Eskalasi Timur Tengah Kembali Memanas, Begini Prospek Harga Emas



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Eskalasi perang Amerika Serikat (AS)-Iran yang kembali memanas diproyeksi berdampak pada pergerakan harga komoditas emas.

Mengutip Trading Economics, harga emas per Jumat (17/7/2026) di level US$ 4.016 per troy ons, terkoreksi 2,53% dalam sepekan dan menurun 7,01% secara year to date (ytd). Sementara mengutip website logam mulia, harga logam mulia saat ini di level Rp 2.614.000 per gram. 

Wahyu Laksono, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com mengatakan, secara historis, konflik geopolitik skala besar biasanya menjadi bahan bakar utama bagi penguatan harga emas sebagai aset pelindung aman (safe-haven). Namun, situasi ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran saat ini menciptakan dinamika yang cukup unik dan anomali di pasar.


Baca Juga: Geoprima Solusi (GPSO) Tuntaskan Private Placcement, Siap Perkuat Modal dan Ekspansi

Serangan militer yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia karena kekhawatiran gangguan pasokan di jalur krusial seperti Selat Hormuz. Kenaikan harga energi ini pada gilirannya memperpanjang tekanan inflasi global.

“Akibatnya, fokus pasar saat ini bergeser dari sekadar mencari perlindungan terhadap perang (war premium) menjadi antisipasi terhadap kebijakan moneter ketat,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (17/7/2026). 

Wahyu bilang, tingginya risiko inflasi akibat lonjakan minyak memaksa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk tetap mempertahankan sikap kontraktif (hawkish). Bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan (Fed hike rate) demi meredam inflasi. Ekspektasi suku bunga tinggi ini memperkuat posisi dolar AS (strong USD) dan menaikkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. 

“Karena emas merupakan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding asset), penguatan dolar dan bayang-bayang kenaikan bunga Fed justru memberikan tekanan jual yang signifikan, sehingga prospek emas jangka pendek cenderung mengalami koreksi taktis di bawah tekanan makroekonomi tersebut,” jelas Wahyu. 

Wahyu menyebut, pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada beberapa sentimen kunci yang saling tarik-menarik di pasar. Pertama, kebijakan Suku Bunga Fed dan Data Inflasi AS. Data ekonomi AS, khususnya Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI) dan indikator ketenagakerjaan, menjadi kompas utama pasar. Jika inflasi tetap membandel akibat harga energi, peluang kenaikan suku bunga akan terus menekan emas. Sebaliknya, jika data ekonomi menunjukkan perlambatan signifikan, tekanan jual pada emas berpotensi mereda.

Kedua, perkembangan harga minyak mentah dunia. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah akan menjaga harga minyak mentah tetap tinggi. Tingkat volatilitas minyak ini menjadi indikator awal bagi ekspektasi inflasi global yang sangat diperhatikan oleh pelaku pasar komoditas. 

Ketiga, kekuatan dolar AS (DXY). Wahyu mengatakan, sebagai denominasi utama emas global, pergerakan indeks dolar AS akan berbanding terbalik dengan harga emas. Sentimen pelarian modal ke mata uang dolar sebagai safe haven utama di kala ketidakpastian global justru mengalihkan likuiditas dari pasar logam mulia.

Baca Juga: LPEI Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Senilai Rp 112 Miliar

Keempat, aksi beli bank sentral global. Di luar faktor suku bunga, permintaan fisik jangka panjang dari bank-bank sentral dunia (seperti diversifikasi cadangan devisa non-dolar) tetap menjadi lantai penopang (support level) yang kuat bagi harga emas agar tidak merosot terlalu dalam. 

Wahyu memperkirakan harga emas global pada kuartal III - 2026 akan bergerak dalam rentang konsolidasi cenderung tertekan antara US$ 3.700 hingga US$ 4.500 per troy ons. Apabila eskalasi militer terus memicu lonjakan minyak ke level yang lebih ekstrem dan memaksa The Fed merealisasikan kenaikan suku bunga baru, harga emas dunia berisiko menembus ke bawah batas US$ 4.000 menuju kisaran US$ 3.800 - 3.700 per troy ons. 

“Sebaliknya, jika ketegangan mereda atau terdapat tanda-tanda perlambatan ekonomi global yang nyata, harga emas dapat pulih secara bertahap menuju level US$ 4.300 - US$ 4.500 per troy ons,” ucap Wahyu. 

Sementara harga logam mulia domestik pada kuartal III – 2026, diproyeksikan akan bergerak stabil namun volatil di kisaran Rp 2,4 juta hingga Rp 2,9 juta per gram. Harga tersebut sangat bergantung pada seberapa kuat kurs rupiah menahan guncangan makro global eksternal tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: