KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek mata uang utama dunia masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed. Meski The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di FOMC Oktober 2026, nyatanya indeks dolar AS masih parkir di level yang tinggi. Melansir Trading Economics pada Sabtu (31/10) pukul 18.30 WIB, indeks dolar AS bertengger di level 101,8. Kemudian, EUR/USD berada di level 1,11583, turun 0,20% secara harian. Dalam sepekan, pasangan mata uang ini terkoreksi 0,39%.
Sebaliknya, GBP/USD bergerak menguat 0,11% secara harian ke level 1,33916. Secara mingguan, pasangan mata uang ini juga naik 0,10%. Sementara itu, AUD/USD berada di level 0,70324, menguat 0,03% secara harian. Dalam periode sepekan, dolar Australia terhadap dolar AS tersebut naik tipis 0,01%.
Baca Juga: Dolar AS Perkasa, Ini Prospek EUR/USD, GBP/USD dan AUD/USD hingga Akhir 2026 Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan ternyata belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pasar. Pasalnya, pelaku pasar masih mencermati peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan hingga akhir tahun ini. Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan prospek EUR/USD, GBP/USD, dan AUD/USD hingga akhir 2026 akan ditentukan oleh kemampuan ekonomi masing-masing kawasan dalam menghadapi dominasi penguatan dolar AS. Dari ketiga mata uang tersebut, dolar Australia dinilai memiliki daya tarik tersendiri karena ditopang ekspektasi kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) yang cenderung hawkish serta dukungan sektor komoditas. RBA telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 4,60%. Pasar bahkan memperkirakan masih terdapat peluang kenaikan lanjutan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,85%, seiring tekanan inflasi domestik yang persisten dan kuatnya permintaan. "Preferensi utama adalah AUD/USD dengan strategi
buy on weakness atau membeli ketika terjadi koreksi. Investor juga bisa menerapkan strategi
dollar cost averaging (DCA) dengan melakukan pembelian secara bertahap," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (30/11/2026). Sementara itu, poundsterling juga memiliki prospek yang relatif terjaga. Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di level 3,75%, tetapi hasil pemungutan suara menunjukkan adanya kecenderungan hawkish. Sebanyak tiga anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps. Tekanan inflasi Inggris yang diperkirakan melampaui 4% pada awal 2027, terutama akibat kenaikan harga energi dan pangan serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah, turut membuka ruang bagi BoE untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi memberikan sokongan terhadap poundsterling. Wahyu menyarankan investor yang berminat mengakumulasi GBP/USD untuk menerapkan strategi
buy on weakness maupun pembelian secara bertahap. Adapun prospek euro cenderung lebih menantang dibandingkan dua mata uang tersebut. Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga fasilitas deposito di level 2,50% dan suku bunga refinancing utama sebesar 2,65%. Sikap ECB yang cenderung berhati-hati atau data-dependent berlangsung di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi Zona Euro. Di sisi lain, inflasi yang masih berada di kisaran 3,8% serta risiko kenaikan harga energi turut membatasi ruang gerak bank sentral. Ketidakpastian juga bertambah menyusul percepatan rencana pengunduran diri Presiden ECB Christine Lagarde menjadi Februari 2027. Situasi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap euro, terutama ketika dolar AS masih ditopang daya tarik imbal hasil yang relatif tinggi. Dengan kondisi tersebut, Wahyu menyarankan investor untuk tidak terburu-buru mengakumulasi EUR/USD. Investor sebaiknya menunggu koreksi atau pelemahan sementara dolar AS agar memperoleh harga masuk yang lebih kompetitif. Jika tetap ingin masuk lebih awal, investor disarankan menggunakan porsi pembelian yang lebih kecil dibandingkan alokasi untuk AUD/USD maupun GBP/USD. Dari sisi proyeksi, Wahyu memperkirakan EUR/USD berpotensi bergerak di kisaran 1,0900–1,1400 hingga akhir 2026. Pergerakannya masih dibayangi lambatnya pemulihan ekonomi Eropa dan kuatnya dolar AS.
Sementara itu, GBP/USD diproyeksikan bergerak konsolidatif pada rentang 1,3000–1,3700. Ketahanan inflasi domestik dan sikap BoE yang cenderung hawkish menjadi faktor penopang poundsterling. Adapun AUD/USD diperkirakan bergerak dalam rentang 0,6850–0,7300 hingga akhir tahun ini. Prospek tersebut ditopang ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan RBA serta dukungan dari sektor komoditas.
Baca Juga: Tertekan Risiko Fiskal dan Harga Minyak, Yield SUN 10 Tahun Terancam Tembus 8% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News