Eskalasi Geopolitik Bayangi Pasar, Harga Minyak Berpotensi Tembus US$ 100



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia diproyeksikan masih cenderung berada di level tinggi dan volatil hingga akhir tahun seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan fisik akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kamis (20/8/2026), mengutip Bloomberg, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober naik 35 sen atau 0,38% menjadi US$ 91,97 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 naik 17 sen menjadi US$ 86,00 per barel. Dengan harga WTI kontrak pengiriman Oktober 2026 yang lebih aktif, menguatkan 38 sen atau 0,45%, menjadi US$ 84,77 per barel.


Lonjakan harga minyak mentah belakangan ini tidak lagi sekadar dipicu oleh sentimen psikologis pasar, melainkan telah merefleksikan gangguan pasokan fisik (supply disruption) yang nyata di lapangan.

Baca Juga: PGEO Gelar MESOP 127 Juta Saham Mulai 24 Agustus Selama 30 Hari

Menurunnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz serta tersendatnya ekspor minyak dari kawasan Teluk menjadi penopang utama kenaikan harga energi global saat ini.

Meski negara produsen besar yang tergabung dalam OPEC+ serta Amerika Serikat masih memiliki kapasitas cadangan untuk menambah pasokan, fleksibilitas tersebut dinilai tetap terbatas dalam meredam lonjakan harga.

Keterbatasan tersebut terjadi lantaran hambatan distribusi di titik krusial seperti Selat Hormuz tidak serta-merta dapat digantikan oleh peningkatan produksi dari wilayah lain.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pergerakan pasar komoditas energi saat ini telah mengalami pergeseran mendasar dibandingkan dengan fase-fase awal ketegangan geopolitik.

"Saat ini sudah lebih banyak mencerminkan risiko supply disruption yang nyata, bukan hanya faktor psikologis. Di awal konflik, pasar menaikkan harga karena khawatir terhadap kemungkinan gangguan pasokan. Sekarang, gangguan tersebut sudah menjadi kenyataan," kata Lukman kepada Kontan, Kamis (20/8/2026).

Dalam skenario dasar (base case), Lukman memproyeksikan harga minyak Brent bergerak di kisaran US$ 85–US$ 100 per barel dan WTI berada di rentang US$ 80–US$ 95 per barel hingga akhir tahun.

Kendati demikian, arah pergerakan harga minyak masih memiliki kecenderungan menguat (upside bias) bergantung pada situasi geopolitik di Timur Tengah.

Apabila konflik Iran-AS terus meluas dan memicu penutupan Selat Hormuz dalam jangka waktu yang lebih lama, harga minyak jenis Brent diperkirakan berpotensi menembus level US$ 100 hingga US$ 110 per barel.

Baca Juga: AS Buyback Obligasi, Rupiah Menguat ke Rp 17.748 per Dolar AS

Sebaliknya, jika dicapai kesepakatan damai serta kepastian pembukaan kembali arus pelayaran, geopolitical premium diprediksi akan luntur dan mengoreksi harga Brent ke kisaran US$ 75–US$ 85 per barel.

"OPEC+, khususnya negara produsen besar seperti Saudi, memiliki spare capacity yang dapat dimobilisasi jika diperlukan, sementara produksi minyak AS yang tinggi juga menjadi penyangga bagi pasokan global. Namun, kemampuan tersebut tetap terbatas karena jika gangguan utama berasal dari Selat Hormuz, tambahan produksi dari negara lain tidak serta-merta dapat menggantikan pasokan yang terhambat," tutup Lukman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News