Faktor Keberlanjutan Makin Menentukan Persaingan Industri AMDK



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aspek keberlanjutan semakin memengaruhi preferensi konsumen dalam memilih produk air minum dalam kemasan (AMDK). Survei terbaru menunjukkan komitmen terhadap lingkungan kini menjadi salah satu faktor yang membentuk reputasi dan tingkat kepercayaan publik terhadap merek di industri ini.

Laporan World Visualized bertajuk Indonesia’s Bottled Water Brands Face a Moment of Truth in 2025 mencatat konsumen menilai tanggung jawab lingkungan sebagai indikator penting dalam reputasi merek AMDK. Dalam kategori komitmen lingkungan, AQUA mencatat skor tertinggi sebesar 50,3%, unggul dibanding sejumlah merek lain di industri.

Di bawah AQUA, merek Le Minerale memperoleh skor 35,4%. Sementara merek lain seperti Cleo, Vit, dan Hydrococo berada di kisaran sekitar 25%.


Sejumlah inisiatif keberlanjutan dinilai menjadi faktor yang memperkuat persepsi positif terhadap merek. Selain penggunaan galon guna ulang, perusahaan juga mengembangkan berbagai inovasi kemasan yang lebih ramah lingkungan, termasuk botol berbahan plastik daur ulang serta desain kemasan yang menggunakan plastik lebih ringan untuk mengurangi dampak lingkungan.

Laporan tersebut mencatat meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan turut mendorong perusahaan memperkuat praktik keberlanjutan, mulai dari pengelolaan sumber air, efisiensi proses produksi, hingga pengurangan dampak kemasan terhadap lingkungan.

Baca Juga: Penjualan AMDK Bisa Meningkat 45% Usai Biaya Produksi Kena Efisiensi Perang Timteng

Kesadaran publik terhadap isu sampah plastik juga terus meningkat seiring bertambahnya volume sampah di berbagai tempat pembuangan akhir (TPA).

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah nasional mencapai sekitar 36 juta ton pada 2024 dari 342 kabupaten/kota, dengan 19,59% di antaranya merupakan sampah plastik.

Sementara pada 2025, data sementara dari 249 kabupaten/kota menunjukkan timbulan sampah mencapai sekitar 25 juta ton, dengan 20,45% merupakan sampah plastik. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring proses penghitungan yang masih berjalan.

Kondisi tersebut mendorong pentingnya penggunaan kemasan yang lebih berkelanjutan, termasuk kemasan guna ulang yang dinilai mampu menekan timbulan sampah plastik.

Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia, Bisuk Abraham Sisungkunon, mengatakan penggunaan galon guna ulang memiliki manfaat ekologis yang signifikan dibandingkan kemasan sekali pakai.

“Penggunaan galon guna ulang dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan galon sekali pakai,” kata Bisuk dalam keterangannya, Senin (16/3).

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga menunjukkan bahwa tanpa keberadaan galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen berpotensi beralih ke kemasan sekali pakai yang dapat meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.

Baca Juga: Upaya Industri AMDK Tekan Biaya Produksi Ditengah Efisiensi Dampak Perang Timteng

Galon guna ulang dirancang untuk digunakan berkali-kali sehingga dapat menekan volume sampah plastik dan emisi karbon secara signifikan. Sebaliknya, galon sekali pakai langsung dibuang setelah digunakan sehingga berpotensi menambah beban sampah plastik di lingkungan.

Dalam skenario tanpa galon guna ulang, emisi sampah plastik bahkan diperkirakan dapat meningkat hingga 1,65 juta ton per tahun yang berpotensi menghambat target pemerintah menurunkan sampah plastik sebesar 30% pada 2025.

“Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air atau laut, maupun dibuang langsung ke tanah,” kata Bisuk.

Secara keseluruhan, hasil survei menunjukkan bahwa reputasi merek AMDK tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh sejauh mana perusahaan dinilai memiliki komitmen nyata terhadap lingkungan dan keberlanjutan.

Survei tersebut melibatkan 1.094 responden pengguna internet berusia di atas 18 tahun di Indonesia dan dilakukan pada periode September hingga Oktober 2025.

Baca Juga: Tren AMDK Ramadan 2026: Botol Kecil dan Pertumbuhan Positif Industri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News