EUDR hingga Perang Dagang Bayangi Kinerja Ekspor Mebel Nasional Sepanjang 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketidakpastian perdagangan global masih menjadi tantangan utama, bagi industri mebel nasional sepanjang tahun 2026.

Selain perubahan kebijakan tarif di berbagai negara, pelaku usaha juga harus bersiap menghadapi implementasi regulasi lingkungan Uni Eropa atau European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang akan berlaku mulai akhir tahun ini. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur mengatakan perubahan kebijakan perdagangan internasional membuat eksportir harus lebih adaptif dalam menjaga daya saing. “Perubahan tarif, investigasi dagang, kebijakan resiprokal, isu subsidi, excess capacity, serta persyaratan terkait tenaga kerja dapat mengubah daya saing suatu negara dalam waktu cepat. Karena Amerika Serikat merupakan pasar penting, setiap perubahan kebijakan di negara tersebut langsung memengaruhi kalkulasi buyer maupun produsen,” ujar Abdul kepada KONTAN, Rabu (22/7).

Baca Juga: Temuan Skrining Perkuat Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala Selain dinamika perdagangan, implementasi EUDR juga dinilai menjadi tantangan besar bagi industri kayu dan furnitur Indonesia. Regulasi tersebut mewajibkan pelaku usaha membuktikan bahwa bahan baku berasal dari rantai pasok yang legal, dan bebas deforestasi melalui sistem ketertelusuran atau traceability. Menurut Abdul, tantangan terbesar bukan hanya memenuhi sertifikasi, tetapi juga memastikan kesiapan data geolokasi, dokumen due diligence, integrasi pemasok, hingga sistem digital yang mampu mendukung proses tersebut. Di sisi lain, biaya logistik juga masih menjadi beban bagi eksportir. Produk furnitur yang berukuran besar sangat sensitif terhadap kenaikan tarif kontainer, keterlambatan kapal, biaya asuransi, maupun perubahan jalur pelayaran akibat kondisi geopolitik. Pelaku usaha juga masih menghadapi tantangan berupa kesinambungan pasokan kayu dan rotan berkualitas, tingginya waste material, keterbatasan fasilitas pengeringan, hingga perubahan perilaku buyer yang kini menginginkan harga lebih kompetitif, variasi desain lebih banyak, waktu pengiriman lebih singkat, serta kepastian aspek keberlanjutan. HIMKI menilai berbagai tantangan tersebut membuat industri tidak lagi hanya bersaing pada harga, tetapi juga dituntut memiliki sistem produksi yang efisien, rantai pasok yang transparan, serta kemampuan memenuhi standar keberlanjutan yang semakin ketat di pasar global.


Baca Juga: MPR: Ketergantungan Impor Energi Bikin Ketahanan Energi RI Rentan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News