Fasilitas Fraksionasi Plasma RI Raih Social Infrastructure Deal APAC IJGlobal 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya Indonesia dalam memperkuat kedaulatan kesehatan nasional mendapat pengakuan internasional. Proyek fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia resmi meraih penghargaan Social Infrastructure Deal of the Year, APAC pada ajang IJGlobal Awards 2025.

Fasilitas yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat ini dikembangkan melalui kemitraan strategis antara Indonesia Investment Authority (INA) dengan SK Plasma dari Korea Selatan. Proyek tersebut dijalankan oleh perusahaan patungan (joint venture) keduanya, yakni PT SKPlasma Core Indonesia.

Penghargaan internasional ini diberikan berdasarkan hasil evaluasi ketat oleh panel independen yang menyoroti aspek inovasi, dampak strategis, serta efektivitas eksekusi proyek di lapangan. Kehadiran fasilitas fraksionasi plasma ini dinilai memiliki peran krusial bagi ketahanan kesehatan nasional, terutama dalam memangkas ketergantungan Indonesia terhadap impor Produk Obat Derivat Plasma (PODP).


Sebagai fasilitas pertama di dalam negeri dengan skala terbesar di kawasan Asia Tenggara, proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam pengembangan industri biofarmasi nasional. Melalui kemandirian produksi tersebut, obat-obatan esensial seperti albumin dan imunoglobulin nantinya dapat diakses secara lebih andal dan terjangkau oleh masyarakat luas.

Setelah beroperasi, fasilitas ini akan memungkinkan pemrosesan plasma darah domestik menjadi terapi penyelamat jiwa. "Selama ini Indonesia sangat bergantung pada impor untuk obat-obatan penting berbasis plasma. Melalui proyek ini, produksi dalam negeri akan terealisasi," ujar Hyunho (Ted) Roh, Presiden Direktur SK Plasma Core Indonesia.

Kontan - Indonesia Investment Authority (INA) Kilas Online
© Foto oleh Indonesia Investment Authority
Eddy Porwanto, Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur INA, menambahkan bahwa pengakuan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam menjawab kebutuhan kesehatan jangka panjang. “Proyek fraksionasi plasma ini menunjukkan bagaimana kemitraan dapat menerjemahkan kebutuhan tersebut ke dalam solusi yang layak secara investasi dan dapat dieksekusi, sekaligus memperkuat kapabilitas layanan kesehatan secara berkelanjutan,” tuturnya.

Sejak investasi awal diumumkan pada Desember 2024, proyek fasilitas fraksionasi plasma ini terus mencatat berbagai tonggak perkembangan yang signifikan. Pembangunan fasilitas fisik di dalam negeri saat ini tengah berjalan dengan target operasional yang ditetapkan mulai tahun 2027.

Dari sisi finansial, keberlanjutan pengembangan dan kesiapan operasional fasilitas ini telah diperkuat melalui sokongan pendanaan yang solid. Proyek tersebut berhasil mengantongi fasilitas pinjaman sindikasi senilai IDR 3,7 triliun. Adapun konsorsium perbankan yang memberikan dukungan ini dipimpin oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk, yang bersinergi bersama PT Bank Mega Tbk.

Yogi Bima Sakti, Chief Wholesale dan Treasury Allo Bank, menyatakan bahwa keterlibatan mereka merupakan perwujudan komitmen dalam memperkuat kedaulatan kesehatan melalui pembiayaan infrastruktur sosial yang inovatif.

Melalui pembangunan ini, PT SKPlasma Core Indonesia juga menargetkan adanya transfer teknologi serta penciptaan lapangan kerja terampil di sektor manufaktur biofarmasi nasional. Proyek ini menjadi preseden bagi pendekatan kolaboratif antara investasi institusional global dan lembaga keuangan domestik dalam memperkuat infrastruktur kesehatan di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News