Fenomena Baru Kripto: Institusi Borong BTC Saat Anjlok, Ritel Cari Pendapatan Pasif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.   Tren investasi aset kripto global menunjukkan dua arah yang mulai berjalan beriringan. Yakni akumulasi oleh institusi besar dan pergeseran strategi investor menuju pendapatan yang lebih stabil.

Di satu sisi, pelaku institusi masih melihat kripto sebagai aset lindung nilai jangka panjang. Di sisi lain, investor mulai mencari cara agar aset digital dapat menghasilkan imbal hasil secara konsisten di tengah volatilitas pasar.

Sejalan tren tersebut, perusahaan investasi global, Strategy kembali menambah kepemilikan aset kripto dengan membeli 34.000 bitcoin (BTC) pekan ini. Langkah tersebut menjadi salah satu akumulasi terbesar sejak November 2024 dan mencerminkan kepercayaan jangka panjang institusi terhadap Bitcoin sebagai aset treasury.


Dengan tambahan ini, total kepemilikan Strategy mencapai sekitar 815.061 BTC, menjadikannya sebagai pemegang Bitcoin korporat terbesar saat ini. Nilai pembelian diperkirakan mencapai US$ 2,54 miliar dengan harga rata-rata sekitar US$ 74.395 per bitcoin.

Langkah akumulasi ini tetap dilakukan meskipun pasar kripto masih mengalami volatilitas, memperkuat posisi Bitcoin sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang di kalangan institusi.

Di tengah tren akumulasi tersebut, muncul perubahan pendekatan di kalangan investor. Jika sebelumnya fokus utama adalah potensi kenaikan harga, kini sebagian pelaku pasar mulai mempertimbangkan bagaimana aset digital dapat menghasilkan pendapatan secara lebih konsisten.

Menurut pengamat kripto Indonesia, Isybel Harto, peneliti dan pengembang proyek Web3 dari Chainbase.id, perubahan ini mencerminkan fase baru dalam perkembangan pasar kripto.

“Institusi besar seperti Strategy masih fokus pada akumulasi sebagai store of value. Namun di level investor, mulai terlihat pergeseran ke arah income generation. Mereka tidak hanya ingin memegang aset, juga ingin aset tersebut produktif,” ujarnya, dalam keterangan, Selasa (28/4).

Baca Juga: Ditopang Sentimen Global, Reli Kripto Berpotensi Berlanjut Bertahap

Ia menambahkan, volatilitas yang tinggi beberapa tahun terakhir membuat investor semakin selektif dalam menentukan strategi.  “Investor sekarang lebih rasional. Mereka mulai mempertimbangkan stabilitas dan keberlanjutan, bukan hanya mengejar momentum harga. Tapi perlu dipahami juga, setiap model tetap memiliki risiko dan trade-off,” lanjutnya.

Seiring perubahan tersebut, muncul sejumlah platform yang menawarkan pendekatan berbasis pendapatan terstruktur. Salah satunya adalah Varntix, yang menargetkan aset kelolaan (AUM) sebesar US$1 miliar pada 2027.

Berbeda dengan pendekatan spekulatif, model ini mengalokasikan dana ke berbagai strategi aset digital untuk menghasilkan imbal hasil yang lebih dapat diprediksi.

Pendekatan tersebut menempatkan platform seperti Varntix di antara dua fungsi utama aset kripto, yakni sebagai penyimpan nilai (store of value) dan sebagai sumber pendapatan (income generation).

Dalam implementasinya, terdapat dua jenis produk utama, yakni skema dengan imbal hasil tetap dalam periode tertentu serta opsi fleksibel yang tetap memberikan hasil meskipun dana dapat ditarik sewaktu-waktu.

Namun pendekatan ini juga memiliki tantangan. Seperti kebutuhan penguncian dana pada produk tertentu serta ketergantungan pada strategi pengelolaan aset yang dijalankan oleh platform.

Minat terhadap model pendapatan terstruktur terlihat dari tingginya partisipasi investor dalam beberapa program yang ditawarkan platform serupa. Dalam salah satu kasus, penghimpunan dana mencapai sekitar US$20 juta dalam waktu singkat dari investor bernilai tinggi.

Fenomena ini mencerminkan kecenderungan investor yang mulai mencari alternatif terhadap fluktuasi tajam di pasar kripto. Dengan preferensi pada imbal hasil yang lebih stabil dan dapat diprediksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News