Euro perkasa di hadapan dollar AS



JAKARTA. Euro yang sedang dibalut katalis positif berhasil mencatatkan keunggulan atas dollar Amerika Serikat (AS) di perdagangan hari ini.

Mengutip Bloomberg, Kamis (6/7) pukul 19.28 WIB pasangan EUR/USD melambung 0,30% ke level 1,1386 dibanding hari sebelumnya.

Alwy Assegaf, Research and Analyst PT Global Kapital Investama menuturkan, pelemahan terbesar dialami oleh USD. Walau bank sentral AS Federal Reserve mengisyaratkan akan melakukan pengurangan neraca anggaran sebesar US$ 4,5 triliun yang siap dimulai September 2017 mendatang, pasar masih menangkap keraguan-raguan para pejabat The Fed dalam menaikkan suku bunganya. Keraguan ini ditangkap pasar sebagai sikap pesimisme The Fed, sehingga memojokkan The Greenback.


Tidak berhenti di situ, beban juga datang dari laporan angka pengangguran mingguan AS yang membengkak dari 244.000 orang menjadi 248.000 orang. Belum lagi angka tenaga kerja sektor swasta Juni 2017 yang dirilis ADP pun menurun dari 230.000 menjadi 158.000 orang. “Padahal data ADP ini biasanya menjadi indikasi awal sebelum data tenaga kerja bulanan dari Pemerintah AS dirilis akhir pekan,” imbuh Alwy.

Berkaca pada rilis data ekonomi terbaru ini, Alwy menilai tren EUR/USD untuk sesaat masih terjaga positif. Apalagi dari euro sendiri mendapat dukungan lewat angka ritel PMI Eropa Juni 2017 yang tumbuh dari 53,0 menjadi 53,2. Sementara hasil rapat moneter European Central Bank (ECB) masih menjaga nada hawkish yang sebelumnya disuntikkan Presiden ECB, Mario Draghi beberapa waktu lalu.

“Draghi membuka peluang adanya pengetatan kebijakan dan kenaikan suku bunga ECB dalam waktu dekat,” tutur Alwy. Ditegaskan dalam rapat moneter disampaikan proyeksi masa depan ekonomi Eropa nampak membaik dengan inflasi yang tumbuh, investasi yang menggeliat dan GDP yang akan tumbuh stabil. Di saat pasar ragu dengan The Fed, ECB justru menyuntikkan harapan perbaikan.

Wajar Alwy memperkirakan Jumat (7/7) pasangan ini berpotensi untuk menjaga penguatannya. “Meski rentang cenderung terbatas dan masih menanti rilis data tenaga kerja pemerintah namun selama tidak ada perubahan euro sulit ditaklukkan,” duga Alwy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia