Euro Melemah, Rupiah Tertekan hingga Mendekati Level Terlemah dalam Tiga Bulan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan mata uang global kembali dibayangi ketidakpastian politik, kenaikan harga energi, dan perubahan ekspektasi suku bunga bank sentral.

Euro melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), sedangkan rupiah melanjutkan tren penurunan untuk hari keempat berturut-turut di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek pasar keuangan Indonesia.

Mengutip Reuters, euro turun 0,25% menjadi US$ 1,1210. Pelemahan mata uang tunggal Eropa tersebut terjadi ketika Prancis menghadapi gejolak politik setelah kerusuhan besar yang melanda negara itu selama akhir pekan.


Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak tawaran pengunduran diri Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez setelah kerusuhan meluas. Kantor kepresidenan Prancis, Elysee, mengonfirmasi keputusan tersebut pada Senin.

Analis menilai respons euro terhadap perkembangan politik Prancis pada awal Oktober jauh lebih tajam. Tekanan terhadap euro cenderung berlangsung lebih lama ketika ketegangan politik di Prancis meluas ke negara-negara lain dan memengaruhi sentimen investor di kawasan zona euro.

Baca Juga: China Diperkirakan Kembali Tahan Suku Bunga Acuan pada Oktober 2026

Pada pergantian bulan ini, euro sempat melemah lebih dari 1%. Kondisi tersebut terjadi setelah selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis atau OAT dengan obligasi pemerintah Jerman yang dianggap lebih aman melebar sekitar 40 basis poin hingga melampaui 150 basis poin dalam beberapa hari.

Pelebaran selisih imbal hasil tersebut mencerminkan peningkatan premi risiko dan berpotensi menular ke negara-negara lain di kawasan euro. Pada Senin, selisih imbal hasil obligasi Prancis kembali naik 2 basis poin menjadi 141 basis poin.

Investor Kaji Ulang Prospek Dolar AS

Di sisi lain, investor mulai mengevaluasi kembali prospek dolar AS setelah mata uang tersebut memperoleh dukungan selama beberapa bulan dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kuat serta kenaikan pasar saham yang didorong oleh perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kini, perhatian pasar semakin tertuju pada risiko perlambatan belanja terkait AI. Prospek investasi AI yang melemah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi AS sekaligus mengurangi kebutuhan pembiayaan. Kombinasi tersebut dapat membatasi penguatan dolar AS dan menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Ekspektasi suku bunga kembali menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar valuta asing. Kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September juga memperkuat keyakinan investor bahwa bank sentral AS tetap berkomitmen mengendalikan inflasi.

Kepala Riset Valuta Asing dan Komoditas Commerzbank Thu Lan Nguyen mengatakan, pergerakan pasangan euro terhadap dolar AS saat ini lebih ditentukan oleh respons bank sentral terhadap kenaikan harga minyak dibandingkan oleh harga minyak itu sendiri.

“Untuk pasangan euro/dolar AS, saat ini yang lebih penting bukanlah harga minyak itu sendiri, melainkan bagaimana The Fed dan ECB meresponsnya,” ujar Thu Lan Nguyen.

Ia menambahkan, selama pasar tidak memperkirakan The Fed akan merespons tekanan inflasi secara jauh lebih agresif, dolar AS akan kesulitan memanfaatkan sepenuhnya keuntungan fundamental yang berasal dari kenaikan harga minyak.

“Selama pasar tidak memperkirakan The Fed akan merespons guncangan inflasi secara jauh lebih agresif, dolar AS akan kesulitan memanfaatkan sepenuhnya keuntungan fundamental yang diberikan oleh harga minyak yang lebih tinggi,” tambahnya.

Baca Juga: China Hadapi Krisis Demografi, Beijing Diprediksi Jadi Kota Super-Tua pada 2035

Sejak konflik di Iran pecah pada Maret, kenaikan harga minyak telah mendukung dolar AS sekaligus menekan mata uang negara pengimpor energi, termasuk euro dan yen Jepang.

Harga minyak mentah Brent sempat turun dari level tertinggi dalam lima bulan terakhir, tetapi masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Sementara itu, harga gas alam menyentuh level tertinggi baru dalam empat tahun, yakni 89,13 euro.

Pasar memperkirakan peluang sebesar 87% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini. Sementara itu, pelaku pasar memperhitungkan potensi penurunan suku bunga kumulatif sebesar 75 basis poin hingga akhir 2027.

Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) menunjukkan kecenderungan yang serupa. Pada perdagangan Senin, indeks dolar AS naik 0,26% menjadi 102,05.

Yen Jepang Dibayangi Suku Bunga dan Belanja Pemerintah

Berbeda dengan euro, yen Jepang relatif stabil terhadap dolar AS. Dolar AS naik tipis 0,05% menjadi 158,15 yen.

Gubernur Bank Sentral Jepang (BOJ) Kazuo Ueda mengatakan pada Senin bahwa inflasi yang mendasari di Jepang sudah “cukup dekat” dengan target bank sentral sebesar 2%. Pernyataan tersebut mengindikasikan masih terbukanya peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Namun, sentimen terhadap yen masih terbebani kekhawatiran mengenai rencana belanja Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Investor menilai kebijakan tersebut berpotensi memperberat beban utang pemerintah Jepang yang sudah tinggi.

Sementara itu, dolar AS melemah 0,05% menjadi 6,6815 yuan dalam perdagangan di luar China daratan. Level tersebut merupakan posisi terlemah dolar AS sejak Juni 2022.

Pelemahan dolar AS terhadap yuan terjadi setelah data yang dirilis pada Senin menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China pada kuartal III-2026 sedikit melampaui ekspektasi pasar.

Baca Juga: Putin Setujui Perombakan Kabinet Rusia Usai Pemilu Parlemen

Rupiah Melemah Empat Hari Beruntun Usai Peringatan MSCI

Di kawasan Asia Tenggara, rupiah melanjutkan pelemahan untuk hari keempat berturut-turut. Mata uang Indonesia tertekan setelah penyedia indeks global MSCI pekan lalu mengancam menurunkan status pasar saham Indonesia dari indeks utama pasar negara berkembang atau emerging markets menjadi kategori pasar tersendiri atau standalone.

Peringatan tersebut memicu aksi jual besar di pasar saham Indonesia hingga menyebabkan indeks saham anjlok 11,6%.

Pada perdagangan Senin, rupiah melemah 0,2% dan bergerak mendekati level terlemahnya dalam hampir tiga bulan terakhir. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham domestik turut memengaruhi sentimen di pasar valuta asing.

Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika investor global juga mencermati perkembangan politik Eropa, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, serta dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian dunia.

Di tengah pergerakan mata uang Asia lainnya, dolar Australia justru menguat 0,4% menjadi US$ 0,6971 pada perdagangan Senin.