KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerapan prinsip
environmental, social, and governance (ESG) semakin menjadi pertimbangan dalam keputusan investasi dan pembiayaan. Kinerja keuangan tetap menjadi faktor utama. Tapi kemampuan perusahaan mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola mulai ikut menentukan daya tarik perusahaan di mata investor. Perubahan tersebut menyebabkan ESG tidak lagi sebatas pemenuhan regulasi ataupun pelaporan keberlanjutan. Bagi perusahaan, penerapan ESG dapat berkaitan dengan pengelolaan risiko, reputasi, keberlanjutan bisnis hingga peluang memperoleh pendanaan dalam jangka panjang. Anggota Dewan Juri ESG Award 2026 by Kehati, Ongki Kurniawan mengatakan, keberhasilan perusahaan ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan menciptakan nilai ekonomi sekaligus memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat.
"ESG bukan lagi sekadar memenuhi ekspektasi regulator atau investor. ESG telah menjadi fondasi bagi perusahaan untuk membangun bisnis yang tangguh, dipercaya dan relevan dalam jangka panjang," kata Ongki dalam keterangannya, Sabtu (8/8)., Menurut Ongki, perusahaan juga perlu menunjukkan, penerapan ESG memberikan dampak nyata terhadap lingkungan, masyarakat, serta tata kelola yang bertanggung jawab. Dengan demikian, ESG menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga keberlanjutan bisnis. Di Indonesia, investasi berbasis ESG juga terus berkembang seiring bertambahnya instrumen dan acuan bagi investor. Yayasan Kehati bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan indeks SRI-Kehati sejak 2009. Pengembangan berlanjut melalui peluncuran ESG Sector Leaders IDX Kehati dan ESG Quality 45 IDX Kehati pada 2021. Kehadiran sejumlah indeks tersebut memberikan tambahan referensi bagi investor yang ingin memasukkan faktor ESG dalam pemilihan portofolio investasi.
Baca Juga: Usai Pajak Marketplace Ditunda, Blibli Fokus Rampungkan Perbaikan Sistem Meski demikian, pengembangan investasi ESG di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Produk investasi berbasis ESG masih relatif terbatas dibandingkan produk investasi konvensional. Pemahaman mengenai investasi berkelanjutan di kalangan pelaku pasar dan masyarakat juga masih perlu diperluas. Padahal, semakin besarnya perhatian terhadap ESG berpotensi memengaruhi aliran dana di pasar keuangan. Investor institusi seperti manajer investasi, dana pensiun dan perusahaan asuransi dapat memasukkan faktor keberlanjutan dalam menentukan penempatan dana. Hal serupa berlaku di sektor perbankan dan pembiayaan. Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam menilai risiko suatu perusahaan maupun proyek sebelum pembiayaan diberikan.
Maka, pengembangan ESG tidak hanya bergantung pada perusahaan yang membutuhkan modal. Investor, perbankan, perusahaan asuransi, dana pensiun, manajer investasi hingga lembaga pembiayaan turut memiliki peran dalam mengarahkan dana ke kegiatan usaha yang memperhatikan aspek keberlanjutan. Di tengah perkembangan tersebut, Yayasan Kehati kembali menggelar ESG Award 2026 by Kehati di Jakarta. Ajang yang memasuki tahun keempat ini memberikan penghargaan dalam lingkup Capital Market, Impact Investment, Debt & Project Financing, serta Best Facilitator. Kehati berharap, semakin banyak perusahaan dan pelaku industri keuangan mengintegrasikan ESG dalam strategi bisnis maupun keputusan investasi. Perluasan penerapan ESG diharapkan dapat memperkuat peran sektor keuangan dalam mendukung kegiatan ekonomi berkelanjutan sekaligus mendorong daya saing perusahaan dalam jangka panjang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News