut, perusahaan mengimplementasikan platform BZone IT Inventorydi PT Mattel Indonesia guna mendukung pengelolaan logistik, inventori, hingga pelaporan kepabeanan dalam satu sistem.

Chief Executive Officer (CEO) ERP Indonesia Anang Ind Pratama mengatakan, perusahaan manufaktur yang memanfaatkan fasilitas kawasan berikat kini membutuhkan sistem yang tidak hanya mampu mendukung operasional, tetapi juga memastikan kepatuhan terhadap regulasi.


Menurutnya, perusahaan manufaktur, khususnya yang beroperasi di kawasan berikat, membutuhkan sistem yang tidak hanya mampu memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga mengintegrasikan proses operasional secara menyeluruh. 

"BZone kami kembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui otomatisasi proses dan terintegrasi dengan sistem pemerintah sehingga perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kepatuhan," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga: PalmCo Perkuat Modernisasi dan Digitalisasi Perkebunan

Melalui implementasi tersebut, Mattel Indonesia dapat mengelola proses kawasan berikat, operasional logistik, hingga inventori melalui satu platform yang terintegrasi. Sistem ini juga telah terhubung dengan CEISA 4.0 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sehingga mendukung otomatisasi pelaporan kepabeanan dan pemantauan inventori secara real-time.

BZone sendiri merupakan platform Bonded Zone IT Inventory yang dikembangkan untuk perusahaan pengguna fasilitas Kawasan Berikat (Kaber), Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), hingga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Platform ini mengintegrasikan pengelolaan inventori, proses manufaktur, logistik, dan pelaporan kepabeanan dalam satu sistem.

Anang mengatakan, meningkatnya kompleksitas rantai pasok dan digitalisasi pengawasan kepabeanan membuat perusahaan manufaktur harus menyesuaikan sistem operasionalnya. Transformasi digital di sektor manufaktur saat ini juga didorong oleh perubahan regulasi. 

"Bagi perusahaan manufaktur berorientasi ekspor, kepatuhan bukan lagi sekadar memenuhi regulasi, tetapi menjadi fondasi kelangsungan bisnis karena ketidaksesuaian data maupun pelaporan dapat menghambat proses logistik, memperlambat arus barang, hingga mempengaruhi kelancaran operasional perusahaan," katanya.

Ia menilai implementasi BZone di Mattel Indonesia menunjukkan solusi teknologi yang dikembangkan di dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan operasional perusahaan manufaktur berskala global.

Sementara itu, Chief Commercial Officer ERP Indonesia Contardo Satria Gondokusumo mengatakan implementasi di Mattel Indonesia menjadi bagian dari strategi perusahaan memperluas penetrasi di sektor manufaktur berorientasi ekspor.

Baca Juga: Digitalisasi Distribusi Bantu UMKM Tingkatkan Efisiensi

Menurutnya, setelah lebih dari delapan tahun mengembangkan solusi ERP bagi industri manufaktur, implementasi BZone di Mattel Indonesia menjadi salah satu proyek dengan tingkat kompleksitas tinggi karena harus menangani volume transaksi besar tanpa mengganggu aktivitas logistik dan ekspor-impor.

"Kerja sama ini mencerminkan semakin luasnya penerapan BZone pada perusahaan dengan kebutuhan operasional yang kompleks serta standar kepatuhan yang tinggi," ujarnya.

ERP Indonesia menambahkan sistem BZone dirancang fleksibel sehingga dapat menyesuaikan perubahan regulasi di masa mendatang. Implementasi di Mattel Indonesia juga akan dilakukan secara bertahap untuk mendukung integrasi proses bisnis di departemen logistik dan ekspor-impor sekaligus memastikan seluruh transaksi terdokumentasi secara akurat.

Perseroan menilai prospek digitalisasi di sektor manufaktur masih terbuka lebar. Mengacu pada Worldwide Digital Transformation Spending Guide dari International Data Corporation (IDC), belanja global untuk transformasi digital diperkirakan mencapai US$ 3,9 triliun pada 2027. 

Sementara itu, East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 menunjukkan skor daya saing digital Indonesia meningkat dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026.

Ke depan, ERP Indonesia akan terus mengembangkan BZone untuk membantu perusahaan manufaktur mengintegrasikan proses operasional, meningkatkan efisiensi, serta memenuhi tuntutan kepatuhan terhadap regulasi kepabeanan di tengah meningkatnya digitalisasi sektor industri.

Baca Juga: Peruri Dorong Percepatan Digitalisasi Dokumen Rekrutmen Lewat Layanan e-Meterai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News