KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perum Bulog membuka peluang memperluas ekspor beras ke sejumlah negara setelah produksi beras Indonesia meningkat dan disebut menjadi yang terbesar di kawasan ASEAN berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan tingginya produksi gabah petani menjadi momentum bagi Bulog untuk meningkatkan penyerapan sekaligus memperluas pasar ekspor. “Produksi pangan yang cukup tinggi oleh para petani, khususnya hasil panen gabah seluruh tanah air yang mencapai hampir 36 juta ton tahun ini, sangat bermanfaat bagi Bulog. Momentum ini kami manfaatkan dengan penyerapan semaksimal mungkin,” ujar Rizal di Gudang Perum Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Senin (29/6/2026). Baca Juga: Pemerintah Siapkan Hadiah untuk 300 Pemilih Logo HUT Ke-81 RI Hingga 29 Juni 2026, Bulog telah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau sekitar 80% dari target pengadaan sebanyak 4 juta ton. Menurut Rizal, dengan sisa waktu enam bulan hingga akhir tahun, realisasi penyerapan berpotensi melampaui target. “Prediksi kami serapan bisa di atas 4,5 juta ton bahkan sampai 5 juta ton,” katanya. Rizal mengatakan tingginya serapan tersebut perlu diimbangi dengan penyaluran, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun melalui ekspor. Menurutnya, Malaysia menjadi salah satu negara tujuan utama dengan potensi ekspor mencapai 500.000 ton. Dalam waktu dekat, Bulog akan melakukan pembahasan lanjutan dengan pemerintah Malaysia untuk menyepakati harga. “Kami akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran,” ujarnya. Selain Malaysia, Bulog juga melihat peluang ekspor ke Uni Emirat Arab. Rizal menyebut negara tersebut menyampaikan kebutuhan sekitar 50.000 ton beras per bulan atau setara 600.000 ton dalam setahun. Tak hanya itu, Bulog juga menjajaki potensi ekspor ke Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini (PNG). Baca Juga: Tarik-Ulur Dana SAL Rp 110 Triliun di Himbara, Kebijakan Ini Bikin Pasar Bingung “Insya Allah kami mohon doa restunya agar Bulog bisa menjual produk-produk beras Indonesia ke pasar international,” katanya. Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyoroti laporan outlook pertanian Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tekait potensi penurunan produksi beras dunia karena dampak El-Nino. Amran menyebut ditengah potensi penurunan ini, Indonesia masih mencatatkan kenaikan produksi dan bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. “Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak,” kata Amran dalam keterangan resminya, Senin (22/6/2026). Mengutip laporan terbaru FAO menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang di peta pangan dunia pada 2026. Dalam laporan itu FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada 2026/2027 turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat Ini merupakan koreksi pertama setelah dua musim panen rekor berturut-turut. “Namun, di tengah kontraksi global itu, grafik produksi Indonesia justru bergerak naik,” terang Amran. FAO juga memproyeksikan produksi beras Indonesia pada angka 38,6 juta ton setara beras giling pada 2026/2027, melonjak secara signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/2025. Dengan capaian ini, Indonesia kini bertengger sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia setelah India, China, dan Bangladesh. Indonesia sekaligus menjadi satu dari sedikit produsen besar yang produksinya terus meningkat saat raksasa-raksasa pangan lain tengah tersandung.
FAO Sebut Produksi Beras RI Terbesar di ASEAN, Bulog Buka Peluang Ekspor
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perum Bulog membuka peluang memperluas ekspor beras ke sejumlah negara setelah produksi beras Indonesia meningkat dan disebut menjadi yang terbesar di kawasan ASEAN berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan tingginya produksi gabah petani menjadi momentum bagi Bulog untuk meningkatkan penyerapan sekaligus memperluas pasar ekspor. “Produksi pangan yang cukup tinggi oleh para petani, khususnya hasil panen gabah seluruh tanah air yang mencapai hampir 36 juta ton tahun ini, sangat bermanfaat bagi Bulog. Momentum ini kami manfaatkan dengan penyerapan semaksimal mungkin,” ujar Rizal di Gudang Perum Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Senin (29/6/2026). Baca Juga: Pemerintah Siapkan Hadiah untuk 300 Pemilih Logo HUT Ke-81 RI Hingga 29 Juni 2026, Bulog telah menyerap lebih dari 3,2 juta ton beras atau sekitar 80% dari target pengadaan sebanyak 4 juta ton. Menurut Rizal, dengan sisa waktu enam bulan hingga akhir tahun, realisasi penyerapan berpotensi melampaui target. “Prediksi kami serapan bisa di atas 4,5 juta ton bahkan sampai 5 juta ton,” katanya. Rizal mengatakan tingginya serapan tersebut perlu diimbangi dengan penyaluran, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun melalui ekspor. Menurutnya, Malaysia menjadi salah satu negara tujuan utama dengan potensi ekspor mencapai 500.000 ton. Dalam waktu dekat, Bulog akan melakukan pembahasan lanjutan dengan pemerintah Malaysia untuk menyepakati harga. “Kami akan ke Malaysia untuk mendiskusikan harga yang cocok sesuai dengan penawaran,” ujarnya. Selain Malaysia, Bulog juga melihat peluang ekspor ke Uni Emirat Arab. Rizal menyebut negara tersebut menyampaikan kebutuhan sekitar 50.000 ton beras per bulan atau setara 600.000 ton dalam setahun. Tak hanya itu, Bulog juga menjajaki potensi ekspor ke Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini (PNG). Baca Juga: Tarik-Ulur Dana SAL Rp 110 Triliun di Himbara, Kebijakan Ini Bikin Pasar Bingung “Insya Allah kami mohon doa restunya agar Bulog bisa menjual produk-produk beras Indonesia ke pasar international,” katanya. Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyoroti laporan outlook pertanian Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tekait potensi penurunan produksi beras dunia karena dampak El-Nino. Amran menyebut ditengah potensi penurunan ini, Indonesia masih mencatatkan kenaikan produksi dan bahkan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. “Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak,” kata Amran dalam keterangan resminya, Senin (22/6/2026). Mengutip laporan terbaru FAO menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang di peta pangan dunia pada 2026. Dalam laporan itu FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada 2026/2027 turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat Ini merupakan koreksi pertama setelah dua musim panen rekor berturut-turut. “Namun, di tengah kontraksi global itu, grafik produksi Indonesia justru bergerak naik,” terang Amran. FAO juga memproyeksikan produksi beras Indonesia pada angka 38,6 juta ton setara beras giling pada 2026/2027, melonjak secara signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/2025. Dengan capaian ini, Indonesia kini bertengger sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia setelah India, China, dan Bangladesh. Indonesia sekaligus menjadi satu dari sedikit produsen besar yang produksinya terus meningkat saat raksasa-raksasa pangan lain tengah tersandung.
TAG: