KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan peletakan batu pertama (
groundbreaking) sejumlah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pada pertengahan 2026. Proyek ini dirancang hadir di 34 titik kabupaten/kota di Indonesia dengan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari. Langkah ini menjadi bagian dari percepatan program waste to energy (WtE) yang diharapkan mampu menjawab persoalan pengelolaan sampah sekaligus menambah pasokan energi berbasis sumber daya lokal.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan, pemerintah telah membuka proses lelang proyek PLTSa tersebut. Dengan tahapan lelang yang kini berjalan, ia optimistis sejumlah proyek dapat segera memulai pembangunan pada pertengahan tahun.
Baca Juga: Ekonom Ungkap Proyek PLTSa Harusnya Tidak Dilaksanakan Danantara, Ini Alasannya “Jadi diharapkan tahun 2026 pertengahan ini sudah ada yang dilakukan groundbreaking,” ujar Yuliot di Jakarta, Selasa (3/2/2026). Meski demikian, Yuliot belum merinci berapa jumlah proyek yang akan memulai pembangunan pada periode tersebut. Ia menargetkan beberapa PLTSa sudah dapat beroperasi pada 2027. Menurut Yuliot, durasi pembangunan PLTSa umumnya memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 tahun, dengan catatan ketersediaan lahan sudah terpenuhi. Kepastian lahan menjadi salah satu faktor kunci percepatan realisasi proyek-proyek ini di daerah. Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga menargetkan groundbreaking proyek WtE atau PLTSa pada Maret 2026. CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut proses penentuan pemenang lelang kini jauh lebih cepat dibandingkan pola sebelumnya yang bisa memakan waktu hingga tiga sampai empat tahun per proyek. "Dulu negosiasinya satu project (PLTSa) 3-4 tahun, baru putus (selesai). Sekarang, kita baru buka (lelang) Desember kemarin, mulai bidik di awal, target kita Maret sudah bisa groundbreaking," ungkap Rosan dalam agenda diskusi bertajuk Peran Danantara Indonesia Mendorong Pertumbuhan Berkualitas di Jakarta, dikutip Senin (19/01/2026).
Baca Juga: Penggunaan Insinerator pada PLTSa Garapan Danantara Berdampak Negatif bagi Lingkungan Rosan menambahkan, program WtE sejatinya telah bergulir sejak 2014, namun implementasinya belum berjalan optimal. Hingga saat ini, baru PLTSa di Surabaya dan Surakarta yang telah beroperasi secara komersial. "Faktor ketidakpastian itu, sehingga kalau kita lihat kan sampah itu sudah sangat banyak, kalau kita lihat minatnya sangat luar biasa, dalam maupun luar negeri," tutur Rosan.
Peningkatan minat investor, baik domestik maupun asing, dinilai menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mempercepat realisasi proyek PLTSa di berbagai daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News