Festival Belanja Singles' Day di China Tahun Ini Tak Semeriah Biasanya



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, acara belanja tahunan Singles' Day di China tampaknya tak akan meraup untung banyak seperti yang terjadi pada biasanya.

Festival belanja Single’s Day yang diselenggarakan beberapa pekan merupakan barometer utama permintaan ritel China. Pembatasan ketat Covid-19 yang terjadi di China dan ekonomi yang melambat tajam bakal memberi dampak signifikan terhadap penurunan permintaan.

Alibaba Group Holding dan perusahaan e-commerce China lainnya yang mengadakan acara belanja Singles Day bersama-sama mencatat penurunan penjualan 4,7% untuk paruh pertama hari terakhir, kata sebuah perusahaan riset Syntun mengutip dari Reuters, Jumat (11/11).


Perusahaan tersebut memperkirakan gabungan dari penjualan selama hari terakhir Single’s Day baru senilai 223 miliar yuan atau setara US$ 31 miliar untuk periode waktu 12 jam. Namun, tak disebutkan rincian dari masing-masing perusahaan e-commerce.

Baca Juga: Vestas: Janji Energi Terbarukan Selalu Murah Adalah Salah Besar

Di sisi lain, Alibaba juga tidak mengadakan pertunjukan gala seperti biasanya dan para analis memperkirakan pertumbuhan penjualan yang datar atau hanya sedikit untuk raksasa e-commerce itu.

Alibaba dua tahun lalu juga menghapus praktik sering memberikan pembaruan nilai barang dagangan kotor di seluruh platformnya. Alibaba juga masih diharapkan untuk mempublikasikan angka akhir setelah acara berakhir pada hari Jumat.

Analis Citi mengatakan minggu ini mereka secara konservatif memperkirakan nilai barang dagangan bruto (GMV) Alibaba untuk acara tersebut berkisar antara 545 miliar yuan dan 560 miliar yuan setara US$ 75 hingga US$ 77 miliar, pertumbuhan 0,9% hingga 3,6%.

Sementara itu, penurunan animo festival belanja ini dikarenakan minimnya influencer dalam program belanja streaming. Tahun lalu, peran influencer cukup besar mengingat ada Viya yang terkenal di China dan berhasil menjual sekitar US$ 1 miliar pada festival ini.

Belanja streaming langsung telah menjadi bagian dari kehidupan rutin jutaan konsumen. Namun pertumbuhannya bertabrakan dengan dorongan pemerintah untuk membentuk budaya Tiongkok dan mengendalikan pengaruh selebriti. 

Baca Juga: Pengawas Nuklir PBB Meningkatkan Perhatiannya Pada Rudal Super Baru Milik Iran

Sekitar tiga perempat konsumen mengatakan mereka akan menonton streaming langsung atau membeli barang melalui saluran penjualan tahun ini, turun dari 97% tahun lalu, firma konsultan AlixPartners melaporkan dari survei terhadap sekitar 2.000 orang di China.

Beberapa pembeli mengatakan bahwa berita negatif yang berkaitan dengan pembawa acara siaran telah membuat mereka kurang terlibat.

Editor: Tendi Mahadi