ESDM Optimis Harga Nikel Bertahan di Level US$ 17.000 per Ton hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan pergerakan harga komoditas mineral, khususnya nikel, akan tetap stabil pada kuartal IV-2026.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin mengatakan, meskipun terdapat tekanan dari besarnya stok nikel internasional yang telah mendekati angka 500.000 ton, pemerintah tetap optimis terhadap tren pasar hingga penutupan tahun.

"Mineral sih kita optimis, tapi memang untuk nikel setahu saya kan ada stok internasional itu udah mendekati ke 500.000 ton ya. Itu juga jadi salah satu yang membuat agak tertekan," ujarnya saat ditemui di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).


Baca Juga: Inalum Pasang Target Produksi Alumunium Mencapai 280.000 Ton hingga Akhir 2026

Cecep mengungkapkan, pihaknya terus mencermati dinamika pasokan serta pasang surut permintaan nikel di pasar global yang mempengaruhi pergerakan harga. 

Kendati tekanan dari penumpukan pasokan global cukup terasa, kinerja harga pasar domestik dan dampak penyesuaian regulasi masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik.

"Tapi kedepannya untuk yang nikel mungkin kita bisa berharap bertahan di angka US$ 17.000-an per ton sampai akhir tahun," ungkapnya.

Cecep menyebutkan, sebelumnya pihaknya sempat mengkhawatirkan dampak dari penyesuaian Kebijakan Harga Patokan Mineral (HPM) Limonit terhadap pergerakan harga pasar. 

Namun, realisasi di lapangan menunjukkan penyesuaian tersebut tidak membawa dampak penurunan harga yang signifikan sebagaimana yang dikhawatirkan sebelumnya.

"Kemarin kita agak ragu juga takut pada saat kita ubah kebijakan HPM Limonit itu menjadi turun. Tapi ternyata nggak begitu besar penurunannya gitu," terangnya.

Sementara itu, lanjut Cecep, untuk komoditas mineral lain seperti tembaga dan emas, tren harga diperkirakan berpotensi terus meningkat hingga penghujung tahun.

Dia bilang, penguatan komoditas ini didorong oleh sentimen pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat yang berpotensi memicu lonjakan harga mineral logam secara signifikan.

"Tapi ya overall sih untuk target pemerintah, untuk PNBP bisa tercapai tahun ini tinggi juga. PNBP kita sekarang udah di angka hampir 160% dari target," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan, kinerja PNBP komoditas nikel per 31 Agustus 2026 menembus angka Rp 21 triliun, melonjak dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 10 triliun. 

Lonjakan penerimaan dari sektor nikel tersebut juga terjadi di tengah penurunan volume produksi dari para pelaku usaha. Tri mengungkapkan, produksi nikel nasional tercatat mengalami penurunan sekitar 13 juta ton ore pada periode Agustus 2026, namun tetap mampu menghasilkan setoran optimal bagi kas negara. 

"Jadi artinya kalau misalnya kita lihat dengan adanya pengelolaan yang baik, dengan kita tidak jor-joran untuk produksi, itu nyatanya akan memberikan dampak yang positif kepada negara dan kita semua," tuturnya.

Adapun hingga 31 Agustus tahun 2026 PNBP sektor minerba telah mencapai Rp 108 triliun. Sebagai pembanding, total realisasi PNBP dari subsektor ini pada keseluruhan tahun 2025 tercatat mencapai Rp 135,16 triliun.

Baca Juga: UU Pelindungan Ketenagakerjaan Sah, Perusahaan Kian Hati-hati Rekrutmen dan Investasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News