Fasilitas Energi Arab Saudi Terdampak Serangan, Produksi Turun Signifikan



KONTAN.CO.ID - Serangan terhadap fasilitas energi di Arab Saudi berdampak besar terhadap kapasitas produksi dan distribusi minyak nasional.

Laporan resmi menyebutkan kapasitas produksi minyak turun sekitar 600.000 barel per hari (bph), sementara aliran melalui pipa strategis East-West Pipeline menyusut sekitar 700.000 bph.

Melansir Reuters Jumat (10/4/2026), mengutip kantor berita pemerintah Saudi Press Agency, serangan ini terjadi di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih berlangsung.


Baca Juga: Harga Minyak Naik Jumat (10/4) Pagi, Usai Serangan ke Fasilitas Energi Arab Saudi

Berikut sejumlah fasilitas utama yang terdampak:

1. Pipa East-West (East-West Pipeline)

Pipa lintas kerajaan yang menghubungkan wilayah timur Arab Saudi ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah mengalami penurunan kapasitas hingga 700.000 bph setelah salah satu stasiun pompa terdampak serangan. Pipa ini biasanya mampu mengalirkan hingga 5 juta bph, bahkan bisa mencapai 7 juta bph pada kapasitas maksimal.

2. Kilang Jubail (SATORP)

Fasilitas petrokimia dan kilang minyak hasil kerja sama antara Saudi Aramco dan TotalEnergies ini mengalami gangguan operasional. Kilang ini memiliki kapasitas pengolahan sekitar 465.000 bph minyak mentah jenis Arabian Heavy.

Baca Juga: Melania Trump Bantah Keterkaitan dengan Epstein, Minta Akhiri “Kebohongan”

3. Kilang Ras Tanura

Sebagai kilang tertua dan terbesar di Arab Saudi, fasilitas milik Saudi Aramco ini terdampak gangguan operasional, sehingga ekspor produk olahan ikut terganggu. Kapasitas distilasinya mencapai 550.000 bph.

4. Kilang Yanbu (SAMREF)

Kilang patungan antara Saudi Aramco dan ExxonMobil ini juga mengalami gangguan. Fasilitas di pesisir Laut Merah tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 400.000 bph.

5. Kilang Riyadh

Fasilitas domestik milik penuh Saudi Aramco di ibu kota mengalami gangguan operasional, berdampak pada pasokan dalam negeri dan ekspor. Kapasitasnya sekitar 126.000 bph.

Baca Juga: Apple Tutup Toko Serikat Pekerja Pertamanya di AS, Picu Kontroversi

6. Ladang Minyak Manifa

Ladang minyak lepas pantai besar ini mengalami penurunan produksi sekitar 300.000 bph. Manifa memiliki kapasitas hingga 900.000 bph dan menjadi pemasok utama ke beberapa kilang besar seperti SATORP dan Jazan.

7. Ladang Minyak Khurais

Ladang minyak darat utama milik Saudi Aramco ini juga mengalami penurunan produksi sekitar 300.000 bph. Khurais memiliki kapasitas produksi sekitar 1,5 juta bph untuk minyak jenis Arabian Light.

Baca Juga: Fitch Pangkas Peringkat FS KKR Capital ke Kategori Sampah, Ini Penyebabnya

8. Terminal Gas Ju’aymah

Terminal ekspor LPG dan cairan gas alam (NGL) terbesar di dunia ini dilaporkan mengalami kebakaran. Gangguan ini berdampak pada ekspor LPG, yang rata-rata mencapai 450.000 ton per bulan pada 2025.

9. Sektor Kelistrikan

Fasilitas pembangkit listrik di Riyadh, Provinsi Timur, dan Yanbu juga mengalami gangguan operasional, meskipun belum ada rincian kapasitas yang terdampak.

Serangkaian serangan ini menegaskan eskalasi risiko terhadap infrastruktur energi global, sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.