KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk exchange traded fund (ETF) emas yang baru sepekan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tampak makin menarik perhatian investor. Kendati harga komoditas emas masih mengalami volatilitas akibat sentimen geopolitik, perencana keuangan berpandangan investor dapat mulai mempertimbangkan reksadana ETF emas sebagai salah satu aset dalam portofolio. Saat ini, terdapat lima produk ETF emas yang dapat diperdagangkan di BEI, yakni ETF Emas Trimegah (XTRA), ETF Emas Syailendra (XSGO), ETF Emas Mandiri Sekuritas (XMES), ETF Emas Premier (XGLD), dan ETF Emas BRI-MI (XDES).
Pada penutupan perdagangan Selasa (18/8), mayoritas produk ETF emas ditutup menguat. ETF emas XMES ditutup menguat 3,01% secara harian menjadi Rp 855 per unit. Kemudian XGLD ditutup menguat 1,97% menjadi Rp 259 per unit. Serta XDES ditutup menguat 0,40% menjadi Rp 999 per unit.
Baca Juga: Lima ETF Emas Kompak Menguat pada Perdagangan Perdana Sementara itu, ETF emas XSGO ditutup stagnan dibanding hari sebelumnya dengan harga Rp 1.040 per unit tetapi XTRA ditutup melemah 0,77% menjadi Rp 258 per unit. Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, mengatakan reksadana ETF emas ini layak dipertimbangkan karena aset yang menjadi underlying berupa emas maupun perusahaan yang memproduksi emas. Dengan prospek harga emas yang masih berpotensi menguat, kondisi tersebut dapat turut menopang harga unit ETF emas. Diketahui pada Selasa (18/8/2026) harga emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) naik Rp 18.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.677.000 per gram menjadi Rp 2.695.000 per gram. “Dan justru ketika saat ini baru masa awal-awal peluncuran maka harga unitnya masih rendah, sehingga investor bisa mengakumulasinya makin banyak sehingga berpotensi untuk dapat cuan yang lebih besar ketika harganya naik nanti,” ungkap Andy kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Meskipun begitu, Andy mengingatkan bahwa risiko volatilitas dan koreksi harga tetap perlu diperhatikan. Pasalnya, ETF emas diperdagangkan di bursa dengan mekanisme yang menyerupai perdagangan saham.
Baca Juga: Investasi Emas Kini Bisa Mulai 0,1 Miligram, Ini Produk ETF Emas dari Indo Premier Menurut Andy, karakteristik perdagangan tersebut perlu dipahami calon investor agar tidak terkaget-kaget ketika mengetahui volatilitas harganya begitu dinamis tiap harinya. Ini tentunya berbeda dengan investasi emas fisik yang secara umum tidak mengalami mekanisme perdagangan intraday seperti saham. Dengan kondisi geopolitik global yang masih belum mereda, Andy melihat harga emas berpeluang melanjutkan penguatan atau setidaknya bertahan hingga akhir tahun. Kondisi tersebut juga dapat menjadi sentimen positif bagi ETF emas. Meski demikian, investor disarankan tidak langsung menempatkan seluruh modal pada ETF emas, terutama bagi investor yang baru pertama kali berinvestasi pada instrumen tersebut. Andy menyarankan investor pemula mengalokasikan sekitar 30%-50% modal terlebih dahulu sembari memantau pergerakan harga dan memahami karakteristik investasi ETF emas.
Baca Juga: ETF Emas Resmi Meluncur, Airlangga Sebut Indonesia Bisa Lampaui Singapura dan India "Tetapi bila sudah terbiasa dan merasa nyaman, silahkan bila hendak diinvestasikan seluruhnya." ujarnya. Selain itu, investor dapat menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA), yakni membeli unit ETF secara berkala dengan jumlah yang disesuaikan. Strategi ini bertujuan mengurangi risiko masuk pada satu titik harga sekaligus tetap mengakumulasi jumlah unit secara bertahap.
Investor juga disarankan melakukan analisis teknikal terhadap pergerakan harga unit ETF emas. Menurut Andy, langkah tersebut penting untuk membantu investor menentukan waktu pembelian maupun penjualan. Tak kalah penting, investor perlu disiplin menerapkan manajemen risiko, termasuk menetapkan batas taking profit dan cut loss.
Baca Juga: ETF Emas Resmi Meluncur, Begini Prospek dan Risiko yang Wajib Dicermati Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News