Es Teler 77 ekspansi gerai ke Timur Tengah



JAKARTA. PT Top Food Indonesia lewat merek Es teler 77 siap mengincar pasar Timur Tengah. Rencana ekspansi ini bagian dari target perusahaan mencapai pertumbuhan outlet hingga 200% hingga lima tahun mendatang.Andrew Nugroho, Direktur Marketing Es Teler 77, menargetkan, pada 2012 Es Teler 77 akan hadir di Arab Saudi, Jeddah, dan Mesir dengan masing-masing memiliki 3 outlet di tiap negara. Investasi satu gerai menelan biaya hingga Rp 600-900 juta. "Kami gandeng sejumlah franchisee di sana," ungkapnya, Rabu (11/10).Menurut Andrew, potensi pembeli masakan Indonesia di negara Timur Tengah sangat besar. Ia membidik para pembeli dari kalangan tenaga kerja Indonesia (TKI) dan warga negara asli penggemar masakan Indonesia. Ia optimistis target omzet per gerai sebesar Rp 500 juta-Rp 1 miliar per bulan akan tercapai. Guna menunjang suplai SDM untuk ekspansi, Es Teler 77 baru saja selesai membangun gedung pusat pelatihan SDM di Serpong Tangerang Selatan. Es Teler 77 membangun gedung dengan investasi Rp 20 milliar untuk pendidikan dan pelatihan 1.500 karyawan. Es Teler 77 sebenarnya sudah memiliki gerai di luar Indonesia seperti di Australia, Singapura, dan Malaysia. Hingga September 2011 sudah mencapai 180 gerai. Dari jumlah tersebut, Es teler 77 menggandeng 35 mitra yang menguasai 40% dari total gerai yang ada. Andrew optimistis, dalam jangka waktu lima tahun mendatang outletnya bisa tumbuh hingga 200% atau mencapai lebih dari 300 outlet. Selain pembenahan management, Es Teler juga akan memperkuat merek dengan penambahan menu menu baru. "Kami juga memperkuat dengan supplier lokal," tuturnya.Sementara itu, Anang Sukandar, Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menuturkan, setidaknya ada 11 merek waralaba lokal yang ekspansi keluar negeri. Waralaba tersebut mengincar pasar luar negeri yang banyak di datangi oleh para TKI. Para investor waralaba tertarik ekspansi karena bisnis ini kebal dari krisis global. "Daya beli konsumen dalam dan luar negeri terus naik dari tahun ke tahun," ungkapnya.Anang menuturkan tahun 2011 nilai pasar waralaba mencapai sebesar Rp 121 triliun 2011. Angka ini naik dari tahun 2010 yang mencapai sebesar 114 triliun. Total gerai waralaba di Indonesia mencapai 40.000 gerai. Dari jumlah gerai tersebut sebanyak 5.000 gerai dimiliki oleh investor asing. "Mudahnya perizinan waralaba asing membuat pengusaha lokal harus bersaing ketat," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News