Exxon Lampaui Estimasi Laba Kuartal I 2026, Produksi Tertekan Konflik Iran



KONTAN.CO.ID - Exxon Mobil mencatatkan kinerja yang melampaui ekspektasi pada kuartal I-2026, meskipun tekanan dari konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran, berdampak pada penurunan produksi dan laba bersih.

Mengutip Reuters, Jumat (1/5/2026), laba disesuaikan (adjusted earnings) Exxon mencapai US$1,16 per saham pada tiga bulan pertama tahun ini, lebih tinggi dari konsensus analis sebesar US$1,00 per saham.

Baca Juga: Estée Lauder Naikkan Target Laba, Siap PHK hingga 3.000 Karyawan Lagi


Namun, laba bersih turun menjadi US$4,2 miliar, level terendah sejak kuartal I-2021, dibandingkan US$7,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut dipicu gangguan operasional akibat konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi produksi.

Sekitar 20% produksi minyak dan gas Exxon berada di kawasan tersebut, menjadikannya salah satu perusahaan migas dengan eksposur terbesar terhadap wilayah konflik.

Secara keseluruhan, produksi global Exxon tercatat sebesar 4,59 juta barel setara minyak per hari (boepd) pada kuartal I-2026.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Turun Lebih 1% Jumat (1/5), Terseret Lonjakan Inflasi dari Minyak

Angka ini relatif stabil dibandingkan tahun lalu, tetapi turun hampir 8% dari 5 juta boepd pada kuartal IV-2025, terutama akibat gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global.

Perusahaan memperkirakan produksi kuartal II-2026 dapat turun ke kisaran 4,1 juta hingga 4,3 juta boepd jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut.

Sebaliknya, jika jalur tersebut kembali normal, produksi berpotensi meningkat hingga 4,7 juta boepd.

Exxon juga mencatat kerugian sekitar US$700 juta dari kargo yang tidak dapat dikirim akibat gangguan pasokan selama konflik berlangsung.

CEO Exxon Darren Woods menilai, kondisi geopolitik saat ini menciptakan lingkungan operasional yang sangat volatil.

Baca Juga: Harga Aluminium Rebound Jumat (1/5), Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan

Meski demikian, perusahaan tetap berpegang pada strategi fokus pada produksi berkualitas tinggi.

“Konflik di Timur Tengah membuat pasokan mengetat, logistik menjadi lebih kompleks, dan pasar bergerak cepat. Namun kondisi ini tidak mengubah strategi kami, justru membuktikan efektivitasnya,” ujarnya.

Dari sisi operasional, produksi di Guyana mencatat rekor baru dan ekspansi di Permian Basin terus berlanjut, membantu mengompensasi penurunan produksi di Timur Tengah.

Sementara itu, kinerja segmen hilir (downstream) mencatat kerugian sebesar US$1,3 miliar, berbanding terbalik dengan laba US$827 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, jika tidak memperhitungkan dampak waktu (timing effects), laba segmen ini diperkirakan mencapai US$2,8 miliar.

Baca Juga: Pejabat The Fed Ini Sebut Kebijakan Penurunan Suku Bunga Tidak Lagi Tepat

Arus kas bebas (free cash flow) Exxon tercatat sebesar US$2,7 miliar pada kuartal I-2026, turun dari US$8,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sepanjang periode tersebut, perusahaan membagikan dividen sebesar US$4,3 miliar dan melakukan pembelian kembali saham senilai US$4,9 miliar.

Belanja modal (capital expenditure) tercatat sebesar US$6,2 miliar, sejalan dengan panduan tahunan perusahaan.