FIF lirik pembiayaan UMKM



JAKARTA. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan yang baru diterbitkan bulan lalu sepertinya memang membawa angin segar bagi pelaku usaha pembiayaan. Salah satunya adalah PT Federal International Finance alias FIF yang mulai melirik opsi pembiayaan lain.

Mulai dari pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah, pendidikan, hingga lini bisnis ke kendaraan roda empat. Saat ini, pendapatan FIF terbesar berasal dari pembiayaan sepeda motor baru, yakni 82%.

Sisanya disumbangkan oleh pembiayaan motor bekas dan elektronik. Menjelang pergantian tahun ini, FIF mulai menganalisa berbagai peluang yang ada. Pembiayaan UMKM misalnya.


Suhartono, Direktur Utama perseroan menerangkan bahwa pihaknya masih mempertimbangkan berbagai opsi untuk wacana pembiayaan UMKM, apakah akan dijalankan secara bisnis atau digabungkan dengan program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

Jika pembiayaan UMKM tersebut resmi dimulai melalui program CSR, lanjutnya, tentu ada perbedaan struktural dalam menjalankannya jika dibandingkan dengan pembiayaan lain. “Ide ini lagi proses mengerucut. Kalau sekarang motor kan bisnis, kita coba relationship, kaitan ada bisnis dan CSR. Misalnya Rp 50 juta, CSR-nya Rp 20 juta,” ujarnya kala ditemui saat menghadiri seminar internasional yang diadakan pihak Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Selasa (9/12).

Masih banyaknya para pengusaha mikro yang belum memiliki tempat berjualan yang layak meskipun telah bekerja bertahun-tahun menjadi alasan FIF melirik kesempatan tersebut. Kalau berhasil direalisasikan, Suhartono menuturkan bahwa pihaknya akan membantu para pelaku usaha tersebut dalam beberapa aspek.

“Masuk multi guna, warung yang tadinya tenda bertahun-tahun terus jadi kios, ini kan kesempatan buat FIF. Kita membantu dari segi arsitek bangunan, mencarikan kontraktor, dari belakang dengan manajemen keuangan,” jelasnya.

Terkait besaran bunga, Suhartono mengaku belum menentukan kisaran bunga pembiayaan yang akan dikenakan ke nasabah UMKM tersebut karena struktur bisnis yang belum jelas. Akan tetapi, serupa dengan lini bisnis FIF lainnya, pembiayaan UMKM tersebut akan menyasar pasar ritel dan kalangan menengah ke bawah. Hal ini dikarenakan sejak dulu perseroan memang memiliki kompetensi di bidang keuangan mikro.

Meskipun pergantian tahun sudah dekat, Suhartono mengaku belum memiliki harapan muluk-muluk. Hingga saat ini, FIF belum menargetkan pencapaian tahap awal pembiayaan UMKM. Melirik pembiayaan lini bisnis yang menyasar kalangan masyarakat bawah tentu merupakan tindakan berani.

Banyak multifinance yang enggan menggarap ceruk tersebut karena khawatir akan resiko kredit bermasalah yang berpotensi terkerek. “Tidak takut macet, karena kita sudah punya pengalaman di ritel bisnis,” pungkasnya.

Jika berhasil direalisasikan, sambung Suhartono, pembiayaan UMKM paling cepat akan dimulai pada pertengahan tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto