Euro ungguli the greenback yang lemah



JAKARTA. Data inflasi dan penjualan ritel AS Maret 2017 yang mengecewakan pelaku pasar jadi penyebab terjegalnya langkah USD akhir pekan lalu sehingga memberikan kesempatan bagi euro unggul.

Mengutip Bloomberg, Jumat (14/4) pasangan EUR/USD menguat 0,05% ke level 1,0618 dibanding hari sebelumnya.

Nizar Hilmy, Analis PT SoeGee Futures menjelaskan pelemahan USD sudah dimulai sejak pertengahan pekan setelah dalam pidatonya Donald Trump, Presiden AS mengatakan bahwa penguatan nilai tukar USD saat ini tidak baik bagi perkembangan ekonomi AS ke depannya.


Ditambah lagi Trump menilai penguatan USD ini menghambat daya saing dibanding mata uang internasional lainnya, sehingga ia menilai suku bunga bisa ditahan lebih dulu sebelum dinaikkan lagi. “Keadaan semakin buruk setelah data-data ekonomi di akhir pekan memburuk,” ujar Nizar.

Adapun data inflasi AS merosot dari 0,1% di Februari 2017 menjadi deflasi 0,3% dengan inflasi inti yang juga mengalami deflasi 0,1% dari sebelumnya inflasi 0,2%. Tidak hanya itu data penjualan ritel inti AS pun terserang stagnansi di level 0,0%.

Sebenarnya euro hanya memanfaatkan kondisi yang ada. Mengingat dari sisi fundamental euro minim data ekonomi pendukung. Selain memang sebelumnya data inflasi Jerman dan Prancis Maret 2017 dicatat bertahan di level yang cukup memuaskan pasar. “Untuk sementara euro bisa menikmati keuntungan dari lemahnya USD dan bertahan unggul tipis,” tutur Nizar.

Ia menduga Senin (17/4) pasangan EUR/USD akan cenderung bergerak ranging dengan peluang mempertahankan penguatan tipis. “Rentangnya akan tetap sempit karena dari euro minim katalis terbaru dan penguatan ini tidak merubah tren jangka panjang yang masih bearish,” ungkap Nizar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto