KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fenomena imbal hasil (yield) instrumen jangka pendek yang lebih tinggi dibandingkan obligasi tenor panjang masih membayangi pasar surat utang domestik. Kondisi ini tercermin dari yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan yang berada di level 7,74% per 19 Juni 2026. Ini lebih tinggi dibandingkan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang berada di kisaran 7,22% pada Selasa (23/6/2026). Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan kondisi tersebut mencerminkan kurva imbal hasil (yield curve) yang terbalik atau
inverted yield curve. Menurut Josua, kondisi tersebut sebenarnya tidak ideal apabila berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Baca Juga: IHSG Tertekan Menjelang MSCI Review, Saham Bank Ini Masih Jadi Pilihan Menarik Namun, Josua masih berpandangan kalau fenomena ini bukan semata-mata anomali pasar, melainkan merupakan konsekuensi dari strategi kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “Ini hasil dari strategi kebijakan BI untuk menahan tekanan rupiah melalui instrumen jangka pendek yang sangat menarik bagi investor asing,” ujar Josua kepada Kontan, Selasa (23/6/2026). Masalahnya, ketika SRBI memberi imbal hasil lebih tinggi, dengan tenor jauh lebih pendek, dan risiko harga lebih rendah daripada SBN 10 tahun, sebagian investor tentu lebih memilih SRBI. Data APBN Kita menunjukkan fenomena tersebut. Sepanjang 2026 hingga awal Juni, SRBI mencatat aliran dana masuk (capital inflow) sebesar Rp 99,9 triliun. Sebaliknya, pasar SBN masih mencatat arus keluar (capital outflow) secara kumulatif sebesar Rp 10,8 triliun. Meski demikian, Josua menegaskan bahwa SRBI dan SBN tidak sepenuhnya saling menggantikan. SBN tetap memiliki peran penting bagi investor institusional yang membutuhkan instrumen investasi jangka panjang. Josua berpandangan dana pensiun, perusahaan asuransi, reksa dana, perbankan, hingga investor jangka panjang masih membutuhkan SBN karena menawarkan tenor yang lebih panjang, menjadi acuan harga pasar, serta memiliki potensi capital gain ketika suku bunga mulai turun.
Baca Juga: RANS Entertainment Siap IPO, Tawarkan 20% Saham dengan Target Dana Rp429 Miliar "Yang perlu dijaga adalah agar SRBI tidak terlalu lama menjadi magnet utama arus modal," tandasnya. Secara teori, Josua menilai yield SBN tenor 10 tahun seharusnya memberikan premi tambahan sekitar 50 hingga 100 bps di atas imbal hasil SRBI tenor 12 bulan sebagai kompensasi atas risiko tenor yang lebih panjang.
Dengan yield SRBI 12 bulan saat ini sebesar 7,74%, maka yield SBN 10 tahun idealnya berada di atas level 8% apabila normalisasi kurva dilakukan melalui kenaikan yield SBN. Namun, skenario tersebut dinilai tidak ideal karena akan meningkatkan biaya utang pemerintah. Oleh karena itu, Josua melihat jalan yang lebih sehat untuk menormalkan kurva imbal hasil adalah melalui penurunan bertahap yield SRBI ketika kondisi rupiah mulai stabil. "Dengan demikian, jalan yang lebih sehat adalah menurunkan imbal hasil SRBI secara bertahap ketika rupiah stabil, sehingga SBN 10 tahun bisa tetap di sekitar 7,1%–7,4% tetapi kembali terlihat menarik secara relatif," jelasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News