KONTAN.CO.ID - Pergerakan pasar investasi global menunjukkan perbedaan arah yang mencolok pada awal tahun 2026. Di saat harga emas dunia dan perak melonjak hingga mencetak rekor tertinggi baru, Bitcoin (BTC) justru cenderung bergerak stagnan dan bahkan mengalami tekanan di bawah level psikologis US$ 89.000 atau setara Rp 1,50 miliar (asumsi kurs Rp 16.906 per US$). Berdasarkan data pasar yang dikutip dari CoinDesk, Bitcoin terpantau merosot sekitar 5% dalam sehari di tengah aksi hindar risiko (risk-off) investor global. Kondisi ini dipicu oleh aksi jual di pasar obligasi Jepang serta ancaman tarif dagang Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas. Di sisi lain, harga emas fisik di pasar domestik terus merangkak naik mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap aset aman (safe haven).
Bitcoin dan Fase Kematangan Pasar
Menurut Bekhazi, perilaku perdagangan Bitcoin saat ini telah bergeser dari aset spekulatif yang sangat fluktuatif menjadi aset yang lebih stabil, serupa dengan perilaku saham perusahaan besar setelah melantai di bursa atau pasca-Initial Public Offering (IPO). Masuknya dana besar melalui ETF (Exchange-Traded Funds), lindung nilai di pasar berjangka, serta simpanan kas perusahaan telah meredam gejolak harga Bitcoin secara signifikan. "Kita sudah melewati fase awal Bitcoin yang biasanya memberikan keuntungan luar biasa dalam waktu singkat," ujar Bekhazi, dikutip dari CoinDesk. Ia menambahkan bahwa fokus investor besar saat ini lebih kepada stabilitas, kemudahan transaksi, dan pengelolaan risiko dibandingkan sekadar mencari keuntungan besar secara instan. Dengan masuknya instrumen investasi yang resmi, pasokan Bitcoin semakin banyak diserap untuk portofolio jangka panjang, yang pada gilirannya membuat pergerakan harga tidak lagi meledak-ledak seperti tahun-tahun sebelumnya.Emas Sebagai Pilihan Utama Saat Krisis
Berbeda dengan Bitcoin yang terlihat tenang, harga logam mulia justru terus menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Hal ini didorong oleh laporan perkiraan dari lembaga emas dunia (LBMA) tahun 2026 yang menunjukkan sentimen paling optimistis dalam satu abad terakhir. Dikutip dari CoinDesk, para analis memproyeksikan rata-rata harga emas dapat naik hingga 40% dibandingkan tahun 2025. Bekhazi menjelaskan bahwa perpindahan dana dari Bitcoin ke emas adalah hal yang wajar ketika tekanan ekonomi global meningkat. Berikut adalah beberapa alasan mengapa emas tetap unggul dalam kondisi ketidakpastian saat ini:- Aset Penyelamat Utama: Emas tetap menjadi pilihan pertama bagi pemerintah dan bank sentral dunia yang memiliki aturan investasi sangat ketat.
- Kapasitas Dana Besar: Institusi besar sering kali belum bisa memindahkan dana dalam jumlah raksasa ke Bitcoin secara cepat karena kendala aturan, sehingga emas menjadi pilihan yang lebih praktis.
- Ketegangan Politik Dunia: Isu perang dagang dan ancaman tarif global mendorong investor kembali ke aset fisik yang sudah teruji selama ribuan tahun sebagai penyimpan kekayaan.
Tantangan Bagi Masa Depan Bitcoin
Meski optimistis, Bekhazi memberikan catatan mengenai hal-hal yang dapat merusak citra Bitcoin sebagai "emas digital". Ia menekankan bahwa kepercayaan investor besar akan diuji melalui beberapa indikator berikut:- Arus Penarikan Dana di ETF: Jika terjadi aksi jual besar-besaran pada instrumen ETF saat harga terkoreksi, ini menjadi sinyal bahwa investor institusi belum memiliki komitmen jangka panjang.
- Aktivitas Jaringan yang Lesu: Kenaikan harga yang tidak dibarengi dengan penggunaan transaksi nyata di jaringan blockchain menandakan pertumbuhan tersebut hanya didorong oleh spekulasi semata.
- Ketergantungan pada Saham Teknologi: Bitcoin akan gagal dianggap sebagai emas digital jika harganya terus bergerak mengikuti naik-turunnya saham-saham teknologi yang berisiko tinggi.