KONTAN.CO.ID - Manajer investasi global VanEck memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi mencapai US$2,9 juta per koin pada 2050, seiring meningkatnya peran aset kripto tersebut sebagai alat penyelesaian transaksi perdagangan global dan masuknya Bitcoin ke dalam cadangan bank sentral. Melansir
Cointelegraph Jumat (9/1/2026). analis VanEck menyebut, Bitcoin berpeluang menangani sekitar 5–10% perdagangan internasional global serta 5% transaksi domestik pada 2050. Dengan asumsi tersebut, Bitcoin diperkirakan mencatatkan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 15% dalam jangka panjang.
Baca Juga: Energi Mega (ENRG) Beri Pinjaman ke Anak Usaha Rp 105,14 Miliar, Ini Tujuannya Kepala riset aset digital VanEck Matthew Sigel bersama analis investasi senior Patrick Bush menyatakan, ekspansi likuiditas global dan pelemahan nilai mata uang fiat (
monetary debasement) akan menjadi pendorong utama kenaikan harga Bitcoin. “Dalam kerangka ini, Bitcoin bukan sekadar instrumen perdagangan jangka pendek, melainkan aset lindung nilai jangka panjang terhadap risiko sistem moneter,” tulis keduanya dalam laporan terbaru. VanEck juga memperkirakan bank sentral global dapat mengalokasikan hingga 2,5% cadangannya ke Bitcoin. Pada harga US$2,9 juta, Bitcoin akan mewakili sekitar 1,66% dari total aset keuangan dunia. Sebagai informasi mengutip data Coinmarketcap pukul 09.46 WIB, harga Bitcoin pada level US$91.154 atau naik 0,39% dalam 24 jam terakhir atau 3,13% dalam sepekan.
Baca Juga: Dua Saham Masuk Radar UMA di BEI: BSIM dan SOFA Dianggap Naik Tak Wajar Tiga Skenario Harga Proyeksi US$2,9 juta merupakan skenario dasar (
base case) VanEck. Dalam skenario pesimistis (bear case), Bitcoin diperkirakan hanya tumbuh sekitar 2% per tahun dan mencapai US$130.000 pada 2050. Sementara dalam skenario optimistis (
bull case), dengan pertumbuhan 20% per tahun, harga Bitcoin bisa melesat hingga US$52,4 juta per koin. Saat ini, Bitcoin sudah digunakan dalam transaksi perdagangan internasional, terutama di negara-negara yang terkena sanksi seperti Venezuela, Iran, dan Rusia. Namun, adopsinya masih terbatas di negara-negara maju anggota G7. Berdasarkan data SWIFT, dolar AS masih mendominasi transaksi perdagangan internasional dengan pangsa 47,8%, diikuti euro 22,8% dan pound sterling 7,4%.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah pada Jumat (9/1/2026) Pagi, Mayoritas Mata Uang Asia Tumbang Jika Bitcoin mampu menguasai 5–10% pangsa transaksi global, penggunaannya akan setara dengan pound sterling saat ini. VanEck mencatat, asumsi pertumbuhan 15% tersebut lebih konservatif dibandingkan proyeksi sebelumnya pada Desember 2024, ketika mereka menggunakan CAGR 25% dan memperkirakan cadangan Bitcoin AS dapat membantu memangkas utang pemerintah secara signifikan hingga 2049.
Meski demikian, VanEck menegaskan bahwa proyeksi ini bersifat jangka panjang dan sangat bergantung pada dinamika adopsi, regulasi, serta kondisi sistem keuangan global di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News