KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) - Iran yang kembali memanas membuat pergerakan harga valuta asing (valas) safe haven bergerak bervariasi. Dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan menjadi valas
safe haven yang menarik dicermati investor. Mengutip Trading Economics, Senin (20/7/2026) pukul 17.42 WIB, pasangan valas USD/JPY di level 162,39, menguat 3,60% secara year to date (ytd). Pairing valas USD/CHF di level 0,80, menguat 1,84% secara ytd. Sementara indeks dolar AS (DXY) di level 100,76, menguat 2,47% secara ytd. Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwi Assegaf mengatakan, prospek valas safe haven masih cukup posistif setelah meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) – Iran. Hal ini membuat investor menghindari aset berisiko.
Baca Juga: Tempo Scan (TSPC) Gandeng Farmasi China, Bidik Bisnis Biopharmaceutical “Jadi ada sentimen
risk off ya di mana mereka mengalihkan dana ke aset yang lebih aman,” ujar Alwi kepada Kontan, Senin (20/7/2026). Meski begitu, Alwi menilai bahwa bahwa tidak semua valas safe haven bergerak sama. Dolar Amerika Serikat tetap menjadi pilihan utama. Didukung statusnya sebagai mata uang cadangan dunia sekaligus ekspektasi bahwa The Fed belum akan melonggarkan kebijakan moneternya Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX melihat investor memilih bersikap waspada karena meningkatnya kemungkinan pemerintah Jepang akan melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yen. Adapun, Otoritas Jepang kembali menyampaikan kesiapan untuk bertindak kapan saja apabila volatilitas nilai tukar dianggap mengganggu stabilitas pasar. “Walaupun demikian, yen belum mampu menarik minat beli yang signifikan karena selisih suku bunga dengan negara-negara lain masih cukup besar, sehingga strategi carry trade tetap menjadi pilihan investor,” ujar Amru. Amru mengatakan, faktor eksternal juga masih membebani mata uang Jepang. Ketergantungan Jepang terhadap impor minyak dari Timur Tengah membuat pasar khawatir bahwa eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta potensi gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dapat meningkatkan biaya energi dan menekan pertumbuhan ekonomi Jepang. Sementara itu, dolar AS terus mendapat dorongan dari meningkatnya permintaan aset aman. Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi kembali memicu tekanan inflasi sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan sikap kebijakan yang relatif ketat. Kondisi tersebut menjaga daya tarik dolar AS dan membuat potensi penurunan USD/JPY diperkirakan masih terbatas.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat pada Selasa (21/7), Investor Mulai Bidik Saham Perbankan Kemudian, terkait pasangan valas USD/CHF, Amru mengatakan bahwa pelaku pasar mencermati sikap Swiss National Bank (SNB) yang menegaskan kesiapannya melakukan intervensi di pasar valuta asing apabila penguatan franc dinilai berlebihan demi menjaga stabilitas harga. Meski demikian, pelemahan USD/CHF diperkirakan masih terbatas karena fundamental dolar AS tetap mendapat dukungan. Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang, sementara probabilitas kenaikan suku bunga pada September masih berada di kisaran 61,4%. “Selain itu, pernyataan Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, yang kembali menyoroti tingginya tekanan inflasi memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sehingga berpotensi menopang dolar AS dan membatasi penurunan USD/CHF,” jelas Amru. Alwi menyebut sejumlah sentimen akan mempengaruhi pergerakan valas
safe haven. Pertama perkembangan konflik AS-Iran. Apabila eskalasi semakin meluas atau mengganggu pasokan energi, permintaan safe haven kemungkinan akan meninigkat. Kedua, fluktuasi harga minyak mentah global. Menurut Alwi, apabila konflik AS – Iran terus meningkat, bukan tidak mungkin Selat Bab el Mandeb di Yaman juga ditutup. Sama halnya dengan Selat Hormuz, penutupan selat ini dapat memicu kekhawatiran mengenai kenaikan harga komoditas energi. Sehingga ujungnya berdampak pada inflasi yang berarti suku bunga susah untuk turun bahkan ke depan ada kemungkinan kenaikan.
Ketiga, kebijakan moneter The Fed. Saat ini The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga yang saat ini probabilitas kenaikan suku bunga pada September sudah mencapai lebih dari 50%. Hal ini setelah eskalasi yang baru baru meningkat dan membuat harga minyak tinggi. “Rapat bulan Juli The Fed akan dinanti pelaku pasar,” ucap Alwi. Alwi melihat dolar AS menarik untuk dicermati investor. Ia memperkirakan indeks dolar AS (DXY) mencapai level 104,50 sampai akhir kuartal III-2026. Sementara pasangan valas USD/JPY diperkirakan dikisaran 162 – 164, dan pairing valas USD/CHF diproyeksikan mencapai level 0,83 hingga akhir kuartal III – 2026.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Sideways Jelang RDG BI, Simak Rekomendasi Saham Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News