KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham PT DCI Indonesia Tbk (
DCII) masih terbatas di tengah euforia kecerdasan buatan alias Artificial intelligence (AI) dan meningkatnya kebutuhan pusat data alias data center. Pada perdagangan Jumat (25/9/2026) pukul 10.15 WIB, saham DCII tak bergerak di level RP 201.000 per saham. Sepanjang tahun berjalan ini, emiten miliki Otto Toto Sugiri ini hanya menguat 0,50%. Namun dalam setahun terakhir, saham DCII masih anjlok 32,96%. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta bilang tekanan saham DCII sepanjang 2026 lebih tepat dilihat sebagai kombinasi antara isu likuiditas, status High Shareholding Concentration (HSC) dan valuasi yang sangat premium.
Baca Juga: Folago Global (IRSX) Genjot Produksi Film dan Micro Drama Berbasis AI DCII memang masuk daftar HSC Bursa dengan tiket konsentrasinya sekitar 99,96%, sehingga jumlah saham yang benar-benar beredar dan aktif diperdagangkan relatif terbatas. “Kondisi ini membuat pergerakan harga DCII sangat sensitif terhadap perubahan permintaan-penawaran dan likuiditas sehingga aspek likuiditas dan konsentrasi kepemilikan menjadi semakin diperhatikan,” katanya kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Nafan bilang, selain HSC, faktor yang cukup penting adalah valuasi DCII yang sudah sangat tinggi, sehingga pasar membutuhkan pertumbuhan laba dan ekspansi yang semakin besar untuk membenarkan valuasi tersebut. Pada semester I-2026, fundamental DCII sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan yang solid, dengan pendapatan naik 33,2% secara tahunan menjadi Rp 1,78 triliun dan laba bersih meningkat 18,7% menjadi Rp 732,5 miliar. “Artinya, ketika pasar melakukan profit taking, melakukan re-rating atau mengurangi ekspektasi terhadap pertumbuhan ke depan, koreksi harga bisa relatif besar meskipun fundamental perusahaan tetap tumbuh,” ucap Nafan.
Setali tiga uang, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah bilang secara valuasi saham DCII ditransaksikan pada keadaan yang berbeda dibandingkan industri karena saham mahal di atas P/E 400 kali. “Hal lain adalah likuiditas dan bagaimana caranya perusahaan bisa ekspansi tetapi juga menambah free float di pasar sesuai ketentuan. Apabila jelas tergambar, harusnya saham ini bisa jadi lebih menarik dengan catatan likuiditas naik disertai free floatnya,” ucapnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News